Puisi-Puisi Ac. Wahib: Cerobong Asap, Asap-Asap Pekat

1
Asap-asap pekat
Ilustrasi gambar karya Qoida Nor

tubanjogja.org – Asap-Asap Pekat

Oleh: Ac. Wahib

Cerobong

pada mulanya, asap pekat merayap-rayap di langit
lamat-lamat terdengar burung-burung sekarat
hijau daun, daun hijau memucat
tangisan alam mengangkasa seiring udara yang lumat

asap-asap pekat

dan jernih air sungai telah menjelma raut wajah buruh
keruh bersimpuh keringat

pada mulanya asap pekat

lalu
keringat yang bercucuran itu,
redam oleh pekikan tangis orang-orang melarat

asap-asap semakin pekat, membumbung tinggi
menutupi mimpi-mimpi.

Tuban, 2017

(Baca juga: Puisi-Puisi Zam’sta: Mata Rindu)

Serkel

Bersama hembusan angin
Angan tersapu rindu
Pohon pohon berbaris rapi
Telah mati diterkam sunyi
Deretan batuan kapur tersungkur
Menyisakan lubang lubang
Luka.
Hampa serupa gumpalan keringat kuli batu
Bercucuran membasah
Upah rupiah telah menghapus jejak sejarah

Tuban, 2017

(Baca juga: Kumpulan Puisi C. Shalom; Memoar ’17)

Pasar tradisional

(I)

Terjepit diantara pasar modern
Menjelma kesunyian
Tertinggal oleh zaman

Langkah tua renta menyapa
Menjaja barang-barang, kebutuhan rumah tangga
Mengisi hari tua, semakin senja

Kemudian, kulihat;
Pasar tradisional roboh
Oleh kekuasaan modal
Pasar tradidional porak poranda
Ditikam berderet pertokoan

(II)

Hiruk pikuk langkah kaki manusia bungkuk
Menggendong resah dilorong lorong
Bersanggul, memanggul
Hasil laut pantura tak seberapa

Berjejer lapak lapak sayur membaur
Ikan ikan segar menjalar
Hasil bumi wali
Bumi yang sebentar lagi
Tiada asing berselimut pabrik pabrik

Tuban, 2017.

(Baca juga: Puisi-Puisi Naide Emra; Tahun Baru pada Masa-Masa yang Menua)

*Ac. Wahib, nyantri di PP. Asshomadyah dan aktif di sanggar Seniman Ronggolawe (SEMPROL) Tuban.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here