Tinggalkan saja Tugas Sekolahmu!

0
45
Tugas? Tinggalkan saja!
Ilustrasi dipinjam dari hipwee.com

Tugas – Dua hari kemarin aku duduk sendiri. Ditemani kursi-kursi kosong. Beberapa saat kemudian, dua teman datang. Mereka berwajah sendu. Punggungnya dihiasi tas yang sepertinya berat. Setibanya, mereka membuka laptop. Aku mencoba untuk memulai obrolan.

“Kok kalian tampak bajingan sekali bingungnya?”

“Haha …” mereka tertawa. “Biasa kak, tugas ujian. Bayangkan, untuk menuju UAS kita diharuskan mengerjakan paper minimal dua puluh halaman. Terus, setelah bisa UAS, taukah kau, apa soalnya? Membuat paper lagi. Dua puluh halaman lagi panjangnya.”

“Dan kalian mau? Kasian sekali.”

Itu dua hari yang lalu. Pas satu harus kemarin ini, ada lagi di pojokan warung kopi kudapati wajah yang tak asing. Ah, itu temanku lagi. Tapi beda orang. Kuamati dari jauh, dia tampak lelah sekali hidungnya. Selama dia di situ, aku sengaja tidak menyapanya, sampai akhirnya ketika mau pulang dia menyapaku. Niatnya pamit. Sesaat sebelum beranjak, kucoba genit.

“Tugas UAS ya?”

“Kekekeke …” dia cuma nyengir. Sudah bisa kutebak.

Akhirnya, aku pun berpikir. Ada apa dengan mereka ya. Apakah memang harus mengorbankan kebahagiaan demi tugas sekolah ya. Ataukah sebetulnya benar bahwa tugas tidak tercipta untuk apa pun kecuali pencuri kebahagiaan manusia.

Baca juga: Pendidikan untuk Kidz Zaman Now

Eh, sebentar. Jangan-jangan sebaliknya. Jangan-jangan yang bermasalah kitanya. Manusia. Pertanyaannya sederhana, mengapa kita kok mau saja dikerjain sama tugas? Bukankah secara historis ia ada demi membantu manusia untuk menjadi berkembang? Bagaimana jika rupanya yang nyata malah sebaliknya. Malah tugas menghambat perkembangan manusia. Hayo.

Siang sudah mulai menghilang. Hujan turun. Seminggu ini memang dia istikamah dan sepertinya berniat untuk menggantikan senja. Mungkin juga senja yang meminta dirinya digantikan. Ya siapa coba yang tidak bosan melulu dipuja oleh makhluk bernama manusia. Dan rupanya, sikap senja yang sok pahlawan itu mengingatkanku pada satu hal tentang manusia dan tugas.

Apa itu? Ilmu yang bermanfaat. Praksis ilmu bahasa filsafat keilmuannya atau aksiologi jika ingin lebih purba. Aku sekonyong curiga jika apa yang kita lakukan selama ini terhadap tugas, perjuangan sampai tidak bobok hingga pagi, pengorbanan dengan mencetaknya plus kover, dan sebagainya adalah manifestasi dari semangat mengamalkan ilmu.

Baca juga: Mulia Karena Ilmu?

Dengan ungkapan lain, tidak menutup kemungkinan, mereka demikian karena baginya tugas adalah wahana untuk mengamalkan ilmu. Apa yang dipelajari selama ribuan jam, tutur mereka, harus dipraktikkan. Harus diamalkan. Jangan sampai ia hilang dan menguap begitu saja tanpa jejak seperti uap para dosen yang malas di pagi hari. Dan secara bersamaan, inilah peran tugas. Ini pulalah yang menjadikan mereka berani mempertaruhkan kebahagiaan mereka. Demi ilmu yang bermanfaat.

Bukankah itu kabar baik? Iya, selama yang bersangkutan menyelesaikannya dengan wajah yang sumringah dan tidak lupa untuk meluangkan waktunya demi liyan. Namun, apakah yang terjadi di lapangan demikian? Aku ragu untuk menjawab iya. Jangankan untuk masih ingat tetangga kelas yang membutuhkan dan lebih kesusahan dibanding kita, untuk sekadar tersenyum sehat nang bebas ketika proses mengerjakan saja, aku yakin kita masih kesusahan.

Akhir “Ilmu yang Bermanfaat”  

Aku lebih suka menyebut fenomena ini sebagai bentuk reduksi—untuk tidak menyebut palsu—dari wujud konkret “ilmu bermanfaat” atau praksis keilmuan (anggap saja yang melandasi mereka berlaku begitu adalah nilai al-ilm al-nafi’). Apa pasal? Karena, dimungkiri atau tidak, kita hari ini terlalu sibuk mengumpulkan ilmu sampai lupa untuk mengamalkannya secara betulan. Mungkin terlalu berat, sehingga kita membutuhkan alibi supaya masih bisa disebut sebagai “seseorang yang ilmunya bermanfaat”.

Iya, aku pikir akan lebih pas untuk melihat fenemona di muka sebagai alibi. Kita tidak ingin dianggap sebagai manusia yang ilmunya tidak bermanfaat. Walhasil, dikaranglah satu nilai yang dengannya kita bisa secara mudah menjadi manusia dengan ilmu yang bermanfaat. Dan trala … lahirlah “tugas sekolah” sebagai upacara harian yang sakral.

Baca juga: Konspirasi Tuhan dan Iblis

Apa buktinya kita kerap lupa untuk mengamalkan ilmu secara betulan? Kemauan kita secara sadar untuk dipekerjakan oleh “tugas”. Bukannya dalam banyak kelas kita sering mendengar bahwa tugas hanyalah sebagai medium untuk membantu manusia? Medium yang tentu saja posisinya berada di bawah? Lantas, kenapa kita meletakkannya di atas dan kemudian memberinya otoritas untuk mengontrol? Mengontrol kebahagiaan kita? Mengontrol relasi kita dengan teman? Beberapa pertanyaan inilah yang membuat hatiku berlubang saat menyebut kalau kita selama ini telah mengamalkan ilmu secara betulan.

Solusinya? Ya tinggalkan aja tugas kuliahmu. Terkadang kita penting untuk serius belajar hingga lupa pergi ke sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here