tubanjogja.org – Kulon progo

Oleh: Aliansi Solidaritas Tolak NYIA

Di penghujung tahun 2017 lalu, kita sering mendengar kabar terkait pro dan kontra pembangunan bandara internasional Kulonprogo atau New Yogyakarta Airport (NYIA). Apa yang menyebabkan pembangunan bandara NYIA yang mulai dirancang pada tahun 2011 ini mengalami penolakan dari berbagai pihak? Apakah benar masyarakat Yogyakarta khususnya membutuhkan bandara baru? Lalu, apa sebenarnya terjadi di lokasi pembangunan bandara tersebut ?.

Sebelumnya yang harus kawan-kawan ketahui bahwasanya mega proyek yang diprakarsai oleh pemerintah indonesia yang diwakili oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT. Angkasa Pura 1, dan bekerjasama dengan investor Asing asal India (GVK Power dan Infrastuktur) ini akan merampas ruang hidup petani dan lahan produktif seluas 2000 hektar yang mencangkup 6 desa dengan jumlah keseluruhan masyarakat terdampak berjumlah 11.501 jiwa. Selain itu, NYIA juga menghilangkan 60 TON gambas per hektar/tahun, 180 TON Melon per hektar /tahun, 90 TON Semangka per hektar/tahun, 90 TON melon per hektar/tahun, 30 TON Cabai per hektar/tahun. Kerakusan tidak sampai disitu, NYIA juga akan mencaplok gumuk pasir di kawasan pesisir Kulon progo yang merupakan 1 benteng terhadap tsunami.

Bergandeng dengan meruaknya kabar proses pembangunan bandara yang tidak mengantongi ijin AMDAL (Analisis Dampak lingkungan ) ini, meruak juga pernyataan-pernyataan lancing tanpa data yang keluar dari orang -orang yang bahkan tidak ada dilokasi seperti, “Mereka itu padahal sudah dapat relokasi rumah, sudah dapat uang ganti rugi yang besar , rumah mereka tidak bersertifikat”, serta argumen – argumen omong kosong lainnya yang intinya mereka beranggapan bahwa perjuangan masyarakat yang tetap bertahan hanya perkara hal material. Padahal hal itu tidak benar adanya, karena tiap rumah maupun tanah yang dimiliki masyarakat sudah bersertifikat kepemilikan pribadi, dan hal-hal material tersebut tidak pernah di pikirkan oleh masyarakat yang masih mempertahankan ruang hidupnya. “ini kan tanah kami, tanah leluhur kami, hak kami, ya kami gak mau jual, kami mau tetap tinggal disini, bertani.”

Artikel Terkait : Ironi Negeri Agraris: Meneropong Masa Depan Petani Indonesia

Seiring berjalannya pasang surut perjuangan, hingga saat ini masih ada 37 rumah yang konsisten bertahan dengan lantang melawan perampasan ruang hidup mereka walaupun, kerap kali mereka mendapatkan berbagai intimidasi dari pihak Angkasa Pura 1, aparatur keamanan, Ormas pro bandara, warga pro bandara, bahkan sampai preman. Contohnya, pada tanggal 27 November 2017 terjadi kriminalisasi yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh PT. Angkasa Pura 1, 400 aparat gabungan, pihak PLN, dan preman. Mereka melakukan pemaksaan terhadap warga untuk menandatangani persetujuan konsinyasi. Namun warga menolak dan akhirnya terjadi pencongkelan pintu dan jendela rumah warga yang dilakukan oleh aparat, pengrusakan lahan, pengrusakan masjid, pemutusan akses jalan, hingga pemutusan listrik yang dilakukan oleh pihak PLN.

Artikel Terkait : Darurat Agraria, Rakyat Jogja Menggugat

Kejadian diatas lah yang akhirnya menghantarkan ratusan relawan solidaritas berbondong-bondong datang ke lokasi, hingga akhirnya pada tanggal 5 Desember 2017, terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan aparat gabungan dan tentu saja atas boncengan PT. Angkasa Pura. Sekitar pukul 09.15 aparat gabungan mendatangi masjid Al-Hidayah dan langsung melakukan tindakan represif terhadap warga dan kawan-kawan relawan. Warga dan relawan diperlakukan layaknya binatang oleh aparat negara yang seharusnya mengamankan, mengayomi, dan melindungi rakyat.hingga akhirnya sedikitnya 2 orang warga luka-luka akibat penyerangan tersebut bahkan salah satu warga diseret dari dalam rumahnya ke halaman rumah lalu dipukuli, para relawan yang berniat membantu warga malah jadi bulan-bulanan aparat juga hingga akhirnya 12 orang Mahasiswa tertangkap pada pagi hari dan disusul 3 orang lagi pada sore harinya, dan sekurang-kurangnya 30 orang relawan mengalami luka-luka akibat pemukulan yang dilakukan oleh aparat.

Artikel Terkait : Tri Haryono: Petani Indonesia Jauh Dari Sejahtera

Lalu bagaimana kondisi saat ini? Semenjak pencabutan listrik oleh pihak PLN, saat ini masyarakat hidup dengan alat bantu penerangan berupa genset yang hanya bisa beroperasi 7 jam saja dalam sehari. Selain itu masyarakat juga mengalami permasalahan ekonomi lantaran lahan pertanian yang dijadikan sandaran hidupnya telah dirusak dan dihancurkan. Mereka hanya bergantung pada bantuan dari relawan dan tabungan secukupnya sebagai tumpuan ekonominya.

Artikel Terkait : Kiai Archam dan Jeritan Para Petani

Mari buka mata, hati, dan telinga kawan-kawan! Apa sekiranya hatimu tidak bergetar mendengar penindasan? Apa kawan-kawan hanya akan berdiam saja melihat kesewenang-wenangan para penindas? Jangan berfikir bahwa ini bukan urusan kalian! Ini menyangkut kita semua! Karena alam adalah sahabat kita yang paling setia, jadi jangan biarkan alam raya terus menerus diperkosa! Karena masyarakat Kulon Progo sejatinya sama seperti kita, sama-sama manusia yang memiliki hak untuk hidup tanpa belenggu penindasan! Dan karena Kulon Progo adalah kita! Mari turut bersolidaritas, Tolak NYIA, jangan biarkan alam murka!

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here