Sajak-Sajak Hafiz (Penyair Sufi Persia)

0
Sajak-sajak Hafiz
Ilustrasi gambar diambil dari https://www.quora.com/Who-is-the-best-Persian-poet

tubanjogja.org – Sajak-Sajak Hafiz

Oleh: Lev Widodo

Kupandang Burung Sepasang

Bersama, bisa sepasang mulut kita
meniup seruling yang kubawa ini
laguku pun jadi jauh lebih manis
karena napasmu, juga napasku
saling terhembus dari dada
saling mencium

Pagi ini, pada sebuah dahan
kupandang burung sepasang
tertawa bersama matahari
terbayang tentang kita
suatu hari nanti

Sayangku, selalulah eling
selalulah kenang Sang Cinta
sebentar lagi sarang kita
menjelma semesta cakrawala
lupakan seluruh nafsumu akan kebenaran
kita telah jauh melampauinya
sebab, sekarang hanyalah:
damba murni

Sepasang mulut kita dicipta buat bernyanyi
sepasang ruh kita ditakdirkan bersentuhan berciuman
pada seruling suci yang Tuhan bawa ini

Bila Malam Tak Terlampau Kelam

Bila malam tak terlampau kelam, pergilah jalan-jalan
Hirup udara segar. Dan cobalah tersenyum

Pengembara yang mencari rumah istirah,
layani dia dengan ucapan ramah
Curigalah selalu pada bisikan hatimu
Barangkali, di sepanjang jalan ini—seperti pengembara itu
kau pun sedang mencari yang sejati

Peluk pasanganmu, dekap kekasihmu
seperti pertama kali kalian bertemu
Biarkan kelembutan mengalir dari matamu
seperti matahari yang hangat menatap bumi

Bermainlah bersama anak-anak
Berikan dirimu buat sahabat
Buat binatang dan tanamanmu, nyanyikan sedikit lagu liar
Ah, kenapa kau tak biarkan mereka menenggak tuak lalu mabuk?

Tangga yang kita gunakan memanjat, mari jatuhkan
Lantas berbisiklah, “oh, dunia yang gila
aku mencintaimu, aku mencintaimu”
Mari berhenti menafsir gerak-gerik Tuhan
Kita tak akan pernah memahami-Nya

Bangkit, angkat kepalan tanganmu
Ingatkan dan ancam semesta:
Hatimu tak sanggup lagi
hidup tanpa cinta sejati

(Baca juga: Ada “Manusia” di Atap Masjid)

Sekarang Saatnya

Sekarang saatnya kau tahu
segala yang kau lakukan
kudus

Sekarang, mengapa kau tak timbang
Gencatan senjata selamanya
antara dirimu dan Tuhan

Sekarang saatnya kau paham
segala gagasan benar salah
hanyalah roda latih jalan bagi balita
harus disisihkan kala kau akhirnya
hidup dengan jujur dan cinta

Hafiz adalah lembaran Ilahi
tempat Kekasih menulis pesan suci.

Cintaku, ceritakan padaku
mengapa kau masih saja
menghantam godam pada hatimu dan Tuhan?
Yang merayumu takut
dalam manis suara batin
apa itu?

Sekarang saatnya dunia tahu
tiap pikiran dan tindakan
kudus

Inilah saatnya
kau hitung kemustahilan:
tiada apa pun selain
Kidung

Sekarang musimnya kau tahu
segala yang kau lakukan
kudus

Jangan Pernah Berkata, Itu bukan Dia

rasamu, itu pun rasaku
aku tahu jenis sajak yang jiwamu paling suka
aku tahu lagu yang bergema di hatimu
yang mengalirkan riang ke sekujur tubuh
sehingga kau pun melompat dan berputar girang

apapun yang menyentuh atau merasuki tubuhmu
jangan pernah berkata, itu bukan dia
percayalah, dia hanya hendak dekat denganmu

(aku tak terbiasa sabar — di mana pun bibirku selalu terbakar)

dari tiap penjuru bumi dan langit ini, berlari aku
karena rindu menciummu
tiap butir debu, tiap bulir padi, itulah aku
dari tubuh tunggalnya, kau dan aku berhulu

kugaduh pintumu dari luar
dan di udara aku pun menari
bagai sehelai daun emas yang gugur
yang mencoba meraih kerlingmu

sepanjang malam (walau kau lelap)
halus aku mengendap-endap
pada sisi dinding rumahmu
lalu melintas pelan di pantaimu

bernyanyi aku
dengan lidah binatang dan burung
demi janji dan ingin Kekasih:
supaya kau tahu Kebenaran

cintaku,
apapun yang menyentuh dan merasuki tubuhmu
jangan pernah berkata, itu bukan dia
percayalah, dia, juga aku
hanya hendak dekat denganmu

dia, juga aku
menghampiri dari tiap penjuru wujud
untuk bertutur: “kami adalah kau”

(Baca juga: Candrasengkala Tamansisiwa)

Sekelumit tentang Hafiz dan Cinta Metaforisnya

Terus terang, saya belum cukup kenal dengan penyair besar Persia ini. Hafiz adalah nama penanya. Nama kecilnya: Muhammad. Nama lengkapnya: Khwaja Shamsu al-Din Muhammad Hafiz al-Shirazy. Mengapa dia dipanggil Hafiz? Konon, dengan cara yang ajaib, sang sufi sejak kecil telah berhasil menghapal seluruh isi al-Quran. Dia lahir di Shiraz, Iran, pada 1315, lalu meninggal di kota yang sama pada 1390. Sajak-sajaknya yang digubah dalam bahasa Persia terkumpul dalam Divan e-Hafez.

Antologi ini rupanya sangat populer bukan saja di Iran, bahkan juga hingga di luar Iran. Dikatakan bahwa penduduk Muslim di wilayah Sind menyimpan tiga kitab santapan rohani dalam rumahnya masing-masing: al-Quran, Matsnawi Rumy, dan Diwan Hafiz. Entahlah sejauh mana kebenaran laporan tersebut. Meskipun demikian, cerita tentang pengaruh Hafiz di luar wilayah Iran memang tidak dibesar-besarkan. Bahkan, Emerson, Thoreau, Engels, dan Goethe juga membaca sajak-sajaknya. Antara lain berkat sajak-sajak Hafiz itulah Goethe menggubah antologi puisi terakhirnya, West–östlicher Divan, yang ditulisnya selama lebih kurang lima tahun. Dalam antologi tersebut, Goethe menyusun bab tersendiri yang dipersembahkan kepada Hafiz, berjudul Kitab Hafiz (Hafis Nameh).

Saya tertarik untuk menerjemahkan segelintir sekali dari sejumlah amat besar lirik-liriknya—bukan dari sumber asli, juga bukan dari bahasa asli—karena dalam lirik-liriknya itu Hafiz menggunakan citraan yang sehari-hari. Hasilnya, puisi Hafiz jadi terasa akrab dan tak berat. Dia “melagukan” konsep-konsep langit dengan kosa kata bumi. Dia berbicara tentang cinta kudus dengan lidah cinta profan, bahkan dengan bibir sensual cinta erotis.

Hal itulah, papar Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975), yang membingungkan para sarjana Barat zaman dahulu, kala pertama kali mereka berjumpa dengan karya Hafiz. Hendak dimasukkan ke dalam kategori sastra mana lirik-lirik Hafiz itu, sastra mistik ataukah sastra erotik? Kalau sarjana barat dibikin bingung, ulama ortodoks dibikin salah paham. Bagi mereka, Hafiz telah melangkah kelewat jauh sehingga menerabas pagar teologi dan moral. Tentu saja Hafiz kemudian menjadi sasaran kritik para ulama.

(Baca juga: Berfikir dengan Rasa)

Nyatanya, kritik tersebut tidak meredupkan dan memadamkan pengaruh gaya erotik Hafiz dalam dunia sastra sufi—sebelum Hafiz, Ibnu Arabi telah meggunakan gaya yang menjurus ke arah ini, contohnya dalam Tarjuman al-Asywaq. Para sufi-penyair Persia membela gaya erotik Hafiz tersebut. Menurut mereka, cinta erotik dalam sastra sufi, termasuk juga dalam lirik-lirik Hafiz, hanyalah metafora yang mengacu pada cinta mistik yang pada dasarnya identik dengan tauhid. Kisah cinta dalam sastra sufi hanyalah romansa cinta metaforis (al-‘isyq al-majazy). Pengalaman, penghayatan, dan pengetahuan akan cinta jenis ini dipandang sebagai tangga transendensi untuk mendaki naik ke langit cinta sejati (al-‘isyq al-haqiqy) yang adalah cinta mistik itu sendiri. Dengan demikian, dalam lirik-lirik Hafiz, cinta erotik dan cinta mistik tidak bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan. Ada kesinambungan timbal-balik yang menghubungkan, menyelaraskan, dan menyatukan keduanya.

Sebuah anekdot mengisahkan betapa pentingnya pengalaman cinta metaforis sebagai syarat untuk memasuki alam cinta hakiki. Ibnu al-Farid pernah didatangi seorang pemuda yang ingin menimba ilmu tasawuf dari sufi-penyair Mesir yang hidup pada abad ke-13 itu. Sang sufi malah bertanya, “apa kamu pernah jatuh cinta?” Karena pemuda tersebut mengaku belum pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan pun, Ibnu al-Farid menyuruhnya untuk terlebih dahulu mencari pengalaman cinta sebelum berguru kepadanya.

Selain menjadi prasyarat penting—menurut sebagian guru sufi—dalam menyelami samudera sufisme, cinta metaforis juga berkembang menjadi konvensi dalam sastra sufi. Cobalah baca karya Nizamy, Attar, dan Rumy. Dalam korpus sastra Indonesia klasik, kita menemukan cinta metaforis antara lain dalam Suluk Sujinah, Serat Rengganis, dan Serat Centini. Dalam korpus sastra Indonesia modern, kita menemukan cinta metaforis antara lain dalam karya Amir Hamzah, Subagio Sastrowardoyo, Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, dan Sapardi Djoko Damono. Aguk Irawan MN dan Candra Malik adalah dua sastrawan-sufi kontemporer Indonesia yang dengan sengaja mengeksplorasi motif cinta metaforis melalui karya prosanya masing-masing.

(Baca juga: Cinta, Erick Fromm dan Sosrokartono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here