Surah al-Takasur sebagai Bacaan Rekomendasi Masyarakat Kerek

0
http://news.liputan6.com
http://news.liputan6.com

Kerek – Dulu sekali, waktu masih kelas tiga SD, saya pernah mengalami kesusahan ketika menghafal surah al-Takasur. Guru ngaji saya sempat heran. “Kamu al-Bayyinah saja bisa hafal dengan mudah, padahal ia lebih banyak ayatnya. Tapi al-Takasur kok tidak hafal-hafal, le!” Tutur beliau halus.  Entahlah, itu namanya heran atau nyindir. Yang pasti, dalam kesejarahan ceritaku, al-Takasur pernah menjadi the most difficult sura, ever!

Baca juga: al-Quran tidak Meridai Pabrik Semen di Kerek

Karena itu, rasanya adalah godaan tersendiri untuk melihat lebih intim apa sebetulnya yang terkandung dalam surah al-Takasur berkenaan dengan masyarakat Kerek. Mari kita mulai dari pertama.

Surah al-Takasur

Surah al-Takasur tergolong makkiyah. Ia muncul pada awal abad ketujuh masehi (yang pasti selepas 610 M). Suatu masa ketika masyarakat Makkah tidak lagi memiliki karakter muruwwah—sikap dermawan, peduli, dan sebagainya—terhadap tetangga-tetangganya. Yang ada hanyalah sikap-sikap acuh, egois, dan sombong. Perkembangan luar biasa perekonomian Makkah kala itu merupakan salah satu alasan mengapa mereka bersikap demikian.

Sebagaimana banyak diulas Watt, Bamyeh, dan amstrong, kekayaan material berhasil sama sekali menyilaukan mata (hati) mereka, sehingga buta akan apa saja yang menjadi jeritan para tetangga. Orientasi berpikir mereka menjadi sekadar harta benda. Jika dulu pada awal abad kelima, sebelum Makkah menjadi kaya, ukuran “keren” tidaknya seseorang terletak pada muruwwah, maka pada awal abad ketujuh menjadi sekadar “harta benda”. Ada anggitan begini, “Dengan harta, aku bisa abadi. Selamanya.”

Pada level teologi pula, rupanya revolusi Industri Makkah di muka hadir bukan tanpa bekas. Karena harta benda usai menjadi poros kehidupan—atau struktur base bahasanya Marx—maka banyak yang berpikiran jika mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan. Walhasil, tepat pada celah inilah, aku kira surah al-Takasur muncul untuk memberi respons.

Pada ayat pertama, kita bisa melihatnya secara jelas betapa ia menegaskan bahwa masyarakat kala itu benar-benar telah lupa, lalai, gara-gara harta benda. Lupa akan apa? Akan Tuhannya, ‘an ta’ati rabbikum, tegas Imam Tabari dalam tafsirnya. Di waktu bersamaan, ketika terhadap Tuhan lupa, maka menjadi wajar mengapa mereka lebih memilih mendengar saja rintihan lapar tetangganya ketimbang kehilangan secuil harta. Ini jika dilihat dari sudut pandang mereka yang kaya, yang memiliki harta.

Bagaimana jika dari lensa yang miskin? Mereka tidak tinggal diam. Sebagai bentuk pertahanannya karena diperlakukan sedemikian rupa oleh sang kaya, mereka memilih untuk tidak memiliki anak perempuan. Jika sudah terlanjur lahir, maka mereka membunuhnya sejak kecil. Meminjam bahasa bourdieu, apa yang mereka lakukan tersebut tidak bukan adalah bentuk resistensi. Resistensi atas pergerakan sang kaya (para pemilik modal) yang terlampau mendominasi.

Kembali pada tafsiran, ayat kedua oleh Tabari dipahami sebagai saling menyombongkan diri. Atau lebih pasnya suatu aktivitas untuk senantiasa membandingkan hartanya dengan harta liyan. Aku terbayang begini, ketika kita hidup pada masa lalu dan ndelalah kaya, kita akan memiliki kecenderungan untuk melihat kekayaan orang lain. Kerapnya tetangga sendiri. Jika ada yang terlihat kaya, maka kita akan segera mencari tahu apa yang tidak ia punya dan lalu merendahkannya.

Dengan ungkapan lain, melalui ayat kedua surah al-Takasur kita bisa merasakan bagaimana kebanyakan masyarakat Makkah awal abad ketujuh sangat suka membanding-bandingkan hartanya dengan liyan. Pun, aktivitas demikian dilakukan secara berulang-ulang, hingga meninggal dunia. Hatta zurtum al-Maqabir. Hidup dalam masyarakat yang nuansanya begini, tentu tidak mudah, apalagi bagi yang nasibnya kurang baik. Kita bayangkan saja, umpama kita miskin dan kemudian bernafas di tengah para orang kaya yang saling berlomba-lomba membanggakan kekayaannya. Bagaimana rasanya? Belum lagi ketika ternyata saat kita lagi butuh pinjaman uang, tiada satu pun dari mereka yang mau memberi.

Adapun untuk ayat tiga sampai delapan, seperti disuratkan dalam al-Quran, mereka sebatas memberi penegasan bahwa kebiasaan di atas (bermegah-megah dan acuh pada rakyat kecil) jarang sama sekali disadari oleh yang bersangkutan. Ketika misalnya diingatkan, mereka akan selalu memiliki alasan. Memiliki pembenaran atas apa yang ia lakukan. Bukti lebih lanjut, kita bisa membacanya pada surah al-Baqarah (2) ayat 11 dan sekitarnya. Sampai di sini, kita bisa mengantongi tiga kata kunci dari al-Takasur, yakni kebanggaan yang bajingan sekali atas harta benda, nestapa sang miskin, dan Tuhan yang mulai mengecil.

Kenapa dengan Kerek?

Membaca surah al-Takasur di muka, entah aku merasa mendapatkan nuansa identik dengan yang terjadi di Kerek. Bagaimana tidak, jika dibilang berkembang, secara permukaan, Kerek lebih maju secara ekonomi ketimbang Montong, Singgahan, Soko, atau pun Parengan. Bagi lulusan SMA atau SMP, mereka tidak perlu susah-susah mencari kerja. Cukup ikut membantu di Pabrik Semen—apalagi sekarang ada Holcim—menikah, dan kemudian santai sejenak.

Dari segi infrastruktur juga sama. Setiap desa, saat ini usai memiliki gapura dan tugu dengan lambang besar SG yang sungguh seksi. Ada juga taman yang nyiur di beberapa titik. Bagi orang luar Kerek yang kebetulan lewat, pasti ini adalah perkembangan yang tidak sederhana. Sekolahan-sekolahan pun tidak terlupakan. Banyak dari mereka berhasil membangun gedung yang megah. Satu lagi: mak-mak yang beranjak sejahtera karena mendapatkan menantu pegawai semen. Tidak dapat tidak, Berlandaskan asumsi bahwa perkembangan peradaban suatu daerah terletak pada diri mak-mak, ini bisa dipakai sebagai tolok ukur perkembangan suatu daerah.

Baca juga: Calon Menantu Idaman Emak-Emak di Kerek-Tuban

Akan tetapi, apakah yang balik permukaan memiliki cerita senada? Aku rasa tidak. Justru berbalik malahan, hingga sebab itulah, pada celah ini surah al-Takasur memang penting untuk dijadikan bacaan wajib masyarakat Kerek. Selain karena tautannya dengan simbol modernisme Tuban, pabrik semen, ia juga berkenaan dengan masa depan keseharian masyarakat Kerek. Apa yang terjadi pada level “di balik” permukaan? Masyarakat miskin yang semakin dimiskinkan. Semakin direndahkah. Semakin tidak mendapatkan tempat.

Jika mau mengamati di level detail, mungkin kita akan segera mendapati betapa tidak sedikitnya tetangga kita yang miskin kesusahan mencari pinjaman—pinjaman lho ya, bukan minta—untuk sekadar merenovasi gedek rumahnya yang mulai terkikis banjir. Iya, para orang kaya berdalih jika mereka tidak mungkin memiliki uang untuk mengembalikan, sehingga untuk apa memberi pinjaman.

Coba kita pikirkan, logika dari mana ini? Semisal toh mereka tidak bisa mengembalikan, apakah itu berarti kita tidak boleh memberi pinjaman? Bagaimana dengan hartanya? Apakah memang harta dia akan habis hanya untuk gedek bolong? Kenapa tidak memikirkan bagaimana susahnya tidur di malam hujan dengan kondisi air yang memenuhi rumah? Inilah keresahanku beberapa malam ini di Kerek sembari membayangkan banyak rumah di pinggiran desa yang kecil, bertembok gedek penuh tambalan, miring, bergenang air di belakangnya, dan lain-lain.

Mungkin, yang dermawan dan peduli tetangga masih banyak. Tapi kendati begitu, tetap saja bahwa satu cerita barusan sudahlah menjadi kenyataan kita, masyarakat Kerek. Kenyataan yang bisa saja berkembang menjadi citra baru daerah atau sebaliknya. Sekarang, semuanya tinggal kita. Akankah tetap tenggelam dalam arus deras perkembangan ekonomi Pabrik Semen sebagaimana masyarakat Makkah pra-Islam yang memuncak pada pembunuhan bayi-bayi perempuan karena mencoba ingin mendapatkan tempat ataukah mulai mencoba untuk menjadi sadar akan semunya harta benda. Sadar akan semunya kekayaan. Semunya kedudukan, ketenaran, serta status sosial di masyarakat.

Baca juga: Keindahan Semu Pabrik Semen

Walhasil, aku jadi lebih paham, kenapa dulu surah al-Takasur sulit kuhafal. Eh ternyata karena aku tinggal di Kerek, berdampingan dengan simbol kemajuan ekonomi Tuban (Pabrik Semen) dan eh karena masyarakat di sekitarku mulai banyak yang meninggalkan prinsip “peduli secara tulus terhadap tetangga yang membutuhkan”. Dan aku kira, keduanya terhubung secara konsisten nan agamis.zav

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here