Gadis-Gadis Amangkurat: Sebuah Ulasan

0
Gadis-Gadis Amangkurat: Sebuah Ulasan
Gambar: Pinterest

Gadis – Yogyakarta, terkenallah sebagai kota yang istimewa. Bahkan dalam lantunan lagu berjudul “Jogja Istimewa” karya Jogja Hiphop Foundation (JHF) dikatakan, “jogja-jogja, tetap istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya.” Tidak sederhana sebetulnya untuk membayangkan. Tapi tidak apalah, mari kita ikuti saja lekuknya.

Berbicara tentang keistimewaan, Yogyakarta tidak luput dari kota yang penuh sejarah. Walau beberapa bukti sejarah sudah terungkap, tapi sampai saat ini juga, ia masih menyimpan banyak rahasia yang perlu disibak. Di luar itu, pada intinya, Saya sebatas ingin menyusun resensi atas novel berjudul “Gadis-Gadis Amangkurat”.

Kerajaan Mataram, begitu amat penting untuk diketahui sejarahnya. Gadis-gadis cantik di masa itu selalu mendapatkan perlakuan tak adil, bahkan kemalangan dari kerajaan. Berawal dari lensa inilah, saya masuk.

Jalu, yang merupakan anak kandung ki Dhukuh Kundhen, berasal dari daerah Kundhen. Dia hanyalah seorang anak kecil yang suka menggembala di daerah tersebut. Hanya bersama temannya, Jarot, Jalu selalu betah dan senang menggembala kambing. Terkadang selain menggembala, mereka kerap jahil. Entah terhadap warga sendiri atau bahkan prajurit-prajurit kerajaan.

Meninggalnya Nyi Truntum, Ratu kerajaan atau istri Raja, yang mendapatkan julukan Ratu Wetan, membuat gadis-gadis cantik di kerajaan mataram menjadi perburuan. Mereka perempuan yang cantik—tentunya—akan diambil kerajaan. Entah dijadikan calon permaisuri, selir, atau pun sekadar gadis pelipur-lara.

“Mengapa di negeri Mataram gadis-gadis cantik selalu bernasib malang?” tanya Jalu kepada Ibunya.

Nyi truntumlah yang membuat Amangkurat atau sebutan untuk susuhunan Raja Mataram galau akan kepemimpinannya. Baginya, Nyi Truntum adalah Ratu yang tak tergantikan. Sampai-sampai dalam suatu hari, Amangkurat bermimpi mendapatkan bisikan gaib, bahwa calon pengganti Ratu Truntum adalah seorang putri yang berasal dari suatu tempat yang memiliki mata air segar.

“Dan jika tidak ditemukan seorang putri yang memenuhi syarat demikian, aku mau perempuan yang betul-betul mirip dengan diajeng truntum.” kata Amangkurat terhadap para punggawa-punggawanya.

Nyi Truntum sadar bahwa cintanya tidak akan pernah mati kepada Ki Dalem (suami asli Nyi truntum). Tapi saat mereka menentang Amangkurat yang memaksa kehendak untuk memperistri Nyi Truntum, maka terbunuhlah Ki Dalem dan seluruh nyawa sanak kerabatnya, oleh gandhek-gandhek Keraton Mataram. Mereka juga menumpas habis keluarganya dan keluarga suaminya demi menghilangkan kemungkinan balas dendam, kecuali Sunthi, gadis kecil yang tidak diketahui oleh keraton.

Sunthi, dia adalah keponakan dan sekaligus sahabat kecil Sang Ratu. Saat terbunuhnya Ki Dalem, Sunthi belum mengetahui sangat kejadian-kejadian penumpasan habis pada keluarganya. Karena ketika itu Sunthi masih bayi. Hanya pada saat-saat bersama Sunthi kecil itulah Kanjeng Ratu merasa sedikit terhibur sejak ia diperistri Amangkurat. Bahkan Kanjeng Ratu Wetan sering minta dintarkan ke Kranon ketika beliau kangen dengan Sunthi.

Baca juga: Kamasutra dan Kesejarahan Indonesia

Namun, setelah Sunthi menginjak umur belasan, sanak kerabatnya yang tersisa di Keraton mulai was-was. Mereka khawatir anak itu kelak juga akan direnggut oleh Amangkurat seperti bibinya. Sunthi yang begitu cantik dan mirip dengan Ratu Truntum. Beberapa kali dayang-dayang Keraton Mataram memuji-muji bahwa Sunthi kelak pasti tidak akan kalah cantiknya dari Kanjeng Ratu Wetan.

Apapun rasa was-was itu, terjadilah juga kepada Sunthi. Sampai suatu hari, saat punggawa-punggawa kerajaan berpencar mencari sesosok perempuan yang diciri-cirikan Raja. Di Kundhenlah, mereka bertemu dan cocok dengan keperawakan Sunthi yang begitu mirip dengan Nyi Truntum.

Esoknya, dengan titah Raja, para punggawa kembali lagi ke Kundhen, dengan maksud membawa Sunthi ke Keraton untuk diperistri Raja. Tapi, titah Sang Raja ditolak oleh Ki Dhukuh Kundhen. Karena ketraumaan yang pernah dialami Ki Dhukuh Khunden. Terkhusus terhadap anak perempuannya. Juga kakak perempuan Jalu, Warsi namanya. Yang pernah dibawa paksa dan juga diperkosa oleh punggawa kerajaan.

Penolakan itu membuat Sang Amangkurat murka. Terjadilah seketika pertumpahan darah hingga menumpas tuntas semua daerah Kundhen. Sampai berakhir dengan kepasrahan Sunthi yang rela dibawa untuk menghadap Sang Amangkurat. Bukan hanya Sunthi, Jarot pun juga dibawa ke keraton untuk merawat kuda-kuda keraton. Berbeda dengan Jalu yang bisa terbebas dari penumpasan punggawa keraton.

Beberapa lama setelah itu, terjadi masalah besar di Keraton. Terjadi pertikaian antara Amangkurat dan Pangeran Adipati Anom dalam memperebutkan Rara Oyi. Rara Oyi yang bakal menjadi calon selir Sang Raja, telah tersingkap hubungan asmara oleh putranya sendiri, hingga ia hamil satu bulan.

Mendengar kesalahan besar yang diperbuat Adipati Anom, murkalah Sang Raja. Berakhirlah dengan hukuman mati untuk Rara Oyi melalui tangan Pangeran Adipati Anom sendiri, lalu pembuangan Pangeran Adipati Anom ke Lipura. Masalah lain juga disebabkan larinya Sunthi bersama Jarot.

Ketika penghukuman antara Rara Oyi dan Adipati Anom terjadi, pada saat-saat itulah Sunthi menggunakan kesempatan kabur bersama Jarot. Mereka kabur. Berlarian. Menuju keraton Pleret yang dirasa aman.

Perjalanan kabur mereka pun terasa berliku-liku. Sesampainya di daerah Pawuyungan, akhirnya Jarot dan Sunthi bertemu juga dengan Jalu. Senanglah Jalu yang kala itu bisa bertemu dengan kekasihnya Sunthi, dan juga teman lamanya Jarot. Merekapun istirahat sebentar.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke daerah Tembayat yang hampir dekat dengan Pleret. Namun ketika perjalanan hendak diperlanjutkan Jarot menghilang. Sejak pagi buta, ia bilang hendak buang air dan mengurusi kuda-kuda, setelahnya anak itu tidak muncul lagi. Ada dugaan dia akan berkhianat kepada Jalu dan Sunthi.

Sebenarnya di balik kepergian Jarot, ada benak kecemburuan yang dirasakannya, ia sangat cemburu ketika Jalu bertemu dengan Sunthi. Memang, sejak pengabdiannya di Keraton Mataram, wajah Sunthi yang kurang ajar indahnya selalu membuat Jarot mabuk kepayang. Tapi, bagaimanapun ia tahu Sunthi milik sahabatnya, Jalu. Saat itu juga, Jarot tetap tidak peduli, ia tetap pergi, entah ke mana dan tak tahu arah. Di perjalanan itu pula Jarot selalu terbayang, Sunthi kelak menjadi Istrinya.

Baca juga: Pangeran Airlangga dan Harga dirinya yang Nyaris Hilang

Dan benar dugaan tersebut, Jarot berkhianat, ia kembali lagi ke Keraton Mataram, untuk melaporkan keberadaan Sunthi. Tidak lama kemudian, gegara berkhianat, persahabatan itu mereka akhiri dengan perseteruan sengit antar kedua sahabat, Jalu dan Jarot. Jalu yang kala itu geram akan penghiatan jarot, ingin membunuhnya sampai titik darah penghabisan. Begitu pula Jarot, yang cemburu akan cintanya Jalu dengan Sunthi, ia rela menghianati temannya sendiri, bahkan berkata “Tiji tibeh. Mati siji mati kabeh”, dan juga siap berperang sampai mati, demi memperebutkan Shunti.

Berperanglah mereka berdua, yang disaksikan Sunthi dan dua prajurit Mataram. Sunthi yang kala itu tak bisa berbuat apa-apa, karena dibekap tangan, kaki, dan juga mulutnya oleh prajurit mataram hanya bisa menangis melihat temannya berperang mati-matian. Juga dua prajurit Mataram itu, yang senang melihat mereka berperang, layaknya adu ayam.

Tebasan senjata Jalu sangatlah kuat, hingga membuat jarot mengakui kekuatannya yang sangatlah tangguh. Bahkan di akhir kematian, Jarot tak sempat meminta maaf, karena tebasan keras Jalu akhirnya mengenai leher jarot hingga mati.

Melihat kematian Jarot, membuat dua prajurit Mataram itu maju untuk menghadapi kekuatan jalu, mereka berperang dua lawan satu. Jalu memang mengakui kekuatan mereka, prajurit mataram, yang sangat kondang dengan kesaktiannya. Di akhir kematian, hanya dengan satu tebasan, prajurit mataram dapat membuat Jalu terkapar tak berdaya, dan matilah Jalu.

Baca juga: Seks Lebih Baik ketimbang Bertengkar

Melihat kematian jarot dan jalu, Shunti sangat terpukul hatinya. Ia bahkan tak mampu melihat kenyataan hidup yang dialaminya, gara-garanya semua bencana terjadi. Termasuk semua teman, kekasih, keluarga, hingga Kundhen tewas di tangan Mataram.

Dibawalah Sunthi ke kerajaan Mataram kemudian, dengan arak-arakan besar oleh beberapa prajurit Mataram yang senang telah membawa kembali sang calon istri raja. Tapi naas menimpa mereka, waktu arak-arakan tiba sampai ke Keraton Mataram, pemikul tandu Sunthi terasa berat. Memang benar, manusia yang telah kehilangan nyawa memang akan terasa lebih berat bobotnya, sebab orang yang mati tak kuasa lagi untuk memikul raganya. Ya, sudah dapat diketahui pasti, di perjalanan itu Sunthi bunuh diri dalam pemikul tandu menggunakan patrem, senjata serupa keris kecil yang selalu dibawanya kemana saja.

“Bukankah akan lebih baik mati dalam keadaan berjuang daripada mati ketakutan?” kata yang selalu di ingat Sunthi, sebelum meninggalnya Rara Oyi.

 

Judul Novel    : Gadis-gadis Amangkurat, Cinta yang Menikam

Karya              : Rh. Widada

Penerbit         : Narasi

Pengulas         : Cak Inal

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here