Keseimbangan dan Pengembangan Hidup

1
Keseimbangan antara doa dan karya
linkedin.com

Keseimbangan – Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan beberapa konsep ilmiah yang selalu dikaji dalam berbagai literatur keilmuan dunia. Semakin perputaran waktu, seiring bergulirnya zaman, perkembangan khazanah cakrawala selalu menemukan rahasia di balik rahasia Tuhan. Konsep dan paradigma ini yang terus digali oleh para saintis dan pegiat ilmu untuk mengungkap apa yang belum dikaji sebelumnya. Tentu, dengan pola dan desain yang amat rumit untuk dilaksanakan dengan disiplin. Menyingkap tabir yang selama ini tersembunyi di balik vakumnya daya dobrak pemikiran kita sendiri. Menjadi pertanyaan besar pada lubuk hati kita, kenapa alam bisa seseimbang ini? Memutar poros galaksi dengan untaian waktu yang konsisten.

Nah, semua yang menjadi tugas kita sebagai manusia di bumi dengan amanah sebagai khalifah, sepatutnya menerapkan asas keseimbangan (balance) yang harus kita pegang sebagai prinsip utama berkehidupan. Suatu asas yang berkeadilan dalam membagi antara ibadah (akhirat) dan bekerja (bekarya) di dunia. Kesimbangan inilah yang nantinya akan kita temui dan rasakan dalam kenikmatan hidup di alam ini. Telah menjadi suatu doktrin kuat untuk kita hidup dengan mementingkan tujuan hidup, arah juang hidup, kebermanfaatan hidup, dan kehidupan setelah meninggal.

Dalam ajaran yang dirisalahkan oleh Rasul Muhammad melalui al-Quran jika kita pelajari secara seksama, dapat kita simpulkan bahwa wahyu yang diajarkan oleh Rasul Muhammad menampilkan adanya suatu keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrowi (akhirat). Jelas bahwa keseimbangan begitu menjadi porsi penting dalam hidup kita. Jika telah bekerja secara paralel tiap harinya, tentunya kita harus beribadah secara nyaman juga to. Dunia dapat, akhirat juga dapat. Sebab, jika kita mengejar (beribadah) dengan serius dalam menggapai akhirat, dunia otomatis akan mengikutinya. Pun, sebaliknya.

Baca juga: Posisikan al-Quran di bawah!

Bila kita terlalu berlebihan mengejar kesenangan duniawi, maka kita akan terperosok menjadi manusia yang serakah. Sebaliknya, bila kita terlalu mengejar akhirat maka kita akan bisa menjadi manusia apatis yang tidak peduli lagi kepada keadaan di sekitar kita. Padahal manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Syaikh Abdurrahman Al-Sa’di menyatakan dalam tafsirnya (halaman 584, surat Thaahaa ayat 2-3) begini, “Maksud diturunkannya wahyu dan al-Quran kepadamu serta ditetapkannya syariat bukanlah untuk membuat kamu sengsara. Tidak ada syariat yang memberatkan manusia dan tidak mampu mereka kerjakan. Namun wahyu, alquran dan syariat itu ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhan jadikan sebagai pengantar kepada kebahagiaan, keberuntungan dan kemenangan. Tuhan telah memudahkannya dengan semudah-mudahnya dan telah memudahkan seluruh jalan dan pintu-pintunya.

Tuhan menjadikannya sebagai nutrisi bagi hati dan jiwa serta sebagai penyegar bagi tubuh mereka. Dapat diterima oleh fitrah yang lurus dan akal yang sehat, karena mengetahui kandungannya, yaitu kebaikan dunia dan akhirat.

Memang benar-benar seimbang dan mudah. Itulah karakter syariat terakhir yang menghapus syari’at-syariat terdahulu. Seimbang dengan hajat dan kebutuhan manusia secara duniawi maupun ukhrawi dan mudah untuk dilakukan.

Sebagai contoh, kalau kita ingin mengangkat satu benda yang berat, bila kita angkat tepat pada titik keseimbangannya, maka akan mudah diangkat. Namun, bila tidak tepat pada titik keseimbangannya, maka akan sulit diangkat. Tuhan  telah menjelaskan tentang kemudahan dan keseimbangan ini dalam ayat-ayat-Nya. Di antaranya:

“Tuhan sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj:78) di ayat lain, Tuhan berfirman: “Tuhan menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(al-Baqarah: 185)

Tuhan juga menjelaskan tentang keseimbangan dalam Islam dalam firmanNya:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil.”

(Al-Baqarah: 143)

 

Al-Quran telah menjawab segala hal tentang kaitannya dengan manusia dan alam. Tak ada keraguan di dalamnya. Mengandung unsur keseimbangan antara dua dimensi yang menjadi perpaduan. Dan, akan menjadi pengembangan hidup jika benar diterapkan dengan saleh. Mengamalkan nilai-nilai keagamaan secara kontinyu dengah keikhlasan.

Secara tersirat kita umat manusia dituntut mampu memanfaatkannya untuk menciptakan kesejahteraan, keharmonisan dan keindahan yang terpadu. Membina nurani dengan semangat belajar akan suatu hal baru tiap waktu. Meniti pengembangan kecakapan hidup, pola pikir, dan kualitas ibadah kita.

Namun, jika telah dilepaskannya ikatan tali agama dini, maka akal menjadi di atas segalanya. Asas kesimbangan tak lagi berlaku. Kolep tak beraturan. Inkeseimbangan nantilah yang akan mengadili dan menghakimi segala sesuatu yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia. Keputusan hakim akal bagaimanapun hebatnya sebatas itu pula keadilannya tidak akan selalu diterima. Bahkan di samping itu juga bertentangan dengan fitrah manusia bisa menjadikan konflik dan mungkin menimbulkan malapetaka yang sangat mengerikan.

Ilmu dan teknologi, dalam konteks kesatuan (tauhid), tidak bisa dipisahkan dengan iman (Garaudy, 1984: 84) harus diarahkan pada kesucian dan tujuan yang mulia. Karena itu perpaduan akal dan kalbu, fikir dan zikir, perlu diperhatikan secara serius dan diaktualisasikan secara berkelanjutan, meningkat mulai sekarang, dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang diridai Tuhan.

Baca juga: Tahajjud tidak perlu Sujud

Prinsip hidup dengan seimbang dan berupaya berkembang tiap waktu menjadikan jiwa dan akal kita hidup. Dekat dengan Tuhan menjadikan ruh kita damai. Derai nafas seakan lega dengan desiran kenyaman hati nurani. Jiwa seolah menjadi semangat menggapai asa meraih keridaan Tuhan.

Al-Imam al-‘Allamah Ibn al-Qayyim berkata, ”Adapun di bawah derajat orang ini (yakni orang yang merasakan kelezatan dengan mengenal Tuhan dan ber-taqarrub dengan-Nya), maka sangatlah banyak, dan tidak bisa menghitung banyaknya kecuali Tuhan. Bahkan, sampai pada derajat orang (yang masih bisa merasakan kelezatan dengan) melakukan hal-hal yang sangat hina, hal-hal yang kotor dan menjijikan, baik berupa perkataan maupun perbuatan…”

Baca juga: Ilmu Membuat Mulia?

Dengan apa yang telah kita peroleh dari sifat pengasih dan penyanyang-nya Tuhan,  kita menjadi manusia yang harusnya selalu bersyukur. Mengoreksi diri untuk selalu berbuat baik. Itulah prinsip dari balance and developing living.

Ikhwan Fahrudin, Pegiat Literasi dan Anggota IGI Tuban

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here