Terbunuhnya Kreativitas Manusia

2
Ilustrasi gambar diambil dari http://www.spgevent.co.id

tubanjogja.orgKreativitas

Oleh: Dwi Lestari

Tolak ukur kemajuan sebuah bangsa seringkali dilihat dari ekonomi, dan pendidikan formal. Ekonomi maksudnya adalah soal kesetabilan dan pertumbuhan yang (dianggap) menentukan kesejahteraan rakyat. Selain itu, juga dapat dilihat dari kemampuan suatu bangsa terbebas dari hutang luar negeri—yang mencengkram dan menyebabkan ketergantungan. Sedangkan pendidikan formal mampu menjadi tolak ukur kemajuan, manakala pendidikan ini memiliki kualitas yang bagus. Sehingga dapat dikatakan, semakin banyak yang berpendidikan tinggi, maka negara tersebut akan semakin memiliki kualitas masyarakat baik, dan semakin membuat bangsa tersebut maju.

Walaupun begitu, pendidikan yang berkualitas bagus memang belum menjamin penyerapan penduduk angkatan kerja. Maksudnya saat seorang anak berpendidikan tinggi dan memiliki kualitas yang baik, belum tentu setelah lulus dari pendidikan formalnya akan mendapatkan pekerjaan. Berikut adalah data dari Badan Pusat Statistik dari tahun 2015-2017 tentang penduduk usia kerja dari usia 15 tahun ke atas.

Kreativitas

Angkatan kerja yang tidak mampu terserap mendapatkan pekerjaan, pada akhirnya mereka bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Mereka bekerja atas dasar kebutuhan pasar. Jika pasar membutuhkan banyak pekerja di bidang Frontliner Bank, Front Office, Sales Promotion Girl (SPG), Sales Promotion Boy (SPB), Marketing, maka meraka pun akan terserap dalam kebutuhan pasar tersebut. perkerjaan tersebut adalah beberapa pekerjaan yang mudah ditemui dalam jobseeker.

Baca juga: Deklarasi Kematian Indonesia

Harapan yang besar pada peluang pekerjaan, telah membuat orang-orang semakin giat dalam Jobseeker. Selalu berusaha, hingga sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan, ia pun memiliki semangat yang tinggi untuk bekerja dengan giat agar dapat berprestasi dalam perusahaanya dan mendapatkan promosi naik jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Semangat para pekerja untuk berprestasi (mengejar jenjang karir) menurut Herbert Marcuse adalah sebuah bentuk penindasan jenis baru dari kapitalisme. Karena semakin seorang pekerja mengejar jenjang karir, maka ia akan semakin masuk dalam perangkap kapitalisme.

Semangat tersebut dikatakan sebagai perangkap kapitalisme, karena disana ia mulai mengalami pribadi yang teralienasi. Maksudnya, ia mulai mengalami ketidak sadaran atas yang dialami, jika ia telah mengalami penindasan, dan ia telah menjadi orang asing di lingkungan sekitarnya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaaanya. Marcuse mengatakan semangat mengejar prestasi dalam pekerjaanya adalah sebuah bentuk ketaklukan, ketaatan kepada aturan-aturan perusahaan.

Ketaklukan, ketaatan yang dilakukan oleh para pekerja itu terlihat saat seorang Frontliner Bank, front Office, Sales Promotion Girl (SPG), Sales Promotion Boy (SPB), Marketing, memiliki desain kalimat yang sama dalam setiap berucap kepada customer. Kurang lebih kalimat yang sering diucapkan kepada customer sebagai berikut:

Selamat datang…. ada yang bisa di bantu?

Terimakasih, Selamat datang kembali”.

Para pekerja dalam menyambut customer selalu berdasarkan aturan perusahan. Aturan tersebut disebut dengan Standar Oprasional Prusahaan (SOP). Semua memiliki ukuran yang sama. Seperti itulah kehidupan orang modern. Semua didasarkan pada ukuran, standar, dan penyamaan. Karena semua hal yang terukur adalah sebuah kerasionalan.

Di masyarakat modern semua orang diarahkan kedalam semangat rasional. Sehingga pengetahuan, pemikiran yang tradisional dianggap sebagai suatu yang irasional. Jika pada masa pra modern masyarakat masih memiliki pemikiran yang tradisional. Seperti halnya masih percaya pada hal-hal yang gaib disekitar kita. Sehingga, saat seseorang sakit pun dikaitkan dengan hal-hal gaib. Penyebuhannya pun dengan hal-hal gaib. Misalnya saat orang mengalami sakit demam, maka orang tersebut dianggap telah diganggu oleh makhluk gaib yang ada disekitar. Sehingga perlu dilakukan ritual slametan, pergi ke Dukun (Geertz, 2014). Lantas seorang Dukun memberikannya sebuah jimat yang dipercayai mampu memberikan kesembuhan kepada yang sakit.

Pemikiran-pemikiran ini pun mulai luntur dalam berjalananya waktu. Terutama  setalah banyak berdiri industri. Sehingga pada masa ini telah terjadi peralihan lahan. Dari lahan pertanian menjadi  lahan industri. Peralihan ini bukan hanya merubah bentuk wajah kota atau desa, namun juga merubah cara berfikir seseorang. Perubahan ini terjadi karena saat dulu ia bekerja sebagai petani, dan memiliki keseharian yang bersinggungan dengan alam. Namun setelah berdiri berbagai macam jenis industri, para petani pun harus pensiun dari pertanian. Dan mencari pekerjaan lain. Mungkin saja, ia memilih untuk menjadi pekerja industry tersebut.

Perubahan pekerjaan tersebut, pun mulai membuat cara berfikirnya berubah. Dari pemikiran yang tradisional menjadi pemikiran yang rasional. Ini terjadi karena dulunya hanya berfikir tanpa memiliki standar yang pasti, namun setelah dunia rasional yang penuh dengan ukuran berjalan, semua hal yang tidak memiliki ukuran, maka hal itu akan dianggap irasional. Ada sebuah cerita dari Hardiman (2003) ketika Ia akan melakukan kunjungan di desa terpencil di suatu daerah lereng gunung yang jauh dari peradaban Pasar. Kala itu Hardiman bertanya pada salah satu penduduk desa, “berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menuruni gunung untuk sampai  ke Pasar?”.  Jawaban yang didapat dari penduduk desa tersebut hanyalah sepenggal kalimat berikut, “hanya cukup satu hisapan kretek”. Dari gambaran waktu tersebut dapat kita pahami, bahwa waktu dan pengetahuan setiap orang memiliki perbedaan dan ketidak pastian, karena dari jawaban penduduk desa tersebut, terlihat bahwa satuan ukur waktu disetiap orang memiliki ketidakpastian, saat dijawaban dengan satu hisapan kretek.

Baca juga: Petani Kulonprogo Bahagia Tanpa NYIA

Cerita tersebut adalah gambaran kehidupan masyarakat yang masih tergolong dalam masyarakat pra modern. Karena masyarakat di situ tidak memiliki satuan ukur, standarisasi dalam menentukan apapun. Sedangkan dalam kondisi sosial masyarakat orang modern, semua akan dianggap rasional, manakala ada ukuran yang ajeg, dan berstandar. Waktu di masyarakat modern memiliki ukuran yang ajeg, yaitu dengan “jam”. Sedangan orang-orang di masyarakat pra modern, meilihat waktu bisa dengan apapun. Missal dengan hisapan kretak, bayang-bayang bedan, suara binatang, matahari.

Standarisasi Dalam Kehidupan Orang Modern Terlihat, Saat Seorang Pekerja Sebagai Frontliner, Front Office, SPG, SPB dan semacamnya itu, saat memberikan service kepada customer harus mengucap kalimat sebagai berikut:

Selamat datang…. ada yang bisa di bantu

Kalimat tersebut diucapkan untuk menyapa customer yang datang. Sedangan saat customer akan pulang, maka kalimat yang diucapkan pun sebagai berikut:

Terimakasih, Selamat datang kembali”.

Kedua kalimat itu adalah kalimat yang memiliki nilai ajeg, berstandar sesuai dengan SOP. SOP adalah media yang digunakan oleh perusahaan untuk mengkondisikan tubuh para pekerjaanya. Sehingga seorang pekerja harus mematuhi tata krama dalam melakukan service kepada customer. Tata krama tersebut seperti halnya greeting, grooming. Greeting meliputi tata krama dalam menyabut customer. Seperti dua kalimat yang diucapkan pekerja dalam melakukan service kepada customer dalam paragraph sebelumnya.

Grooming adalah tata krama dalam berpakaian, berdandan (tampilan). Aturan ini berlaku untuk semua pekerja, baik ia berjenis kelamin perempuan atau pun ia berjenis kelaamin laki-laki. Walau pada akhirnya dua jenis kelamin ini juga memiliki perbedaan dalam  hal grooming. Karena perempuan dan laki-laki memiliki bentuk tubuh yang berbeda sehingga ada perbedaan dalam grooming. Selain itu, perbedaan lainnya antara perempuan dan laki-laki adalah budaya konstruksi masyarakat yang menganggap perempuan memiliki hal yang lebih menarik ketimbang lelaki. Sehingga, dalam grooming  perempuan memiliki porsi yang lebih banyak, ketimbang laki-laki.

Grooming dalam perusahaan berfungsi media perusahaan untuk mengkondisikan tubuh para pekerjanya terlihat fresh selama bekerja. Baik ia tengah sakit, atau tidak para pekerja harus tetap terlihat fresh. Karena itulah semua pekerjanya diwajibkan untuk  mempergunakan make up dan wewangian. Make up dan waewangian diyakini oleh pihak perusahaan mampu memberikan kesan fresh, semangat, ceria, enak dipandang. Pekerja perempuan dan laki-laki pun menggunakan make up, namun keduanya memiliki porsi yang berbeda.

No. Perempuan Laki-Laki
1. Moisturizing Cream Facial foam
2. Foundation Cream / baby Cream Moisturizing Cream
3. Face poweder Pomade
4. Eyebrow liner Deodorant
5. Mascara Parfume
6. Blush on
7. Lips scrab
8. Lipstick
9. Deodorant
10. Parfume

(sumber: wawancara pribadi)

Porsi make up yang digunakan perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki. Karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang unik, dan memiliki daya pikat yang tinggi ketimbang laki-laki. Atas dasar anggapan tersebut, sehingga tubuh perempuan harus dikondisikan untuk menggunakan berbagai jenis prodak seperti yang telah terdata dalam tabel tersebut.

Perempuan menggunakan sekitar delapan  prodak dalam wajahnya. Dari situ dapat kita lihat, betapa uniknya seorang perempuan untuk dapat terlihat fresh, ia harus memoleskan berbagai jenis prodak tersebut ke wajah. Wajah yang memiliki ukuran kurang lebih sejengkal ukuran tangan itu pun membutuhkan delapan jenis prodak make up. Unik dan menarik.

Ritual grooming harus selalu dijalankan. Bahkan saat jam kerja, namun ternyata make up luntur dan bau badan mulai tidak sedap, maka ia pun wajib untuk menembel kekurangan tersebut. maksudnya, ia harus kembali ber-make up dan menggunakan parfume. Semua itu adaah aturan SOP, sehingga ia yang tidak mampu menjalankan tersebut, maka ia akan tersingkir dari perusahaan. SOP selain sebagai media yang mengondisikan tubuh para pekerja. Namun SOP juga mampu mengkondisikan pola pikir para pekerja. Karena ada sebuah anggapan, bahwa pekerja yang berprestasi, yang baik, yang akan naik jabatan adalah ia yang dapat mematuhi SOP, tekun, takluk, dan selalu royal kepada perusahaan.

Selain itu, SOP juga yakini oleh pihak perusahaan sebagai media yang mampu memberikan pelayanan yang prima, adil, memuaskan customer. Karena SOP telah memiliki standar ukuran yang akurat, ajeg, sama, dan tidak membeda-bedakan antara customer satu dengan customer yang lain. Meskipun setiap customer memiliki status sosial yang berbeda-beda.

Baca juga: Keseimbangan dan Pengembangan Hidup

Pelayanan yang terukur itu misalnya memberikan revice greeting sesuai SOP. Yaitu dengan mengucapkan dua kalimat berikut ini, saat bertemu dengan customer.

“Selamat datang…. ada yang bisa di bantu”

“Terimakasih, Selamat datang kembali”.

Dua kalimat tersebut tidak dapat diganti dengan kalimat greeting lainnya, atau semau dari pekerja, walau pekerja telah kenal baik dengan customer. Namun hal itu tetap saja tidak dapat dilakukan oleh pekerja. Karena pekerja dituntut untuk bekerja secara professional, sehingga tidak boleh membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Berperilaku sama dalam hal grooming, greeting saat memberikan service kepada customer, menurut Herbert Marcus adalah sebuah gambaran matinya kreativitas manusia. Karena pekerja tidak dapat berfikir kreatif, tidak boleh membangkang, semua harus sesuai  SOP.

Pekerja dalam kondisi ini, seperti halnya sebuah  robot. Bertindak sesuai SOP sama halnya, berperilaku mengulang-ulang segala kalimat greeting dan perilaku grooming. Menurut Marcuse, saat seorang pekerja menjalankan SOP, dan merasa hal itu sebagai hal yang biasa, tidak terbebani atas keadaan yang alami, maka ia tidak memiliki kesadaran bahwa ia mengalami eksploitasi. Para pekerja tidak merasa ter-eksploitasi karena ia telah terbuai dengan  semangat mengejar jenjang karir. Semangat tersebut adalah rencana kapitalisme untuk membuat semua orang yang bekerja di perusahaan selalu memiliki semangat kerja, kerja dan kerja. Bekerja tanpa henti, hingga lupa atas dirinya sendiri, merupakan sebuah penindasan.

Semakin seseorang mengejar materi, jabatan, maka ia telah menjadi budak kapitalisme. Mencari kesejateraan hidup, menjadi konglomerat adalah impian banyak orang. Namun, harus digaris bawahi juga, bahwa penindasan dan eksploitasi tidak akan pernah terjadi, mana kala manusia memiliki kesadaran. Sadar, bahwa saat manusia tidak terbuai dalam kerakusan, dan kepuasaan, maka ekspolitasi tidak akan pernah terjadi. Karena ia hanya bekerja selayaknya, secukupnya, sesuai kebutuhan.

Yogyakarta, 2018

Dwi Lestari, kelahiran Tuban dan sekarang sedang mengembara di Yogyakarta.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here