Puisi-Puisi Alfin Rizal; Kepada Perpisahan

3
perpisahan
Alfin Rizal

Kepada Perpisahan

tak ada apa-apa di sana, hanya ada
langit yang sama, mengatapi
sepasang kekasih yang berpisah
sebab merasa sudah berbeda.
mereka akan bayangkan
langit terbelah, awan mendung
hanya milik hati pemurung.

sementara kita akan bayangkan
perpisahan kita, bukan sebab
ingin menemukan kekasih baru,
namun mencari diri kita
yang kini hilang diburu
oleh cemburu-cemburu yang baru

ada apa dengan perpisahan?
tak ada apa-apa di sana, hanya ada kata-kata
yang tak mengatakan apa-apa
selain berhati-hati, menjaga hati sendiri-sendiri.

Baca juga: Mata Rindu (Zams’ta)

Bertamu Di Matamu

1.
sore itu kau bersedih
saat hujan menuruti mendung
yang sejak pagi menggelayut
di beranda rumahmu.

kau sendiri tak beranjak
dari beranda, tak ada
yang sanggup menampung luka
hatimu selain beranda rumah.

lukamu adalah
langit yang kehilangan awan,
atau luas yang kehilangan batas.
ketika hujan tiba-tiba datang,
air matamu jatuh dan,
diam-diam aku menampung.

2.
kau membenci rayuan
tetapi memintaku menjadi puis,
atau menjadi batu jika tak mampu
katamu diam adalah cara terbaik mencintaimu

saat aku menjelma puisi
dan bertemu di matamu
kubawakan kata-kata sederhana,
dari luka yang dulu
pernah kau selipkan di hatiku.
aku ingin mengembalikan luka itu,
tetapi akhirnya, kau jatuh cinta.

Baca juga: Tahun Baru Pada Masa-Masa yang Menua (Naide Emra)

Akulah Lelaki yang Telanjang Karena Kau

setiap kali melihat diriku telanjang
di muka cermin, ada senyap
tumbuh menggantikan
kedua lenganku. tubuhku adalah
pohon tua dengan akar tumbuh
di mana-mana

jika aku pejamkan mata,
cermin itu berganti
memandangku.
seperti menyukai tubuh
telanjangku.

malam hari datang,
membawa kesedihan
yang tak bisa kudapatkan
dari siang hari.

lalu jendela terbuka, tetapi
tak ada kau
aku menduga bulan
menyembunyikan kau; sebab ia
cemburu, setelah bertahun-tahun
aku bertahan menitip rahasia
dan surat-surat rindu untuk kau.

Baca juga: Air Mata Ibu (Nadya Elga)

Alfin Rizal, Lahir di Magelang, 5 November 1993. Menulis puisi, cerpen dan esai. Bergiat di komunitas Radiobuku. Sudah menerbitkan beberapa buku: Antologi Puisi; Lisan Tulisan (RAR, 2016), Sehimpun Pusi; KESENGSEM (Nyala, 2017) dan Kumpulan Cerpen; LELAKU (SAE, 2016). Sedang mempersiapkan kumcer DENGAN SEPERANGKAT ALAT LUKISAN DIBAYAR TUNAI untuk terbit tahun ini (2018).

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here