Di Pertigaan Kemiskinan

0
Di pertigaan Kemiskinan
Lukisan Affandi berjudul “Bebotoh Ayam (Man With Fighting Cockerel)”

Tubanjogja.orgDi Pertigaan Kemiskinan

Oleh: Joko Gembili

“Mendekatlah. Lebih dekat, supaya aku bisa mengajarimu bagaimana menjadi orang miskin yang salehah.”

Kalimat itu diucapkan kepada istrinya sehabis makan malam yang jauh dari kata sederhana. Di ruangan yang hanya merekalah yang mau menyebutnya kalau itu sebuah ruang tamu.

“Apakah ada, di antara kita yang kini sudah menjadi orang miskin yang salehah?” tanya istrinya.

“Orang-orang masih belum ke situ. Mereka masih ribut dengan permasalahan yang tak ada ujungnya ini. Dan, ini, tak ubahnya sebuah bencana. Malah lebih kejam daripada lumpur lapindo yang menenggelamkan ratusan rumah itu. Ketahuilah istriku, ini adalah saat yang tepat untuk kita menjadi orang miskin yang saleh salehah.”

““Bukannya aku tak percaya. Tapi…” istrinya diam. Tak melanjutkan kalimat yang sudah di ujung lidah. Menelannya lagi dan memutuskan untuk menelanya lebih dalam.

“Tak ada salahnya. Di saat mereka memperjuangkan kehidupan yang ujung-ujungnya hanya menunggu kekalahan ini. Itu terlalu mendasar. Tepatnya menunggu misikin, kita mengubah arah yang awalnya orang biasa-biasa saja, kini menjadi orang miskin yang saleh salehah. Renungilah, itu sebuah pangkat yang jarang orang menyandangnya. Apalagi orang miskin yang saleh salehah itu korban dari tangan-tangan orang pintar, tapi jarang di antara mereka yang mempunyai hati.”

Baca Juga : Cerpen Joko Gembili: Kado Yang Ditinggalkan

Memang tak pantas kalau tempat berteduh mereka kini di sebut rumah yang layak. Jauh dari kata itu. Dinding yang terbuat dari kayu bambu. Atap genting sisa dari rumah mereka yang tergusur. Itu pun masih perlu daun rotan untuk menambalnya, supaya hujan tak dapat menembus.

“Apakah kita akan seterusnya seperti ini?” seketika suasana menjadi sunyi setelah kalimat itu keluar dari mulut istrinya.

“Apa yang bisa kita lakukan. Lahan kita. Padi yang belum saatnya panen. Semua tergusur. Semua ludes,” dan nada itu, sedikit demi sedikit mulai memelan.

Istrinya termenung. Perlahan menggeser tubuhnya dan mendekat ke arah lelaki berumur empat puluh tahun itu.

“Kamu ingat, dulu, setiap menjelang salat, kita selalu berjalan menuju masjid. Menunaikan salat berjamaah. Saat melintasi rumah pak Kandar, yang kini sudah rata, kita sering mampir. Mengendong anaknya, Frida si cantik katamu.”

“Aku dengar dia tahu akan hal ini jauh hari. Sawahnya dijual dengan harga yang sepantasnya. Mungkin uang itu kini dibelikan rumah yang bagus.”

“Apakah kamu menyesal?”

“Aku tak menyesal. Semua sudah terjadi.”

“Aku akan menjadi apa yang kamu inginkan. Sebagai istri, itu adalah kewajibanku. Aku akan menjadi orang miskin yang salehah seperti katamu.”

Baca Juga : Waktu Itu – Kau di Bawah Atap Rumah, Aku dibawah Bintang-bintang

***

Jika siang tiba, maka para istri akan membawakan makan siang untuk suaminya di sawah. Tak perlu dengan piring yang mewah. Sendok yang anti kuman. Mereka cukup dengan piring plastik. Makan tanpa menggunakan sendok. Apa lagi nasi jagung dengan sayur asam. Piring dan sendok sudah tidak lagi diperlukan. Mereka lebih menikmati makan di atas daun pisang dan langsung menggunakan tangan.

Ya. Hanya menziarahi waktu dalam angan. Kini semua itu sudah tidak bisa di jumpai lagi. Sudah rata. Bahkan tempat tinggal para petani tidak bisa diselamatkan. Tetangga yang awalnya begitu rukun, saling menyapa, saling bertukar hasil panen, kini terpecah akibat gusuran.

Lihatlah, ulah segelintir tangan jahil itu. Dampaknya begitu besar. Sesama saling bermusuhan. Adu pukul. Melempar batu. Adu mulut. Yang kaya melempar tinta sebagai senjatanya yang paling ampuh. Yang miskin hanya mampu melempar batu sebab itulah hal terakhir yang mampu mereka perbuat. Yang kuasa melempar tinta, yang itu lebih kejam daripada pisau, tapi si penguasa hukum tak bisa berbuat apa-apa. Si miskin, yang hanya mampu melempar batu karena itulah hal terakhir yang mampu mereka lakukan, si penguasa hukum berlagak.

Baca Juga : Kematian “Jancok” di Awal Abad 21

***

“Kau tahu, istriku. Saling melempar adalah perbuatan yang melanggar hukum?”

Di malam yang begitu damai, keluarga miskin yang sedang menjalankan misi besarnya; menjadi orang miskin yang saleh salehah, duduk di depan rumah menikmati angin yang tak mampu dibeli siapa pun. langit yang cerah. Bulan yang begitu bulat. Dalam hitungan jawa, ini tepat tanggal lima belas.

“Kau pernah menerangkan hal itu. Katamu tidak baik hukumnya.”

“Kau benar, istriku.”

“Mereka tidak tahu. Yang susah, yang justru itu tidak baik dalam agama, mereka kejar mati-matian. Saudaranya sendiri mereka terlantarkan demi kepentingan kelompoknya. Ratusan jiwa dibuatnya menjadi susah. Padahal, misi mereka banyak saingannya, mereka pun tahu akan hal itu. Ada yang lebih mudah, pesaingnya pun tak terlalu banyak, sudah pasti ini disenangi Tuhan, menjadi orang miskin yang saleh salehah. Tapi tak banyak orang menyukainya. Bahkan banyak yang menghindari.”

Sedangkan di sana. Orang-orang pada merencanakan misinya. Misi yang begitu sepele, urusan duniawi. Sesungguhnya tak ada apanya misi orang-orang itu di banding mereka, si miskin.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here