Generasi Pembelajar, Masa Lalu, dan Masa Depan

1
Generasi Pembelajar
www.hollywoodreporter.com

Generasi Pembelajar – Kita sudah tidak asing dengan nama Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi atau lebih dikenal dengan al Farabi. Ia ilmuwan dan filsuf Islam yang berasal dari Farab, Kazakhstan. al Farabi dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dari era abad pertengahan. Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al Farabi dapat ditinjau menjadi 6 bagian: Logika, Ilmu-ilmu Matematika, Ilmu Alam, Teologi, Ilmu Politik dan kenegaraan, Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah). Al Farabi menelurkan karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tentang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah Islam. Kenapa kita belum bisa sepertinya?

Satu lagi manusia pembelajar, Al Battani. Ia dikenal sebagai Albatenius. Adalah sosok ahli astronomi dan matematika dari Arab. Al Battani lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal dalam astronomi adalah tentang penentuan Tahun Matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri: persamaan trigonometri, Ia juga memecahkan persamaan sin x= a cos x dan menemukan rumus: Ia menggunakan gagasan Al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen.

Baca juga: Sebelum Pendidikan

Dalam buku The 500 Most Influential Muslims in The World yang diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC), terdapat delapan nama tokoh Indonesia yang masuk kategori muslim paling berpengaruh. Suatu hal yang cukup menjadi kebanggan dari bangsa kita. Sekaligus mampu menjadi pelecut semangat generasi milineal saat ini.

Bahkan tiga tokoh Nusantara masuk dalam 50 besar dunia loh, keren kan? Pasti. Yaitu Mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi (18) (yang kini telah wafat, semoga husnul khotimah), mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin (35), dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) (48). Di Luar itu, ada anak bangsa yang mempunyai peran vital di Dunia. Azyumardi Azra, Susilo Bambang Yudhoyono, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Syafi’i Ma’arif, Joko Widodo, dan Helvy Tiana Rosa.

Baca juga: Antara Gus Dur dan Gusdurian

Di Tokoh perempuan ada Tuti Alawiyaah, Mantan Menteri di Era Presiden Soeharto; tokoh NU, Siti Musdah Mulia; pendiri sekaligus Direktur Pusat Studi Pesantren dan Demokrasi, Lily Zakiyah Munir; serta penghafal Alquran, Hajjah Maria Ulfah, yang juga masuk di kategori seni dan budaya. Para tokoh tersebut merupakan manusia yang gemar belajar dan membelajari.

Mereka semua menjadi terkenal tidak dengan mudah. Mereka melalui proses yang panjang, mereka adalah orang-orang yang tidak kenal lelah untuk belajar. Mereka belajar dari berbagai kesempatan. Mereka belajar dari keberhasilan orang-orang dan keberhasilan dirinya sendiri. Mereka belajar dari kegagalan orang lain dan kegagalan dirinya sendiri. Mereka belajar dari berbagai hal, dari pengalaman, dari hasil penglihatannya, dari koran, majalah, televisi bahkan sekarang belajar dari internet. Bagi mereka buku bukan satu-satunya sumber belajar.

Baca juga: Tiga Pilar Pendidiikan yang Terlupakan

Menunjuk pada pemikiran James R Davis dan Adelaide B Davis, mencintai hal-hal baru, pemikiran baru, dan keterampilan baru. Ia belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi lebih dari itu untuk berpikir dan memecahkan masalah. Manusia pembelajar belajar dan mengembangkan ilmu tak hanya dari bangku kuliah dan teks book, tapi juga pengalaman dan realitas sebenarnya. R Davis menyebutnya dengan istilah perpetual learner (pembelajar sejati). Memasuki era baru ini, setiap orang dari kita, tidak bisa tidak, mesti menjadi pembelajar. Manusia pembelajar tidak diukur dari gelar dan atribut lahiriah yang dimiliki, tapi dari mental dan karakternya, serta dari kontribusi untuk kemajuan ilmu dan peradaban.

Manusia pembelajar tidak diukur dari gelar dan atribut lahiriah yang dimiliki, tapi dari mental dan karakternya, serta dari kontribusi untuk kemajuan ilmu dan peradaban. Kita telah banyak menemui banyak orang yang tak punya gelar akademik di perguruan tinggi, tapi mampu membuat alat canggih atau menjadi inspirasi bagi khalayak. Sebagai contoh, Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, Purdi E Chandra, Andy F. Noya, Bob Sadino, Ajip Rosid, M. H. Ainun Najib, dan Adam Malik.

Nusantara telah banyak “Menelurkan” ilmuwan muslim kelas dunia. Karya-karya dari mereka telah menajadi bahan kebermanfaatam yang tak terkira. Siapa mereka? Ada nama B.J. Habibie ilmuan dengan 46 hak paten, menciptakan satu pesawat jenis N250 dan heli Airbus A 300, Warsito Purwo Taruno menciptakan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), Taruna Ikrar menggembangkan Optogenetic Laser Stimulation (suatu metode yang mampu mengaktifkan dan menonaktifkan sel saraf di otak melalui spektrum cahaya tertentu), Tri Mumpuni menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM), Khoirul Anwar telah mematenkan karyanya yakni 4G LTE (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).

Ada juga nama Zamrisyaf (ilmuwan penemu listrik laut), Yudi Utomo (Dirut Batantek, penemu kontainer nuklir), Ricky Elson (ilmuwan otomotif, 14 hak paten dunia), Robert Manurung (penemu minyak jarak murni), Sedyatmo (penemu pondasi cakar ayam), Bambang Widiatmoko (ilmuwan laser OFCG Jepang, 30 hak paten), Izza Aulia Putri Purwanto dan Hanun Dzatirrajwa (penemu ular tangga untuk tuna netra),  Lucan Feliciano menciptakan robot pengangkut sampah. Penemu yang berjasa dengan jenis karyanya masing-masing. Karya yang akan abadi menjadi khazanah keilmuan dunia.

Nama-nama yang saya sebutkan di atas adalah bagian dari generasi pembelajar yang telah malang melintang di dunia. Abadi dengan karya yang fenomenal demi pengabdian. Mungkinkah kita mampu menjadi seperti mereka? Jawabnya sangat mungkin. Pintu terbuka lebar. Tinggal kita mau merubah nasib kita dari sekarang. Melangkah untuk perubahan yang lebih besar. Jika masih belum mampu merubah dirimu, jangan punya impian untuk merubah dunia.

Bangsa akan besar dan kuat jika didalamnya terdapat orang-orang pembelajar yang tinggi untuk selalu berkarya.

Ikhwan Fahrudin, pegiat literasi dan anggota IGI Tuban

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here