Manusia Gunung, Manusia Cacing

0
Manusia Gunung
Ilustrasi gambar diambil dari cdn.brilio.net

tubanjogja.org – Manusia Gunung

Oleh: Lev Widodo

Barangkali benar: perkembangan teknologi informasi dan komunikasi cenderung mendangkalkan cara berpikir kita. Dalam dunia media sosial yang berpadu dengan e-commerce, penampilan lahiriah dirayakan.

Tampang ditempatkan lebih tinggi daripada kapasitas dan kapabilitas. Kecantikan kemasan lebih utama daripada kualitas produk. Bentuk lebih penting daripada isi. “Topeng” identitas mengalahkan kepribadian asli yang disembunyikan dalam realitas di belakang layar. Dunia media sosial dianggap lebih nyata daripada kenyataan yang sesungguhnya.

Hal itu rupanya menimbulkan efek samping bagi kesehatan kebudayaan kita: rasa kemanusiaan surut dan menyusut. Orang lain dihormati atas dasar penampilannya belaka. Demi merebut penghormatan sosial, kita pun meletakkan manajemen—sebenarnya: manipulasi dan rekayasa—penampilan lahiriah di atas penataan kepribadian secara rohani. Pendeknya, kita memandang manusia, baik manusia itu adalah orang lain maupun diri sendiri, sebatas dari segi penampilan.

Baca juga: Kritik Nalar Negara Islam (indonesia)

Karena pandangan yang formal dan simbolis ini, terjadi ketidakadilan sejak menilai orang lain. Orang yang bertampang besar, agung, dan mulia—apalagi populer, segera dipuji-puji dan dipuja-puja. Sebaliknya, orang yang berpenampilan kecil, buru-buru disepelekan, direndahkan, dan dianggap tiada.

Padahal, manusia bukan makhluk berdimensi tunggal. Identitas yang ditampilkan dalam media sosial merupakan unsur kecil dari struktur identitas yang dihayati dalam kehidupan nyata. Kemasan yang dipajang, wajah yang dipampang, dan dimensi yang dipamerkan, tidak sepenuhnya dan seutuhnya merepresentasikan sosok manusia yang berada di balik kemasan, wajah, dan dimensi tersebut.

Boleh jadi, individu bergaya pakaian sederhana yang mencitrakan diri sebagai orang kecil, sesungguhnya adalah pribadi agung yang law profile. Sebaliknya, individu yang berbusana mewah dan mencitrakan diri sebagai orang besar, sesungguhnya hanyalah petualang politik yang berkepribadian busuk.

Boleh jadi pula, muslim yang mengenakan stelan ulama dan mememerkan diri sebagai cendekiawan pandai, sejatinya adalah demagog yang membodohi umat demi mewujudkan interest pribadi. Sebaliknya, muslim yang berbusana “sekuler” barangkali adalah ulama yang secara tulus dan sungguh-sungguh mewarisi perjuangan spritual para nabi.

Karena merebaknya manipulasi dan rekayasa tampang itulah, pesan “kemanusiaan” para sesepuh Jawa menjadi amat relevan pada zaman now saat ini. Mereka mengingatkan, giri lusi, janma tan kena ingina. Terjemahan kreatifnya, entah bertampang gunung, entah berpenampilan cacing, manusia tak boleh dihina.

Gunung menandakan kebesaran. Cacing melambangkan ke-kecil-an. Manusia tidak dihormati atas dasar kebesaran atau ke-kecil-an lahiriahnya belaka. Tidak adil bila menilai orang lain berdasarkan penampilan lahiriah saja. Bagaimana pun tampang lahiriahnya, juga bagaimana pun struktur identitas yang disembunyikan di belakang layar media sosial, manusia berhak memperoleh penghormatan dari sesamanya, pertama-tama karena dia adalah manusia.

Manusia, siapa pun dia, lahir sebagai makhluk yang pada fitrahnya sudah mulia. Dia adalah hamba yang secara khusus diamanahi tugas sebagai wakil Tuhan (khalifah) di muka bumi. Di antara seluruh ciptaan, dialah makhluk yang bermartabat paling tinggi. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling istimewa. Mengapa kita merendahkan, menghinakan, bahkan “meniadakan” manusia, makhluk yang ditinggikan, dimuliakan, dan dibuat ber-ada oleh Sang Pencipta?

Baca juga: Terbunuhnya Kreativitas Manusia

Yogyakarta, 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here