Puisi-Puisi Hendri Krisdiyanto: Pesan Mendung Pada Hujan

2
mendung
Hendry Krisdiyanto

Pesan Mendung Pada Hujan

Saat engkau aku lepas
Pergilah ke setiap tempat yang lembah
Carilah mulut yang sanggup menampung-mu
Saat musim pancaroba tiba.

Saat engkau aku lepas
Itu artinya akan banyak lagi
Engkau yang baru
Sebagai engkau, gerimis
Atau bahkan badai sekalipun

Jatuhlah pada setiap
Kebutuhan yang kurang.

Dam sebelum pesan ini
Tuntas ketahuilah
Aku bangga menjadi mendung
Yang tak pernah mampu menampung-mu

Yogyakarta,2017

Baca juga: Kepada Perpisahan (Alfin Rizal)

Di sepanjang jalan
Banguntapan

Di sepanjang jalan ini
Lalu-lalang kendaraan
Bagai capung di
musim semi
Udara terdesak di tengahnya.

Sebagai seorang asing
Aku tak ingin kecewa
Dengan keadaan
Apalagi polusi yang semakin nyata
Didepan mata.

Di sepanjang jalan ini
Banyak pejalan kaki
Dengan harap masing-masing
Aku percaya
Mereka ingin yang lebih indah.

Sebagai seorang asing
Tak banyak catatan mengalir
Dari ingatan

Yogyakarta,2017

Baca juga: Lima Cinta yang Kecewa (Daruz Armedia)

Sebagai Anggur

Sebagai anggur
Ambillah rasaku yang paling nikmat
Untuk kau teguk.

Jangan ragu untuk sekedar memetikku
Dari ibuku yang telah merawatku tumbuh

Takdirku adalah menerbangkan setiap orang
Ke alamku yang fana
Hingga setiap dari mereka mabuk.

Yogyakarta,2017

Pada Suatu Malam

Di halaman
Setelah hujan menyisakan gerimis
Burung berkicau hanya sekali

Sedang daun di ujung reranting
Begitu riang menggapai cuaca

Aku tak pernah sendiri malam ini
Selain engkau yang datang sebagai khayal
Dan kenyataan tak lagi ramah
Mimpi-mimpi sanggup menenggelamkanku
Ke alam yang tak seorangpun tahu.

Yogyakarta,2017

 Baca juga: Cerobong Asap. Asap-Asap Pekat (A. Wahib)

November

Di bawah lampu
Cahayanya memantul ke wajahku
Di halaman mendung mengubur mimpi
Bayang-bayang.

Dan aku di dalam kamar
Sibuk mencatat peristiwa
Yang tertinggal dalam tidurku.

Waktu terus berjalan
Sedang aku lupa bagaimana
Cara mengingat kenangan.

Yogyakarta,2017

Kepada Mendung

Aku memandangmu dari kedai
Di pinggir jalan Banguntapan

Sebagai gumpalan hitam
Yang mengubur mimpi bulan
Di malam kelam.

Aku tahu
Selain mengundang hujan
Engkau adalah keteduhan
Saat sepanjang siang
Matahari terang.

Yogyakarta,2017

Baca juga: Sajak-Sajak Hafiz (Penyair Sufi Persia)

Kepada Klinting

Sejauh kaki melangkah
Di Kota yang tak lagi ramah
Sejauh ingatan kelam tentangmu
Pada setiap waktu tak tentu
Aku rindu.

Bagaimana nasib cintaku, Tuhanku?

Aku tak pernah mampu
Menanggalkan segenap cerita
Apalagi peristiwa
Saat kita percaya
Bahwa setia adalah
Pilihan paling mulia.

Namun jawaban
Tak selalu benar
Engkau pergi
Dengan alasan
Mengenang adalah cara terbaik
Untuk bangkit.

Dan ketahuilah, Cintaku
Aku tak pernah menolak
Untuk melupa.
Tetapi berusaha itu berat

Yogyakarta,2017

Hendry Krisdiyanto, lahir di Sumenep, Madura. alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Puisinya pernah dimuat di buletin Jejak Jawa Barat. Bukunya : suatu hari, mereka membunuh musim (Persi :2016 ), kelulus (persi)
Dan sekarang aktiv di Garawiksa Institute Yogyakarta. Nomor Hp. 082332948397.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here