Simbah dan Ingatan Sembilu Masa Lalu

1
simbah dan petani tua
organicfield.wordpress.com

Simbah – Selayaknya manusia, semakin bertambah umur, semakin keriput pula. Seperti Simbah Asmuni, kakek berumur 80 tahun lebih, berasal dari desa Bonang, Lasem, Rembang. Walaupun sudah tua, tapi ingatan beliau tidaklah keriput. Ibarat kata seperti tajamnya silet, dan saking tajam ingatannya, beliau sering bercerita masa-masa lalu, di mana Indonesia masih dijajah jepang sampai semerdeka sekarang.

Jarang-jarang orang seumuranku masih ingat masa-masa penjajahan dulu nak! Kebanyakan mereka sudah pada pikun.” begitu kata Simbah Asmuni.

Dengan melihat kondisi Simbah yang sudah tua, apalagi badannya yang sudah bungkuk dan tidak kuat tegap lagi, bahkan untuk jalan kaki, Simbah membutuhkan bantuan kayu sepanjang ukuran kaki—kami menyebutnya teken—Simbah tinggal menikmati kepasrahan hidupnya. Hanya dengan ibadah Shalat, ngaji, terkadang berdiam diri di rumah, beliau menikmati sisa hidupnya. Terkecuali kalau datang cucu-cucunya, beliau senang sekali, dan juga terhibur alias tidak kesepian.

Baca Juga: Dialog Sunan Kalijaga dan Syaikh Siti Jenar

Ketika Simbah masih muda, Simbah suka dengan bertani. Bahkan dari hasil pertaniannya, Simbah dapat membeli tanah-tanah baru untuk garapan sawah, membeli binatang ternak macam sapi, ayam, dll. Selain itu, juga terhadap keluarganya, Simbah bisa memberikan kecukupan makan dan bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Di masa penjajahan Jepang, waktu itu Simbah Asmuni masih berumur bocah, mulai sejak kecil beliau selalu belajar tentang pertanian. Utamanya dari penjajah Jepang. Seperti cara membuat pupuk kompos yang bagus. Mula-mula dibuat dulu satu lobang yang agak dalam, kemudian dikasihlah semacam rumah atau gubuk di atas lobang itu sebagai atap. Terakhir, taruhlah kotoran hewan di lobang tersebut, pupuk itulah yang dipercaya nantinya akan menjadi bagus alias menyuburkan tanaman. Selain itu adalah cara menanam padi yang harus dilakukan di ladang, dan juga penataan padi yang harus dilakukan sejajar bergaris lurus agar hasilnya rapi.

Bukan hanya dengan penjajah jepang beliau belajar bertani. Ketika Simbah masih duduk di bangku sekolah, Simbah belajar juga bercocok tanam secara baik dan bermanfaat. Misalnya dengan menanam jarak untuk dibuat minyak, kapas untuk dibuat kasur atau bantal, dan lobak, bayam, ketela untuk dimakan.

Selain itu, ada hal menjengkelkan yang dilakukan guru terhadap murid, yakni ketika beranjak masa panen, biasanya murid disuruh pergi ke sawah untuk menangkap belalang. Karena dirasa sebagai pengganggu tanaman atau semacam hama. Setelah belalang dirasa hampir habis, barulah murid boleh kembali pulang ke rumahnya masing-masing.

Baca Juga: Kiriman Akhir Bulan

Lalu bagaimana ketika masa panen Mbah?” tanya seorang cucunya.

Setiap masa panen, petani biasanya melakukan perayaan, dengan maksud sebagai rasa syukur. Biasanya mereka memasak bareng-bareng, kemudian makan bersama-sama. Begitulah cara mereka menikmati hasil pertaniaannya. Tapi, bukan hanya para petani yang melakukan perayaan, bahkan para murid sekolah pun juga merayakan hasil pertaniaannya. Biasanya mereka merayakan bersama guru di sekolah.

Ketika masa panen tiba, petani selalu was-was. Selalu ada kekejaman yang dilakukan penjajah Jepang. Mereka selalu takut hasil pertaniannya disita. Tapi apalah daya rakyat Indonesia, khususnya di desa-desa. Tidak seorang pun yang membela para petani itu. Bahkan lurah yang seharusnya menjadi kepala desa, kini telah menjadi alat pemerintahan. Para petani itu tidak lebih dari budak-budak belian.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya kaum tani di daerah pedesaan. Sepandai-pandai mereka menyimpan berasnya, pasti antek-antek pemerintah tetap mengetahui letak persembunyiannya, bahkan mereka beroperasi dengan 3 orang pegawai kecamatan, atau sebutan zaman dulu komiai.

Trus njenengan makan apa mbah kalau beras disita?”

Ya kita disuruh makan selain padi nak, kalau adanya jagung ya kami makan jagung, adanya ketela ya kita makan ketela, adanya pisang ya kita makan pisang. Dan padi yang mereka sita, akan mereka kirim ke negaranya sendiri yakni jepang.” kata Simbah.

Ngeri ya Mbah!” cucunya tidak kuat membayangkan penderitaan dan kejamnya penderitaan Simbah di masa lalu. “Kalau dari zaman ke zaman pripun Simbah?” lanjut bertanya.

Simbah melanjutkan ceritanya.

Ketika zaman Belanda, Simbah tidak mengetahui sangat, karena Simbah belum lahir. Tapi Simbah ingat betul kekejaman Belanda. Mereka menyuruh rakyat untuk kerja paksa, khususnya sepanjang jalan pantura, yang kebanyakan ditanami banyak pohon asam. Ada sebagian memanfaatkan pohon asam untuk berteduh, ketika terik matahari sangat menyengat, dan juga sebagian rakyat miskin yang merengek-rengek alias mengemis ketika penjajah lewat dijalan pantura tersebut, ya demi apa lagi kalau bukan secuil makanan dari para penjajah Belanda.”

Berlanjut ke zaman Soekarno, di mana Simbah masih merasakan sisa-sisa kesamaan yang dilakukan penjajajahan jepang. Kesamaannya terletak pada masa panen tiba. Biasanya pegawai kecamatan beroprasi ke desa-desa, ketika ada petani yang panen, mereka kadang menyita paksa hasil pertaniannya. Tapi di masa ini penyitaan yang dilakukan tidak terlalu sekejam jepang, karena banyak petani yang sudah mulai memberontak.

Baca juga: Kala Mak Emoh ke Pasar

Zaman Soeharto, Simbah tidak tahu sangat pada zaman ini, karena dirasa aman-aman saja. Tapi simbah menambahi, di zaman ini juga harus hati-hati, karena ketika rakyat tidak menganut aturan pemerintah, berarti siap untuk dibunuh.

Terus adakah sedekah bumi Mbah?”

Terakhir, sebagian petani percaya dengan adanya sedekah akan membawa berkah. Sedekah bumi, menjadi cara untuk menikmati hasil pertanian. Setelah panen, biasanya para petani iuran untuk mengadakan acara syukuran. Seperti di Paseyan, jatirogo, Tuban. “Mereka menikmati sedekah bumi dengan mengadakan syukuran, pengajian dan pewayangan,” ungkap Mustaqim, warga daerah tersebut.

Berbeda di desa Bonang, tempat Simbah menetap. Mereka merayakan sedekah bumi dengan dibarengkannya haul Sunan Bonang, yang bertepatan pada bulan Selo, selasa legi, dan rabu pahing. Selain berucap syukur atas karunia Tuhan. Mereka menyebutnya dengan tani belah dan tani sawah. Tani Belah dimaksudkan para petani yang bekerja di laut alias nelayan, karena posisi Desa Bonang dekat dengan laut dan Tani Sawah ya seperti layaknya petani biasa yang bekerja di sawah.

Sudah Dhuhur nak, ayok kita Shalat!” Simbah pun beranjak dari tempat duduknya, berwudhu, sambil tengklik-tengklik bungkuk, berjalan ke Musala.

Enjih Mbah.” aku pun ikut menyusulnya.

*Cak Inal

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here