Dilan dan Mahasiswa yang Semakin Jenaka saja

Puisi tulisan zav

Dilan – Tiga hari ini, berdasarkan ramalanku, akan menjadi momen paling membosankan buat dua jenis makhluk di Indonesia. Jenis makhluk mal dan jenis makhluk instagram. Aku meramal, hati dan pikiran mereka akan penuh sesak dengan satu mantra, “dilan”.

Apa pasal? Mereka kebanjiran. Bagi pertama, pasti dalam seminggu ini, mereka tidak akan menemukan apa pun di mal kecuali antrian. Di sini antri, di sana antri. Apalagi kalau bukan karena “dilan”. Bahkan—ini yang menarik—rupanya kebosanan berjemaah semacam itu tidak saja terjadi di kota-kota besar semacam Yogyakarta atau pun Bandung. Di kota kecil seperti Bojonegoro hal senada juga pecah.

Baca juga: Generasi Z dan Tirto.id yang Jenaka

Kenyataan bahwa Bojonegoro sekarang usai memiliki fitur Bioskop merupakan alasan mendasar mengapa demikian. Jika sebelumnya mungkin makhluk mal tidak akan terganggu dengan antrian “film”, hari ini semuanya tidak lagi sama. Belum lagi ketika rupanya, jemaah dari luar kota, sebagaimana banyak viral di grup-grup FB daerah Tuban, Lamongan, Jombang, Blora, dan sekitarnya (seperti MIOT yang konon katanya tempat berbagi informasi sehat), turut berbondong menuju Bojonegoro. Lengkap sudah, antrian mana lagi yang kau dustakan?

Adapun bagi makhluk kedua, kita bisa mengamatinya sendiri betapa seminggu ini, beranda IG penuh sesak dengan kutipan-kutipan, gambar, dan sebagainya soal “dilan”. Berpijak pada kata dilan buat milea bahwa rasa “bosan” akan terjadi ketika intensitas bertemunya tinggi, maka jelas mereka adalah jenis makhluk paling bosan tahun ini. The most bored man this year!

Baca juga: Akhir Zaman Aksara

Kematian Pembaca

Lalu, kenapa jika mereka bosan? Ada yang salah? Bukannya setiap hal berpotensi membosankan? Iya betul sekali. Dari sisi tersebut, tidak ada yang perlu diresahkan. Tapi coba kita menggeser sejenak perspektif kita. Bagaimana kalau kita mencoba jendela psiko-historis. Duh, heuheu.  

Gimana, sudah dapat benang merahnya? Iyes, kira-kira demikian. Ini adalah tentang kejenakaan. Pernah tidak kalian berpikir, kapan trilogi novel dilan terbit dan muncul ke permukaan? Tahun 2014, 2015, dan 2016. Pertanyaannya, kenapa mereka heboh baru tahun 2018? Kenapa mereka baper baru ketika mau rilis filmnya?

Menurut ramalanku, ada dua teori soal ini. Pertama, mereka belum membaca novelnya atau bahkan tidak pernah benar-benar tahu jika film dilan diangkat dari karya sastra yang begitu membius. Semisal sudah familier, aku ragu mereka akan seheboh saat ini. Walhasil, aku pikir tidak berlebihan jika fenomena di muka bisa kita pakai untuk membenarkan betapa animo membaca pemuda Indonesia jauh di bawah rata-rata.

Baca juga: Generasi Pembelajar?

Kedua, mereka termakan “kutipan” atau omongan-omongan tetangga di media asosial. Dari alasan pertama, mungkin kita akan mempertanyakan: jika belum pernah baca novelnya, mengapa mereka bisa begitu heboh mendengar akan dirilisnya film dilan? Iya, aku pikir ini murni dampak dari “kutipan” yang bergentayangan di sana-sini.

Jika dilacak, awalnya mereka tidak tahu, makanan apakah “dilan” ini. Selanjutnya, mereka mulai mengenal lewat instagram, “Oh ternyata dilan itu cowok yang bajingan romantisnya”. Karena pemuda 2017 akhir suka yang romantis-romantis, maka mulailah mereka kepo. Mulailah pula mereka terbius dengan kutipan-kutipan ala dilanisme. Kemudian, sebab namanya juga punya bibir—yang konon selalu lebih panjang dari jalan—tersebarlah virus dilan. Walhasil, jadilah ia tren.

Lantas?

Pendek kata, alasan paling masuk akal mengapa dua makhluk di atas sana tadi rela berbosan ria—bahkan antri serta berkorban materi—demi dilan adalah karena nilai tertentu yang mereka ciptakan sendiri, mereka yakini sendiri, dan diperjuangkan sendiri. Satu lagi: sumbernya adalah “kutipan”. Bukan buku sastra dilan. Biasanya orang-orang semacam ini cenderung tidak tertarik sama sekali untuk meraba dulu hati dan pikirannya: mengapa mereka harus rela antri nonton, mengapa rela pula bertengkar dengan temannya di media asocial gegara peran si Ikbal itu, dan sejenisnya.

Walhasil—karena kebanyakan dari dua jenis makhluk ini (bukan bermaksud julit loh) sering pula menggunakan kata hijrah dan hijab—sepertinya apa yang digubahkan al-Quran sebagai “jenis manusia yang beku hatinya dan memfosil pikirannya” (al-An’am: 110 dan al-Baqarah: 88) usai dapat kita jumpai di sekitar pekarangan rumah.

Download Novel Dilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here