Puisi-Puisi Fery Taufik: Sayatan Abu Tak Arang

0
Fery Taufiq sayatan
Fery Taufiq

Sayatan Abu Tak Arang

Haruskah mencari ingatan kemarin lusa?
Perjalanan tak kunjung padam hanya sementara
Sekarang hanya isak tangis saja
Mencoba berlatih meniup
Untuk abu untuk arang
Hanya mengganjal di jiwa
Tapi sukar pula tuk mengibasnya
Seperti endapan lumpur sudah kaku
Atau bunga rose
Beterbangan merah aromanya
Aku butuh kau tapi tak hirau
Kumenari dalam tangisan malam sunyi
Tapi kau juga tak peka
Maka ingin juga rasanya diriku berkelana
Tanpa kenal siapa aku
Meninggalkan semuanya

Majalengka, 15 November 2014
PPRM Cisambeng- majalengka

Senja di Jogjakarta

Memoar dendang ada di pangkuanmu
Kalaupun syair berbicara semua kisah
Maka aku sendiri jadi pena
Menjamah putihnya semak
Untuk lukisan tinta merah
Aku dilema,
Memaksa senja berbicara
Dengan Jogjakarta aku bertanya
Masih harapkah aku padamu?
Meranaku hanya sebatas senja
Sudah tak terlihat di ufuk timur
Haruskah aku lupa atas dia?
Hingga berumbung memilukan tubuhku
Senjaku tetap terharapkan
Di Yogyakarta mencapai puncak jaya
Aku dipaksa pilu sekali lagi
Memahami dirimu tanpa kau mengerti
Maka aku tekatkan saja duduk
Menanti senja menyapaku
Di kota Yogyakarta

Yogyakarta, 04 November 2014
Rel kreta dan lewat sebuah kreta ekomomi progo, Yogyakarta

Baca juga: Palestina Negeri Tak Bertuan (Rudi Santoso)

Pahlawan Terlupakan

Sekali lagi “lawan”
Bukan kata, bukan pula pena
Tapi tulus tetesan arsenal mendesing kepala
Berguna runcingnya bambu
Rakyatku bukan lupa
Karena 10 sucinya tanggal
Bercerita di jiwa november
Maka sekali lagi “lawan”
Mencari ideologi bangsa pertiwi
Siap menjamah aksara romawi
Berjuang demi satu
Maka ‘merdeka”
Indonesia dengan kau
Berlayar ke semua negara
Kalaupun disisi dia memakan
Segala usung kelaparan
Tetap saja,
Indonesiaku berkibar tak terlupakan

Raudlatul Ulum-Pati, 10 November 2012

Sayup Benalu

Benalu itukah yang dulunya kau namakan sabana
Nan rentangan angin berlari, mencangkang layak kerbau tak bertanduk
Di sudut terhimpit tepi kau berdiri
Merunduk sunyi yang tak berbunyi
Sayub itu dibenalu,
Engkau tahukan itu apa?
Tak usahlah, begitu lancang jika tak jadi tabu
Pasti itu ada diujung sana
Lereng merbabu lutut engkau taruh, apa tak jauh?
Merangkak pelan-pelan, tapi tetap saja tak ada harapan

Pati, 10 Januari 2011

Baca juga: Sabda Gelombang (Ac. Wahib)

Patriot Tikus

Kicau bibir yang merauk telinga ini,
Dari ambang tak kasap mata tetap saja ekormu menepi
Kian lama sampai pangkat engkau angkat
Dan setinggi tombak kau arak
Lagi dari lambang kau panjangkan membentuk pedang
Kau tahu gerigi bersemi di kakimu itu?
Terlalu sakit menghantam yang ingin menegakkan tongkatnya
Tapi tetap saja, sakit, panas, lapar, haus pun tak ada hirauan
Terlalu pedih bukan?
Dan lagi menetes deras air liurmu membanjiri sawah yang darimu perpajak
Sial!
Itu hanya diusung nama patriot
Tapi, pilihan menuju mengangkatmu
Sampai kita sendiri berlayar menepi kalau itu sebuah tikus

Raudlatul Ulum-Pati, 29 Januari 2011

Sendu

Bilamana usai ranjau menggelitikku
Opini revormasi dikhayalkan layaknya lautan api
Negri dikapabel sari akan sanubari
Cakrawala menggenggam sisi Ilahi

Negriku surgaku…
Huh, tetap saja nihil sayup dirimu
Lalu apa?
Korupsisasi negerimu
Ah, sudahlah! Realita menyagkal ada rasa iba
Biar aku tikus dan kau rakus

Pati, 11 Juli 2011

Hitammu- Putihku

Dirimu bukan diriku
Maksudmu bukan maksudku

Disini engkau berkuasa
Tapi aku sengsara

Hawa nafsu bersamaku!

Tuban-Semarang, 25 Juni 2012
Dijalanan aku melihat ketidak adilan yang begitu kejam

Baca juga: Pesan Mendung Pada Hujan (Hendri Krisdiyanto)

Cinta Cahaya

Ada pagi kelabu di matamu yang kau tak bisa kuburkan sekalipun
Penuh kabut menjelma embun
Kadang kalau kelam mengelami awan
Menjeritkan petir-petir yang sedang mencicit
Ada pagi gerimis di matamu mengundang

Pasti terbit mentari nanti
Yang siap mencekik pagi kelabu
Menebas lembut kabutmu
Menulis serta awan kelammu
Mengusir petir-petirmu
Gerimis akan terbunuh mati

Di matamu ini mentari menerik
Pernah menerangi hari dan aku
Hendak merupa mentarimu dan engkau masih membalik
Belum kena aku, dibelakang aku
Engkau terus menanti cahayamu

Yogyakarta, 5 Desember 2014

Si Lajang Tongkrongan

Kau…
Ulamu memecah keningku
Kau tak dirasa untuk merasakan
Itu ghoni bukan ghonimah
Kau ambil, rakus
Kau…
Pejamlah!
Bubur nasi terlanjur hancur, kerut, hanyut, kunyut, tak berbentuk, mengkeruk, busuk
Di urat nadi kau menusuk

11 Februari 2015

Download Buku Sastra

Fery Taufiq, tinggal di Yogyakarta. Sekarang ia masih belajar menekuni ilmu kehidupan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here