Thibbun Nabawi?

0
http://porsiwp.eumroh.com

Thibbun Nabawi – Sebagaimana banyak kita ketahui, habbatussauda seperti minyak zaitun, madu, dan bekam (hijamah) merupakan alternatif pengobatan pada era modern. Bahkan, kedokteran kontemporer mulai tertarik meneliti karena kandungannya yang mujarab sebagai obat. Kita percaya bahwa habbatussauda adalah obat segala penyakit, tetapi orang yang meramu dan melakukan pengobatannya juga harus orang ahli serta memiliki pengalaman.

Produk Habatussauda hanyalah beberapa dari sekian banyak thibbun nabawi atau pengobatan nabi yang pernah diajarkan Nabi Muhammad. “Tidaklah Tuhan menurunkan penyakit melainkan beserta penawarnya,” hadis riwayat Imam Bukhari. Walhasil, sampailah kepada manusia bahwa segala penyakit yang muncul di dunia ini tidak akan pernah muncul tanpa ada obatnya.

Pada dasarnya, semua penyakit yang ada saat ini semuanya terdapat obatnya. Jika ada penyakit yang belum ada obatnya, itulah yang menjadi pertanyaan besar terhadap praktisi kesehatan saat ini.

Istilah thibbun nabawi sebenarnya tak dikenal pada masa kerasulan. Penggunaan istilah tersebut baru familier pada abad ke-13 oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad. Dalam bahasa Arab, thibb berasal dari kata thabba – yathubbu – thabban yang bermakna kemahiran, memperbaiki, mengobati. Dari akar kata yang sama, thabib berarti pelaku yang mengobati atau dokter. Sehingga, thibb-an-nabawi secara bahasa berarti pengobatan nabi.

Thibbun Nabawi adalah segala sesuatu yang disebutkan oleh Alquran dan Al-Hadits yang shahih yang berkaitan dengan kedokteran baik berupa pencegahan atau pengobatan (penyakit jasad, roh, dan indera) yang diucapkan, ditetapkan (akui) secara pasti (bukan sangkaan) dan diamalkan oleh Rasul, baik untuk mengobati dirinya sendiri atau orang lain.”

Kunci dari pengobatan ini adalah prinsip dasar yang harus dimiliki pada saat melakukan terapi. Yaitu, pasrah dan yakin dengan izin Tuhan semua penyakit bisa disembuhkan, Istikamah dalam pengobatannya, diagnosa, ramuan (pemilihan obat), dan dosis yang tepat. Hindari berbagai pantangan yang dapat menghambat kerja obat.

Pengobatan Thibbun Nabawi harus dilakukan secara konsisten dan dengan diagnosa serta dosis yang tepat. Tidak cukup dengan hanya sekali saja karena proses penyembuhan terkadang tidak terjadi dalam satu malam. Perlu konsistensi dalam penyembuhan pasien, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Namun dengan kadar keimanan dan keyakinan yang tinggi semua itu sangat bisa terjadi.

Rasul bersabda, “Sesungguhnya habbatus sauda ini merupakan obat dari semua penyakit, kecuali dari penyakit al-saam. Aku (yakni Aisyah) bertanya: Apakah al-saam itu? Beliau menjawab: kematian.” [HR. Al-Bukhari].

 

Ada sebagian orang salah paham dengan thibbun nabawi. Ada yang sekadar minum habbatus sauda dan minum madu tanpa takaran yang jelas. Ia sangka sudah menerapkan thibbun nabawi. Padahal seperti yang sudah dijelaskan bahwa thibbun nabawi merupakan suatu metode yang kompleks. Begitu juga dengan sebagian kecil pelaku herbal yang hanya dengan menambahkan madu atau habbatus sauda dalam ramuannya, maka ia klaim bahwa ramuannya adalah thibbun nabawi.

Perlu kita ketahui bahwa konsep thibbun nabawi adalah konsep kedokteran yang kompleks sebagaimana kedokteran yang lain. Dalam thibbun nabawi perlu juga kemampuan mendiagnosa penyakit, meramu bahan dan kadarnya, mengetahui dosis obat dan lain-lain.

Rasul juga mengajarkan pengobatan seberti bekam (hijamah), khitan, wudhu, dan gurah. Selain itu, ayat-ayat Alquran juga sering kali digunakan untuk pengobatan. Dikenal juga pengobatan dengan ru’yah. Sejarah bekam dimulai pada zaman Rasul. Ini bisa dibuktikan pada salah satu hadis dari Ibnu Umar bahwa Rasul bersabda:Tidaklah aku melalui satu dari langit-langit yang ada melainkan Para Malaikat, mengatakan: Hai Muhammad, perintahkan umatmu untuk berbekam. Karena sebaik-baik sarana yang kalian pergunakan untuk berobat adalah bekam, al-kist (cendana india) dan syuniz (jintan hitam).

Manfaat bekam adalah dalam membantu proses penyembuhan. Terdapat setidaknya 3 faktor “penyembuh”, yaitu: Pengeluaran darah kotor atau darah yang berpotensi mengandung toksin, Perbaikan fungsi organ tubuh, dan Penambahan antibodi tubuh.

*Ikhwan Fakhrudin, pegiat literasi dan anggota IGI Tuban

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here