Manifesto Djakarta, Sebuah Pemikiran Geopolitik Tan Malaka

0
tan malaka

“Jago atau anjing besar jarang sekali berkelahi dengan lawannya yang sama besar, yang satu akan berdamai dengan yang lainnya.”

Kutipan di atas adalah sebuah pikiran Tan Malaka yang cerdas tentang perimbangan kekuatan dalam percaturan geopolitik global yang ditulis dalam Manifesto Jakarta, 7 september 1945, sekitar 20 hari paska proklamasi. pikiran ini mendahului tentang pembentukan Masyarakat ekonomi ASEAN atau ASEAN + Australia. ASLIA adalah gabungan dari negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Burma, Thailand, Kamboja dan Annam (Laos, Vietnam) serta Australia subtropis bagian utara yang dihuni oleh orang aborigin. Tan mengatakan gabungan ini bisa satu negara atau dengan bersekutu membuat uni, dalam politik, ekonomi serta militer. Tan Malaka sangat yakin sekali dengan luas wilayah ASLIA yang 3 juta mil persegi, sumberdaya alam yang melimpah serta penduduk 150 juta jiwa kala itu, kemakmuran bisa diwujudkan.

Tan Malaka bahkan lebih maju lagi ketika membagi sekutu paska menang perang dunia ll menjadi 2 blok yaitu China – Soviet Rusia dan blok Inggris. Tan masih menganggap AS netral dalam pertarungan geopolitik paska PD ll. Dalam hal ini pak tan menulis:

“Memang Indonesia-lah salah satu daerah yang harusnya menjadi kenang-kenangan untuk Inggris. Semenanjung Malaka tentu akan tetap menjadi bulan-bulanannya Imperialisme Inggris itu. Lebih daripada sebelum perang dunia kedua ini Inggris mengharapkan barang penting dari Indonesia seperti minyak tanah, getah dan lain-lain. Untuk mencoba akan berdirinya kembali sebagai negara kelas satu Inggris akan mencoba mamasuki daerah yang dianggapnya cukup lemah, seperti Indonesia kita.”

Dalam sejarah, Inggris menjadi motor utama yang mendukung Belanda untuk menyerang Indonesia. Peristiwa Surabaya, Bandung Lautan Api, kranji Bekasi jatuh, Linggardjati, Renville dan banyak lagi adalah otak dari Inggris yang ingin membagi sumber daya alam Indonesia hanya untuk Inggris dan Belanda. Dalam perjalanan sejarah, AS juga tergiur dengan kekayaan Indonesia. Untuk persoalan ini Tan menulis tentang AS:

“Tetapi bagaimanapun juga minyak tanah, getah dan timah Indonesia bukanlah barang yang tidak diperdulikan oleh Amerika. Inilah bahan yang senantiasa menarik perhatian Amerika ke Indonesia dan inilah pula bahan mentah yang memaksa Indonesia menaruh perhatian terhadap Amerika. Persoalan Indonesia-Amerika, pendeknya apakah kelak Amerika akan bersikap keras ingin memiliki dan mengurus sumber minyak dan kebun getah di Indonesia? Apakah Amerika akan senang dengan hasil “minyak” yang dimiliki, diusahakan dan dipekerjakan oleh rakyat Indonesia saja dan mempertukarkan bahan mentah Indonesia dengan hasil pabrik Amerika?”

Download Buku-Buku Tan Malaka

Sebelum Presiden Soekarno mengumandangkan poros Jakarta-Peking, Tan Malaka dalam manifesto ini sudah mewacanakan untuk menjalin hubungan ekonomi politik selain dengan Soviet Rusia. Tan Malaka menyatakan:

“Modal Tionghoa yang ada di Indonesia adalah satu perkara yang bisa mempertemukan Republik Tiongkok Merdeka dengan Republik Indonesia Merdeka. Tiongkok butuh modal orang Tionghoa yang ada di Indonesia dan Indonesia akan mendapatkan mendapat bahagia kalau modal Tionghoa itu dipindahkan dari Indonesia bersama dengan sebagian besar Tionghoa yang berpengalaman yang dibutuhkan oleh Tiongkok Baru. Dengan premufakatan Tiongkok-Indonesia dan bantuan dari kedua belah pihak bisa diadakan tindakan yang akan amat menguntungkan Indonesia dan Tiongkok keduanya.
Selain daripada kepentingan bersama seperti yang sudah disebutkan diatas, keduanya sedang mempertahankan diri terhadap Imperialisme asing. Kalau dipikirkan pula bahwa Tiongkok dan Indonesia mempunyai bentuk negara yang bersamaan yaitu republik yang berdasarkan kedaulatan rakyat, maka sepantasnyalah kedua negara itu bermufakat dan bersekutu menghadapi musuh bersama”.

Dari manifesto ini, Tan Malaka begitu canggih dalam hitung-hitungan kekuatan bahkan sebelum Perang dingin terjadi antara blok Soviet dan blok AS. Perang antar ideologi ini yg mana digambarkan oleh Tan bahwa Rusia China sebagai negara yang anti imperialis akan berhadapan dengan blok Inggris yang ingin memutar lagi roda ekonominya paska lumpuh dalam perang dunia ll. Konsekuensi dari perputaran roda ekonomi adalah imperialisme yang akan dijalankan oleh Inggris.

Geopolitik sekarang sebenarnya tak jauh beda dari yang dibaca Tan Malaka 20 hari paska proklamasi. Blok ekonomi politik dan geopolitik tidak jauh beda perebutan hegemoni dan dominasi dua blok ini.

Bahkan 20 hari paska Proklamasi 1945 Tan Malaka sudah bilang “Inggris akan TERKENANG dengan alam Indonesia yg kaya raya….”

Baca Juga: http: Al-Maidah 51 dan Nasib Fiqh Politik Indonesia 

*Haidar Ali Mahmudi adalah pemuda peternak kambing. Tinggal di Pati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here