Homo Sapiens Zaman Future; Hindari Kuman-Kuman di Media Sosial

0
homo sapiens
Ilustrasi gambar diambil dari pepnews.com

tubanjogja.org – Homo Sapiens

Oleh Mbah Takrib

Hewan yang paling berbahaya di dunia ini adalah kuman (jahat), sedang kuman yang paling berbahaya adalah keluhan manusia yang panjang. – Qoida Nor

Manusia adalah mahluk multi-dimensial. Setelah akhir evolusi tahap mutahir yang pada puncaknya dikenal sebagai Homo Sapiens (manusia berbudaya), manusia berkembang sebegitu rupa dengan berbagai label. Mulai dari Homo Socius, Homo Politicus sampai Homo Religious dan lain-lain. Pendefenisian itu dalam berbagai bidang keilmuan, diidentifikasi berdasarkan pada produk kebudayaan yang dihasilkan.

Jika manusia adalah mahluk yang tidak dapat hidup sendiri dan harus membuat kelompok atau masyarakat dalam mempertahankan diri, maka disebutlah ia sebagai Homo Socius. Dan bila dalam masyarakat itu, manusia memiliki kebutuhan untuk terus berkembang dan memperbaiki diri maupun kelompok, melalui pembuatan mekanisme dari visi-misi bersama guna menjalankan sistem bermasyarakat, maka disebutlah ia sebagai Homo Politicus. Sedangkan saat manusia menemukan dimensi metafisik dan mengenal Tuhan, untuk memenuhi kebutuhan rohani guna keluar dari kejumutan materi, maka disebut ia sebagai Homo Religuous.

Lalu sejak kapan ketiga dimensi itu melekat dalam diri manusia? Dalam ungkapan yang cukup absurd dari Marcea Eliade, menyebutkan; manusia mengenal Tuhan/agama (mungkin juga ikatan bermasyarakat dan cita-cita bersama) adalah ketika ia mengenal dirinya sendiri. Artinya, ketiga hal tersebut telah ada jauh melampaui era media sosial saat ini.

Era dimana sepertinya kita harus menggugat kembali kesadaran tetang bagaimana menjadi  Homo Sapiensi yang baik dan benar. Bagaimana tidak, saat akses publikasi-informasi dibuka selebar-selebarnya–dimana setiap pribadi berhak mengungkapkan isi pikiran masing-masing. Nyatanya, telah banyak kita jumpai “kemunduran-kemunduran nalar berfikir”[1]. Maksudnya, ketika ketiga hal itu telah mereproduksi beragam nilai dalam mengatur kehidupan umat manusia, pada sisi—yang dapat dikatakan—kelam, justru tidak mempu menciptakan tata kehidupan yang lebih baik. Setidaknya, itulah yang penulis jumpai dalam bermedia sosial, semacam facebook maupun yang lain.

Ketidakwarasan itu, telah menjelma dalam berbagai postingan yang berteberan. Beragam jenisnya, dapat dikatagorikan dalam tiga isu dan kepentinga pokok, yaitu politik, sosial dan agama—yang bisa juga bias kepintingan ekonomi.

Download Buku Politik

Di ranah politik, identitas simbolik-formalistik telah diekploitasi sedemikian rupa melalui kampanye-kampanye anti dan atau mendukung kelompok atau individu tertentu guna berebut kuasa. Hal yang masih melekat dalam ingatan dan belum tuntas sampai sekarang, dapat kita lihat dari dramaturgi pilkada di Jakarta. Dimana telah menjalar ke pelosok-pelosok desa yang berada jauh dari ibu kota dan tidak memiliki kaitan politik langsung. Sentimen SARA[2], masih laku keras untuk melakukan mobilisasi masa, black campaign menjadi sesuatu yang tidak dapat dikontrol di media sosial. Bahkan, di group facebook di beberapa daerah contohnya Tuban, ada group yang (sepertinya) memang sengaja dibuat untuk melakukan propaganda SARA dalam merekonstruksi kesadaran politik warga nitizen.

Politik yang seyogyanya berorientasi pada kepentingan bersama. Di media sosial, kini telah menjelma kedalam politik praktis yang berorentasi pada kepentingan kelompok dan golongan. Pemaknaan itu, tidak lepas dari bagaimana manusia moderen–ditopang media masa–mengkerdilkan makna politik yang terbatas pada pemilihan umum, partai politik, pemerintah dan rakyat (komoditas). Sehingga wajar, bila ada orang-orang yang melakukan kritik kebijkan (politik nilai), justru dianggap subvertif, biangkerok keonaran dan mengancam kemapanan yang selama ini dianggap sebagai sebuah kebenaran dan tidak dapat digugat.[3]

Itulah yang terjadi selama ini di media sosial. Dimana orang-orang yang menyajikan kritik atas kebijakan pemerintah melalui artikel yang ditulis panjang lebar, malah tidak mendapat tanggapan yang serius—berbeda dengan postingan berupa gambar atau video dengan kutipan kata-kata yang menggugah, namun tidak cukup menerangkan, justru ramai. Hal itu memang dapat dimaklumi, mengingat selain krisis kesadaran politik (nilai), semakin menjamurnya media sosial tidak sertamerta dibarengi dengan tradisi leterasi yang baik. Maka jangan heran jika banyak pengguna media sosial latah terhadap isu politik, tanpa mau melihat secara jeli kepentingan yang bermain dibelakangnya.

Dalam kajian ilmu politik, fenomena semacam ini sesungguhnya merupakan suatu penyakit. Hal ini seperti yang dipopulerkan oleh Syafiq Alielha (2000), sebagai fenomena Populi Vacante (kekosongan masyarakat) yang dapat diartikan sebagai kehampaan politik dalam masyarakat. Maksudnya, ditengah derasnya akrobatik politik media sosial sesungguhnya kering ideologi dan  pedoman politik, sehingga wajar jika mayarakat media sosial memilik kecendurungan terombang-ambing.

Kefanaan itu, tidak terlepas dari arus politik yang terbangun pasca reformasi. Dimana dalam sistem politik yang terbuka, menjamurnya partai politik dan kebebasan akses berpolitik, nyatanya tidak berbanding lurus dengan menguatnya ideologi politik dan sistem kaderisasi partai politik. Hampir semua partai politik memiliki cita rasa yang sama tanpa mampu dibedakan secara mendasar–kecuali logo dan brand. Begitupun perilaku kader partai politik, lihatlah pilkada Jawa Timur–tahun ini dan satu periode yang lalu–serta beberapa daerah yang lain, maka akan dapat dijumpai berbagai kualisi tanpa hubungan ideologis dan hanya soal kepentingan pragmatis semata.

Download Buku Sosial

Di ranah sosial, kelatahan adalah suatu penyakit yang akut. Kosa kata hitz menjadi kiblat bagi para pengguna media sosial, seolah jika setiap postingan tidak mengikuti suatu yang sedang menjadi tranding topic keberadaan dirinya dalam bermedia sosial menjadi lenyap (eksistensi). Bahkan, saat ini beberapa acara televisi–dalam rangka bertahan di tengah pasar industri media—juga melakukan improvisasi dalam mengakomodir sesuatu yang sedang viral di media sosial.

Dalam kajian patologi media sosial, oleh Muhadzir M. Salda fenomena ini disebut sebagai jempol latah. Orang dengan sangat mudah memberi like, melakukan repost atau share karena mengikuti tren atau empati terhadap postingan, tanpa melakukan penelusuran lebih mendalam soal kredibilitas postingan dan kepentingan yang ada belakang[4]. Bahkan, seringkali karena postingan yang kontroversial, pengguna media sosial (tak jarang) bertengkar dan saling melempar cacian.[5]

Download Buku Agama

Di ranah agama, lebih tragis lagi. Semangat beragama (bukan kesadaran) yang tinggi di masyarakat kita, seolah menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Agama ditambang sedemikian rupa untuk keuntungan pribadi. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari MLM (Paytren ustadz Yusuf Mansur) sampai pengepul follower dan lainnya.

Mohon maaf, untuk dua hal itu penulis hendak tegas bersikap. Bahwa bisnis dengan menjual identitas agama, bagi penulis jauh dari kata bermartabat. Apalagi, pelaksanaan bisnis itu menggunakan sistem down line yang justru tidak berfokus pada produk, melainkan pada pencarian konsumen untuk dijadikan bawahan (marketing baru), ini semacam jual beli orang. Dan menjijikannya, promosi yang digunakan adalah dengan pamer harta kekayaan atau pendapatan, suatu yang tidak diperbolehkan dalam agama (riya’), belum lagi MLM model ini juga menggunakan pemberian shodaqoh untuk membangun brand.

Selanjutanya adalah agama yang tampil dalam bentuk akun atau postingan. Selain nama-nama yang sangat agamis, seperti Cinta Islam, Cinta Rasul, Islam Agamaku dan lain-lain, hal-hal yang diposting juga bikin geregetan. Pasalnya, dalam banyak akalimat ajakannya selalu memaksa untuk like, komen dan share. Dan seperti yang kita ketahui bersama ketiganya adalah suatu cara yang efektif untuk meningkatkan jangkauan dan jumlah pengikut. Lalu apa yang terjadi setelahnya? Iya betul, akun itu akan berubah nama untuk dijual dangan harga yang tinggi. Kita tidak tau, apa akun itu selanjutnya dijadikan media bisnis online atau disalahgunakan untuk probaganda dan anjuran kebencian. Faktanya, itulah yang sering penulis jumpai sepanjang bermedia sosial.

Lebih lanjut, ada kecenderungan yang juga menyayat nurani. Sebab selain postingan yang berbau agama, gambar-gambar yang digunakan adalah yang mendorong rasa empatik tanpa tau validitasnya. Namun yang pasti terjadi–dari gambar atau video itu–, mereka juga telah menjual penderitaan orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Hal ini sangat mungkin  terjadi, karena agama di media sosial lebih sebagai life stayle dan bukan way of life. Dalam bahasa Ahmad Taufiq disebut sebagai “agama ayam sayur”, suatu cara beragama yang mengedepankan tampilan semata tanpa merengkuh religiusitas yang sesungguhnya. Maka dari itu penting bagi pendakwah di media sosial untuk merekonstruksi kembali metode berdakwahnya. Sebab telah banyak kita jumpai, agama di media sosial sungguh telah kehilangan jatidirinya yang luhur; suatu cara keluar dari kejumudan materi berubah menjadi alat untuk menimbun materi.

Melihat kebingisan manusia yang sebegitu rupa dalam berbagai dimensi. Maka wajar jika sastrawan seperti Daruz Armedian, memikirkan sebegitu serius tentang sisi gelap umat manusia yang ditulis dalam sebuah cerpen berjudul “Bagaimana Kalau Kita Saling Membunuh Saja?”. Dengan mengutip istilah yang dicetuskan oleh Plautus, yang berbunyi Homo Homini Lupus, artinya manusia adalah serigala bagi sesama. Begitulah Homo Sapiens yang kita kenal, selain bertindak sebagai Homo Socius, Politic dan Religiusus, manusia adalah pemangsa.

Terakhir, jika kamu cinta Indonesia dan sepakat dengan artikel di Tuban Jogja ini, klik like, share dan ketik amin, semoga pembaca sekalian masuk surga, amin. Ah, tidak-tidak, kami tidak senista itu untuk mengejar hal-hal duniawi. kwkwkw

Baca juga: Kritik Nalar Negara Islam (M. Dawam Rahardo)

[1] Penciptaan alat (teknologi) dan sisitem (mekanis) memang telah bergerak maju. Ditandai dengan semakin mudahnya manusia menjalani kehidupan. Tetapi di sisi lain, justru terjadi ketimpangan yang disebabkan oleh kerakusan hewani manusia itu sendiri, bentuknya adalah ketimpangan ekomomi, soasial, politik dan komersialisasi/komoditi nila dan agama.

[2] SARA (Suku, Agama dan Ras) suatu istilah yang sering digunakan untuk melebili ide, isu dan propaganda yang menebar kebencian pada kelompok lain atas nama identitas (SARA). Tetapi disisi lain, banyak pula orang yang berlebihan menyikapinya. Hal Ini pernah saya jumpai ketika seorang kawan yang menuliskan artikel soal kritik wacana agama–yang disebar di media sosial–dilabeli SARA hanya gegara ia menggugat sesuatu yang sudah mapan di masyarakat.

[3] Padahal, kalau kita baca ulang pengetahuan tentang ilmu politik, mula-mula yang akan kita jumpai adalah materi-materi politik dalam dimensi nilai, sebagaimana ditulis Plato (Republik) dan Aristoteles (Politik). Kemudian dari nilai itulah lahir mekanisme-mekanisme berpolitik yang juga kita kenal dengan politik praksis.

[4] Dilansir dari PepNews.com Muhadzir M. Salda juga mengurai bagaimana postingan dengan gambar-gambar dan kutipan empatik untuk mendapatkan banyak pengikut dan memperluas jangkauan, sesungguhnya mengandung unsur komersil. Akun yang meminta “like, komentar dan share” setelah mendapat cukup banyak pengikut akan dijual kepada pegiat bisnis online atau penyebar ideologi tertentu (biasanya islam radikal atau islam politik dan atau islam lifestayle/formalistik).

[5] Berdasarkan pengalaman penulis, gerakan bullying di media sosial kerap kali terjadi diakibatkan oleh tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terhadap tradisi membaca dan tidak mau pusing memahami permasalahan. Mereka bertindak buru-buru dengan mengedapankan ego masing-masing. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa media sosial (transformasi)—yang merepresentasikan kesadaran masyarakat—belum memberi pengaruh konstruktif terhadap meningkatnya kecerdasan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here