Perempuan yang Kehilangan Jalan

0
http://jogja.tribunnews.com

Perempuan – tubanjogja.org

Women losing her way, women is lost

Saya adalah makhluk Tuhan yang secara kebetulan diberi jenis kelamin perempuan. Sampai detik ini pun saya menerimanya dengan penuh suka cita. Kebetulan dari Tuhan bagi saya adalah sesuatu yang given, tidak bisa dipertukarkan. Saya juga tidak berkeinginan bertukar jenis kelamin. Tulisan ini hanya sebagian kecil perasaan keterlemparan saya sebagai perempuan yang berada di masyarakat.

Baca juga: Perempuan tidak baik-baik

Membicarakan perempuan adalah membicarakan diri saya sendiri. Saya merupakan salah satu dari sekian banyak perempuan yang ikut terjebak dalam pelanggengan penyebutan, perempuan sebagai makhluk nomer dua setelah laki-laki. Penyebutan itu, karena konon perempuan (termasuk aku) tercipta dari tulang rusuk laki-laki.

Cerita tersebut sampai saat ini tidak ada yang tahu kebenarannya. Namun, sesuatu yang diyakini itu, selalu direproduksi di masyarakat terus-menerus dan tidak lekang oleh waktu dari massa ke massa. Bisa dikatakan, itu adalah cerita warisan yang menbentuk budaya, bahwa perempuan adalah makhluk nomer dua setelah laki-laki.

Cerita tersebut bisa dikatakan sebagai mitos. Maksudnya bukanlah mitos yang hanya dimaknai sebagai cerita rakyat yang memiliki nilai kearifan lokal. Misalnya seperti cerita rakyat; Joko Tarub, Joko Tingkir dan lain sebagainya itu. Namun mitos dalam hal ini lebih ditekankan pada konsep mitos dari Barthes (2009) yang melihat mitos sebagai sebuh pesan teks. Walhasil, setiap orang yang ingin memahami mitos tersebut, maka perlu pemahaman yang menyeluruh.

Baca juga: Malam dan Perempuan

Mitos perlu dipahami secara menyeluruh karena mitos diyakini Barthes dapat mengubah budaya, mengubah sejarah, dan perubahan itu nampak alami walau telah terjadi perubahan. Karena mitos bersifat sebagai pengetahuan yang setiap hari diproduksi, dan masyarakat menerima semua hal itu sebagai hal yang alami, dan biasa saja (wajar), sehingga pengetahuan itu pun tanpa sadar telah mengendap dan menjadi ideologi. Begitu pula dengan mitos perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki.

Baca Juga: Festival kampus 2017, DPRD TUBAN, dan Kematian Makna

Mitos perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki telah memberikan pemahaman bahwa  perempuan adalah bagian dari tubuh laki-laki. Maksudnya, perempuan tidak akan pernah ada manakala laki-laki tidak tercipta terlebih dahulu. Pengetahun bahwa perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok telah menanamkan asumsi bahwa tulang rusuk yang bengkok harus diluruskan.

Tulang rusuk bengkok adalah simbol kecacatan, sehingga perlu diluruskan agar terlihat indah. Dengan pemahaman ini, seolah-olah lelaki adalah orang yang mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menata perempuan agar tidak cacat dan dapat terlihat indah. Pemahaman ini pun dipraktikan dalam bermasyarakat. Dengan memperlakukan perempuan seperti benda. Ia harus ditata seperti halnya batako yang digunakan dalam membangun rumah. Padalah perempuan juga manusia seperti laki-laki. Ia juga mampu berpikir tanpa harus didekte.

Perlakuan dengan tidak memberikan kesempatan perempuan untuk berpikir inilah yang pada akhirnya membentuk perempuan untuk selalu tergantung pada laki-laki. Misalnya saja, dalam keluarga yang memiliki posisi tertinggi sebagai kepala keluarga laki-laki. Orang yang bertanggungjawab atas miskin atau kayanya sebuah keluarga adalah laki-laki. Klaim-klaim seperti itulah yang membuat perempuan semakin tergantung dengan laki-laki.

Laki-laki bagi perempuan menjadi hal yang penting. Jika dalam ilmu sosial Karl Marx mengatakan agama adalah candu. Maka dalam perspektif ini, laki-laki adalah candu bagi perempuan. Laki-laki adalah kekayaan termewah bagi perempuan. Hal itu terlihat saat beberapa waktu lalu sempat viral pemberitaan diberbagai media tentang Perebut Laki Orang (PELAKOR). Berita ini sontak meresahkan para nyonya, bahkan hingga nona-nona.

Pelaku dari PELAKOR adalah seorang perempuan. Walhasil, yang resah pun kebanyakan dari kaum perempuan itu sendiri. Kalau untuk para lelaki resah atau tidak dengan adanya pemberitaan PELAKOR, saya tidak tau. Karena dalam hal ini saya melihat dari sisi perempuan. Para nyonya dan nona merasa geram atas berita tersebut. Meraka takut jika lelaki yang dimilikinya direbut perempuan lain. Sontak para nyonya dan nona meluapkan segala kekesalannya atas perilaku PELAKOR dengan memberikan komen pada kolom-kolom artikel berita tertentu.  Bahkan ada juga yang membuat status dengan tema kekesalan pada PELAKOR. Kurang lebih mereka berkeinginan untuk menjambak, memukul, menguyel, ngulek wajah PELAKOR dengan sambal dan berbagai keinginan yang penuh emosional lainnya.

Luapan emosi betapa geramnya para perempuan atas perilaku PELAKOR tersebut adalah sebuah bukti pentingnya laki-laki bagi seorang perempuan. Perempuan dalam hal itu seperti saling memperebutkan laki-laki. Yang satu dianggap perebut (PELAKOR), yang satu menganggap dirinya sebagai pemiliki lelaki yang paling sah. Perempuan menggap laki-laki seperti benda mati. Padahal laki-laki juga manusia. Ia mampu berpikir, dan bertindak.

Menganggap laki-laki sebagai benda mati adalah bukti, bahwa perempuan sangat mengagungkan laki-laki ketimbang kaumnya sendiri. Tanpa omongan tersurat PELAKOR telah dianggap sebagai perempuan jalang, lacur, sialan, jahat. Adapun laki-laki dalam peristiwa tersebut, hanya dianggap sebagai korban atas keganasan perempuan.

Cerita itu pun hampir sama dengan cerita mitos “Yusuf dan Zuilaikha” yang sempat saya dengar disaat masih usia belia. Saat itu saya pun menganggap Zulaikha adalah perempuan jahanam yang telah memfitnah Yusuf. Yusuf juga sebuah bentuk cerita mitos yang menjadikannya sebagai korban kebrutalan nafsu Zulaikha. Saya, dan mungkin beberapa pembaca atau pendengar cerita mitos itu pun, hanya sebatas melihat pakaian Yusuf yang robek. Namun, lupa melihat kepedihan Zulaikha seorang perempuan yang lemah mampu melakukan hal itu.

Saya pikir kurang lebih begitu pula yang dialami oleh PELAKOR. PELAKOR yang notabennya hanya sebatas perempuan lemah, namun dianggap sebagai penggoda lelaki yang notabenya kuat. Saat suami orang lain bersama PELAKOR ini bukanlah sebuah kegiatan rebutan lelaki. Namun memang terjadi gaya tarik menarik. Laki-laki adalah makhluk hidup. Ia mampu berfikir dan memutuskan sesuatu. Sehingga tidak mungkin, ia dapat rampas atau direbut, selayaknya benda mati. Andai suami orang lain mau bersama PELAKOR, tentu itu tidak atas dasar ia direbut, atau rampas. Tapi memang ia mengingkan atas kebersamaan itu. Meskipun begitu, sayangnya perempuan yang berstatus sebagai istri dari lelaki yang bersama PELAKOR tersebut, terlampau mengagungkan suaminya, sehingga dimatanya suaminya tidak pernah salah. Yang salah hanyalah PELAKOR. PELAKOR-lah telah menggoda suaminya.

Perempuan dalam kasus ini ikut terbius oleh mitos yang ada di masyarakat. Mitos perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, hingga melahirkan pemahaman bahwa perempuan adalah makhluk nomer dua setelah laki-laki. Hasilnya, perempuan sangat layak dianggap sebagai biang kerok dari setiap masalah. Lantas laki-laki yang dalam kasus tersebut hanya dianggap sebagai korban dari kebiadaban seorang perempuan. Cerita itu sudah cukup menjelaskan bahwa sampai saat ini perempuan masih sibuk memusuhi kaumnya sendiri. Lantas lupa kepedihan yang dialami kaumnya sendiri. Saling memusuhi, saling tidak percaya pada kaumnya sendiri, adalah sebuah bentuk ketakutan perempuan, jika kelak laki-laki yang ia sukai, miliki akan direbut oleh sesama kaumnya sendiri, sehingga ia harus mempertahankan atas yang ia suka dan miliki.

Pada akhirnya, makhluk Tuhan yang berjenis kelamin perempuan, yang menggunakan seperangkat pakaian, make up, khas perempuan, belum tentu ia berpikir feminin. Begitu pun sebaliknya. Laki-laki yang terlihat keren belum tentu memiliki pemikiran maskulin. Dari sekian paragraf yang saya tulis ini, saya hanya berharap, semoga saja kita (perempuan) ini bukanlah lelaki yang terjebak dalam tubuh perempuan.

Oleh: Dwi Lestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here