Perusahaan Kecantikan, Para Ilmuwan, dan Orang-Orang Gelap

0
https://www.brilio.net

Perusahaan – Salah satu temanku yang berkulit agak gelap tidak jarang mengeluh padaku. Dia menyayangkan beberapa teman kita yang masih saja belum bisa mengapresiasi keindahan secara utuh. “Bagaimana mungkin, mereka mahasiswa, tapi kenapa untuk sekadar warna kulit, mereka tidak bisa adil?” sambatnya. Dalam hati, aku berkata, “Apa hubungannya adil dan mahasiswa? Dasar!”

Aku, kemudian, secara perlahan bertutur padanya. Perkara kulit gelap memang susah, kataku. Ia bukan saja soal sentimen antarindividu. Antara dia dan dia atau antara suku ini dan suku itu. Ada persaingan yang tidak sederhana di dalamnya. Cobalah kau melihatnya dari jendela yang lebih lebar, tentu kau akan segera menemukan betapa di balik “kulit gelap” bersemayam konspirasi para pemodal (perusahaan) produk kecantikan yang bajingan sekali rapinya.

“Maksudmu apa? Aku tidak mengerti.” Heuheu, dia tampak lucu sekali. Bingung membuat wajah gelapnya tidak lagi sama.

Begini, aku melanjutkan, sebetulnya dulu itu, gelap tidak melulu tidak indah. Keindahan (kulit) pada masa lalu bercorak pelangi. Di Lamongan misalnya, indah itu biru, sedangkan di Tuban hijau. Di Gresik pun bisa jadi berbeda. Namun, semuanya berubah ketika ada revolusi industri di Eropa (Barat).

“Apa hubungannya dengan revolusi industri di Eropa? Kan kita di Indonesia.”

Hubungannya terletak pada dua hal: terlalu melimpahnya produk (kecantikan) hasil produksi perusahaan di Eropa dan kenyataan bahwa kita pernah dijajah bangsa Eropa (yang hari ini berlanjut pada tidak sedikitnya intelektual menggemaskan yang belajar di sana). Pertama terjadi karena persaingan. Di sana, ada semacam anggitan bahwa semakin banyak perusahaan mengeluarkan produk, maka semakin lebar pula kemungkinan untung buatnya.

Baca juga: Mencintai itu Natural?

Kemudian, karena semua perusahaan ingin untung, terjadilah produksi besar-besaran oleh perusahaan kecantikan. Ketimpangan pun pecah. Jumlah produk jauh melebihi skala yang membutuhkan. Pasar harus diperluas. Masyarakat Eropa saja tidak cukup. Walhasil, dirambahlah masyarakat Asia sebagai pasar baru bagi perusahaan, termasuk Indonesia. Namun, ketika sampai ke Indonesia (mungkin kisaran akhir abad ke 20), ada problem di sini.

Apa itu? Selera tentang cantik. Mulanya, mungkin kita bisa menyebut bahwa waktu itu cantik tidak melulu putih cerah sebagaimana hari ini. Orang yang berkulit gelap terawat sangat mungkin justru yang menjadi idaman. Bagi produk perusahaan kecantikan Eropa yang ukuran cantiknya jelas putih cerah, tentu ini adalah persoalan tersendiri. Walhasil, mereka rela menggaji mahal para ilmuwan untuk mendiskusikan problem di muka. Inti penelitiannya terporos pada pertanyaan bagaimana membuat masyarakat Asia memiliki selera kecantikan yang sama dengan Eropa.

Baca juga: Kematian Pascamodern

Apakah mereka berhasil? Kita lihat saja hari ini. Mungkin kamu bisa menghitung sendiri, berapa banyak teman perempuan dan laki-lakimu yang setiap bulan rutin ke Larissa, rutin ke LBC, Wardah, Natasha, Nava, dan sejenisnya? Tak terhingga toh. Lha, itu cukup membuktikan betapa para pemodal kecantikan di Eropa berhasil menggeser selera kita. Menggeser sesuatu yang kata Gadamer dulu tidak mungkin bisa diubah. Menggeser selera masyarakat Indonesia yang dulunya tidak terlalu memuja sosok berkulit putih cerah menjadi sebaliknya. Lantas, siapa yang menjadi korban? Jelas, teman-teman kita yang berkulit gelap.

“Duh, masak seperti itu? Jadi, selama ini jenisku ditungganggi dong.” Tanyamu dengan raut muka yang aneh sekali.

“Heuheu, apakah aku tampak mengarang?” Aku menjawab. “Itulah! Stereotipe atas kulit gelap di Indonesia, di Asia, akan berlangsung lama, cuk. Kenapa? Karena mereka (pemegang perusahaan) akan selalu melakukan reproduksi pemahaman kalau yang cantik itu yang putih cerah. Pun, lewatnya adalah orang-orang kita sendiri. Orang-orang akademisi. Orang-orang yang mengklaim dirinya researcher dan sejenisnya. Nasibmu, nak!”

“Bagaimana dengan yang kedua?”

“Besok lagi ya. Aku mau ke Larissa dulu, heuheuheu. ”

“Buajingan kamu!” (Idayu)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here