Ikhlas tidak lagi soal Pasrah kepada Allah

0
http://www.actionesia.com

Ikhlas – Kebanyakan dari kita mungkin pernah atau bahkan sering menggunakan istilah “ikhlas” untuk menyebut kepasrahan total terhadap Allah. Kenyataan bahwa itu lebih realistis dan menenangkan merupakan salah satu alasan barangkali kenapa kita lebih suka memakai “ikhlas”. Logika yang dipakai biasanya adalah taruhan (gamble), yakni betapa pun kita sedih dan bersikukuh tidak rela toh sama saja yang usai hilang tidak bisa lagi kembali.

Namun, di balik semua fenomena penggunaan istilah “ikhlas” di muka, pernahkah kita berpikir jika dalam al-Quran “ikhlas” tidak berarti demikian? Inilah yang menganggu tidurku beberapa hari ini, hingga akhirnya saya merasa penting untuk mengungkapkannya lebih jauh.

Baca juga: Lebih Baik Menepati Janji Buka Bersama daripada Tarawih

Bukti paling mudah dan nyata akannya bisa kita amati dari dua poin dalam al-Quran. Yaitu al-Bayyinah (98): 5 dan surah al-Ikhlas. Sebelum masuk lebih intim, saya kira penting untuk mengabarkan terlebih dulu jika al-Quran sama sekali tidak pernah menyebut kata ikhlas kecuali hanya dalam term “surah al-Ikhlas”. Yang ada sebatas kata mukhlis dengan delapan kali pengulangan.

Masuk pada poin pertama, orang bisa mengamati bagaimana mukhlisin di situ berarti “memurnikan ketaatan”. Orang-orang kafir ahl al-kitab dan musyrik tidaklah dibebani apa pun kecuali hanya memurnikan penyembahan mereka kepada Allah. Dengan ungkapan lain para kafir dan musyrik kala itu, masa al-Quran muncul, tidaklah “murni” dalam menyembah Allah.

Murni seperti apakah yang dimaksud? Kesadaran monoteisme, satu Tuhan. Soal menyembah, boleh diakui, mereka menyembah Tuhan. Tapi, gaya penyembahannya sudah tidak lagi murni seperti dulu ketika ajaran mereka muncul. Mungkin, mereka mengakui adanya tuhan lain di luar Allah, sehingga muncullah 98: 5 sebagai respons.

Sampai di sini, mungkin orang bisa membayangkan, bagaimana jadinya ketika kata mukhlis di dalamnya dipahami sebagai “tulus atau pasrah total terhadap Allah”. Tentu, ia akan segeri menjumpai satu tanda tanya besar. Apa pasal? Sebab subjek ayat tersebut adalah para kafir dan musyrik. Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka bisa pasrah secara total kepada Allah sedangkan kepada-Nya saja mereka masih ragu.

Kedua, surah al-Ikhlas, lebih pada maksud umum surah. Jika memang maksud surah al-Ikhlas secara mendasar adalah “kerelaan yang ujungnya pada Allah”, mungkin tidaklah terlalu penting untuk menyebutkan kata “ahad” di dalamnya. Namun, yang terjadi sebaliknya. Walhasil, jelas bahwa kata “ikhlas” menurut al-Quran cenderung pada kemurnian tauhid. Suatu kemurnian yang tidak saja berkembang di ruang eksklusif Islam, tapi juga ajaran-ajaran lainnya.

Pergeseran Makna

Kenapa kita, Muslim Indonesia, memakai istilah “ikhlas” sedemikian rupa? Ini tidak bisa lepas dari dua perkara. Pertama yaitu lantaran sifat bahasa yang berkembang dan sewena-wena atau kesepakatan. Karena sifat tersebut, tentu perubahan makna semacam ini tidak bisa dinodai. Dan bahkan justru tidak bisa dihindari.

Kedua lantaran teksnya terbuka, meminjam bahasanya Umberto Eco. Teks al-Quran soal kata mukhlis maksudnya. Dengan bahasa lain, sebab teksnya tidak terutup dan kaku, maka sebagai manusia Muslim yang melekat dengan perkembangan zaman, tentu perbedaan-perbedaan interpretasi usai menjadi hal yang niscaya. Surah al-Ikhlas misalnya, di situ tidak ditulis secara kaku makna kata ikhlas—yang ada hanya poin-poin mendasar—sehingga tentu ini memicu banyak kegaduhan spekulasi di setiap benak pembaca, termasuk kita. Walhasil, muncullah makna baru atas “ikhlas”, yakni sebagai bentuk ketulusan hati yang berporos pada Allah.

Baca juga: Tahajjud di Warung Kopi

Apakah itu boleh dan tidak menentang maksud al-Quran? Jelas boleh dan sama sekali tidak menentang. Kenyataan bahwa makna baru yang kita sepakati di Indonesia tidaklah bertentangan dengan nilai universal al-Quran merupakan salah satu alasan mengapa demikian. Selainnya, malahan, ini merupakan bentuk kreativitas. Bentuk resepsi kita sebagai Muslim atas kitab sucinya, al-Quran. Bentuk akhir dari tarik ulur antara al-Quran yang muncul ratusan tahun silam di semenanjung Arab dengan kondisi sosial kemasyarakatan kita di Indonesia tahun 2018.

Lantas? Pertanyaan bagus. Karangan ini hanya mencoba untuk memberi informasi jika sebetulnya al-Quran tidak pernah bicara soal ikhlas, tapi mukhlis. Bahwa sesungguhnya al-Quran tidak memakai istilah tersebut sebagai sesuatu yang berkonotasi “ketulusan hati dengan Allah sebagai ujungnya”. Dan satu lagi: bahwa adanya makna baru seperti yang kita pakai tidak lain merupakan resepsi atau penafsiran kita sebagai Muslim atas al-Quran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here