Takmir yang Sendu

0
http://redaksiindonesia.com

Takmir – “Menjadi seorang takmir tidaklah mudah, butuh kekuatan, ketekatan, ketaatan niat, dan kesiapan mental jiwa raga, agar bisa menjadi takmir sebenar-benarnya,” begitulah ucap Cak Tuqon.

Tidak terasa sudah empat tahun berlalu, Cak Tuqon mengembara sebagai takmir. Berpindah masjid menjadi pengalaman yang tidak pernah dilupakannya. Dan ini merupakan kali ketiganya ia berpindah masjid.

Baca juga: Simbah dan Ingatan Sembilu Masa Lalu

Bagi Cak Tuqon ada kenikmatan dan kepedihan tersendiri tentunya. Kenikmatan timbul ketika takmir mendapatkan rejeki seng ora nyono-nyono, utamanya saat mereka kelaparan, dan secara tidak sengaja datanglah makanan yang tidak terduga-duga dari hamba Tuhan. Bagi takmir Itulah rejeki yang selalu ditunggunya, “min haitsu la yahtasib,” sebutan singkatnya.

Tapi kepedihan terasa jikalau permintaan takmir sulit terpenuhi, karena banyaknya alasan yang selalu diutarakan. Seperti cerita Cak Tuqon.

Suatu ketika Cak Tuqon pernah datang protes ke sesepuh, dengan alasan menyuarakan jeritan terdalam dari pelaksana takmir. Tapi apalah daya, berontak protes Cak Tuqon selalu berujung diamnya sesepuh. Karena diam merupakan alasan penyelemat bagi sesepuh dan ia juga sadar diri, karena ia hanyalah seorang pendatang yang ingin mendapat tinggal gratis.

Baca juga: Tidak perlu Adil, apalahi sejak dalam Pikiran

“Kamu itu di sini sebagai pendatang, bukan warga sini, tidak usah ikut campur!,” tegas sesepuh takmir, yang masih diingat oleh Cak Tuqon.

Memang benar, dan harus diakui juga, jarang-jarang ada orang perantau mau tinggal di masjid. Mereka malahan akan memilih kos, kontrak, dan bahkan pondok pesantren.

Beberapa orang mengatakan, menjadi takmir adalah suatu kenikmatan, karena alasan tertentu, yaitu “mendapat tinggal gratis.” Padahal kalau kalian tahu sebenarnya, menjadi takmir merupakan keterpaksaan karena tidak tega dengan melihat faktor ekonomi keluarga yang dirasa pas-pasan.

Download buku Economy and Society

“Kalau aku punya uang banyak mah, ngapain jadi takmir.” Keluh Cak Tuqon.

Ya walaupun begitu, bagi Cak Tuqon menjadi seorang takmir harus dilakoninya dengan siap jiwa raga. Palingan tugas takmir ya itu-itu saja. Adzan, iqomah, menjadi imam (jika diperlukan), ceramah, membaca hadis, bersih-bersih masjid, dll. Hanya istiqomah, alias melakukan hal yang berjalan terus menerus, yang menjadi pemberat.

Jerih payah Cak Tuqon selama menjadi takmir terbayarkan dengan sekarung beras. Baginya ini merupakan lebih dari cukup. Karena dibeberapa masjid lain berbeda, ada yang dikasih uang insentif perbulannya, ada juga yang hanya di kasih kamar sebagai tempat tidur.

Berpindah-pindah masjid menjadikan banyak pengalaman yang dialaminya, Cak Tuqon pun suka bercerita.

Suatu kali dengan gaya meyakinkan, Cak Tuqon maju ke depan para jamaah, untuk menjadi imam salat isuk. Biasanya setelah shalat ataupun didalam waktu shalat, jarang para jemaah melakukan ritual-ritual doa apa pun, kecuali ritual doa yang dilantunkan sendiri di dalam hati.

Setelah berucap niat, di rakaat kedua, tanpa disengaja Cak Tuqon menggunakan doa ritual, yang tidak biasa dilakukan di masjid itu. Sungguh! benar-benar tidak sengaja Cak Tuqon melantunkan doa ritual waktu itu.

Tapi ketidaksengajaan tersebut, menjadikan Cak Tuqon kena batunya sendiri, ia malah mendapatkan bulian, ia dianggap sebagai kaum lain, kaum yang dianggap selain dari golongannya.

Akhirnya, disetiap qomat berkumandang, Cak Tuqon tidak diberi kesempatan lagi untuk menjadi imam. Karena pasti ada golongan tertentu yang langsung menyerobotnya kedepan.

Hingga Cak Tuqonpun memilih untuk diam.

Selain itu, pernah suatu ketika, karena begadang, Cak Tuqon kebablasan bangun tidur subuh. Kelelahan itu tidak terasa memang, hingga sesepuh takmir yang bertindak tegas.

Keesokan harinya, Cak Tuqon dipanggil untuk disidang dengan para sesepuh takmir. Walaupun sebenarnya, kesalahan yang ia perbuat cuma ketiduran, terkadang takmir yang syirik kepadanya, melebih-lebihkan kesalahan Cak Tuqon, hingga ia merasa bersalah dan malu di depan umum. Terkadang juga, karena satu kesalahan, hanya kejelekan yang dinilai sesepuh, walaupun banyak kebaikan yang sudah diperjuangkannya.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

“Kalau masih ingin menjadi takmir disini, ikut jamaah mas!” Bentak sesepuh terhadap Cak Tuqon kala itu.

Selain itu banyak masalah-masalah sensitif, utamanya khas masjid. Bagi Cak Tuqon, ia tidak terlalu mempermasalahkan. Tapi karena banyaknya curhatan warga yang sering ia terima, menjadi masalah yang sangat penting. Untuk apa dana infak selama ini? berapa totalnya? Dan bla, bla, bla. Cak Tuqon pun hanya mangut-mangut mendengar ocehan warga masjid, dan sekali lagi ia lebih memilih diam.

Seperti cerita zaman Soeharto dulu. Cak Tuqon selalu ingat, ketika rakyat tidak mengikuti aturan dari pemerintah, sama halnya menantang maut. Tapi di zaman sekarang, rasanya tidak jauh beda, yang katanya bebas berpendapat, nyatanya seorang takmir seperti Cak Tuqon pun masih tetap bungkam, bahkan diam lebih baik katanya.

“Kalau tidak siap menjadi takmir, silahkan njenengan keluar dari masjid ini mas!” skak sesepuh ketika Cak Tuqon berani melawannya.

Padahal ada kata “saleh ritual, saleh sosial”. Di mana ketika seseorang sudah mencapai kesalehan ritual, lalu bagaimana dengan tingkat kesalehan sosialmu? Apakah sudah anda jalankan, ataukah selama ini hanya urusan nafsu individu semata yang anda jalankan?

Adakah pembaca yang berpengalaman sama seperti Cak Tuqon?

Oleh: Cak Inal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here