Dosen itu Tukang Tambal Ban (Melihat Surah al-Hujurat [49]: 13 dari Mata Heidegger)

http://www.kikasyafii.com

Ada – Sebagaimana diceritakan Ali Syariati dalam bagian akhir bukunya, Ideologi Kaum Intelektual, sampai hari ini praktik perendahan satu jenis manusia atas jenis lainnya masih berlangsung. Mungkin yang membedakan hanya di wilayah permukaan. Jika dulu bentuknya langsung fisik, mungkin, lanjut Syariati, hari ini berupa ideologi.

Bukti nyatanya bisa kita amati, menurutku, dari bagaimana hari ini kelompok intelektual tertentu kerap melihat rendah tetangga-tetangganya yang lulusan SD atau saudaranya yang bekerja sebagai tukang tambal ban. Lebih konkret, kita mungkin pernah melihat beberapa teman yang lebih menghormati orang berjabatan sebagai dosen ketimbang orang berjabatan sebagai tukang parkir di sebuah kafe.

Beberapa hal di muka merupakan contoh betapa perendahan kemanusiaan usai menemukan bentuknya yg baru. Apa itu? Bentuk ideologi, bahasanya Syariati. Lantas, apa yang harus kita lakukan? Pertanyaan ini mengingatkanku pada Gramsci. Ia pernah secara tegas menyatakan begini, “hanya ada satu cara untuk melawan ideologi: ideologi.” Iya, kita harus mendekatinya dengan ideologi juga! Sampai di sini, aku kira tidak ada salahnya jika kita menjadikan al-Quran sebagai ideologi.

Baca juga: Refleksi Sejarah Ideologi Bangsa

Bagaimana pandangan al-Quran mengenai perendahan di atas? Jelas menolak. Mengutuk malahan. Ayat yang bermandikan nuansa demikian adalah surah al-hujurat (49) ayat 13. Padanya, orang bisa menjumpai dengan tegas kalimat, “Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” Antara aku, engkau, dia, dan mereka murni sama. Setara. Tiada yang berhak untuk merendahkan. Sama sekali! Kenapa? Ini yang menarik.

Heidegger dan Kesetaraan Manusia

Heidegger menyebutnya sebagai das sein atau proses mengada. Segala yang ada pasti memiliki “proses mengada-nya”. Tanpanya, ada itu sendiri hanyalah ilusi. Jika kita mengambil contoh tukang tambal ban, di situ terdapat tiga “ada”: tukangnya atau manusia, ban, dan aktivitas menambal. Karena “ada” membutuhkan “proses”, maka setiap dari mereka memiliki “mengada-nya” masing-masing. Bagaimana itu? Mari kita mulai dari awal.

Pertama, untuk “mengada”, manusia membutuhkan “benda” di luar dirinya atau sebut saja “ban” tadi. Relasi kebutuhan tersebut bersifat subjek-objek. Dalam hal ini, si tukang berhak untuk melakukan apa pun terhadap ban demi kepentingan “mengada-nya”. Dengan ungkapan lain, kita baru bisa menyebut si tukang tambal ban sebagai nyata “ada” ketika ia memutuskan untuk senantiasa bekerja. Senantiasa terlibat dengan relasinya dengan ban. Adapun untuk kedua dan ketiga, untuk “mengada”, mereka tidak membutuhkan apa pun kecuali diri mereka sendiri.

Baca juga: Kontradiksi Purba yang senantiasa direproduksi

Sampai di sini, secara cermat bisa kita simpulkan bahwa “ada-nya” manusia selalu menempati posisi subjek. Ia “ada” karena terdapat benda lain di luar dirinya yang senantiasa siap menjadi objeknya (ini sering kita sebut sebagai aktivitas “bekerja”). Dengan demikian, ketika kita memperlakukan manusia sebagai objek, secara bersamaan kita telah merendahkan mereka ke level “benda”. Satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan manusia, dilihat dari kacamata heidegger, yaitu dengan melihatnya sebagai subjek. Pun, secara bersamaan, ketika kita gagal memosisikan manusia sebagai manusia (subjek), maka gagal pulalah kita menjadi manusia yang “nyata”.

Dan sekarang pertanyaannya, sejauh mana kita sadar dan lantas berupaya memperlakukan tetangga-tetangga kita sebagai subjek? Sejauh mana kita bisa adil—tidak hanya dalam hati—untuk bersikap di depan tukang parkir warung dengan dosen di kelas? Sejauh mana kita bisa tetap memosisikan pasangan kita sebagai subjek ketika tengah menyelesaikan persoalan internal? Inilah beberapa pertanyaan yang bagiku merupakan pantulan langsung dari surah al-hujurat (49) ayat 13.

Unduh buku Konsep Ideologi Jorge Larrain di sini 

Sederhananya, untuk merespons bentuk baru dari perendahan kemanusiaan, kita membutuhkan ideologi (al-Quran). Ideologi yang dengannya kita bisa sadar sesadar-sadarnya bahwa manusia itu setara. Bukan saja sebab kitab suci berkata demikian, tapi juga lantaran eksistensi manusia itu sendiri. Suatu eksistensi (ada) yang baru bisa disebut “nyata” ketika manusia satu mampu melihat manusia lain sebagai subjek. Bukan objek. Relasinya jelas subjek-subjek.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here