Pergaulan zaman now, yang lebih banyak berlangsung dalam media sosial daripada dalam kehidupan “nyata”, memberikan sejumlah manfaat dan menyembunyikan sekian mudarat. Manfaatnya, jarak sosial terlipat dan batas sosial runtuh. Kita memiliki lebih banyak saudara “maya” yang tersebar di berbagai penjuru bumi. Di antara mudaratnya: kita jadi lebih sering melihat ke luar daripada menjenguk ke dalam.

Frekuensi kritik terhadap orang lain meningkat. Kemampuan introspeksi menurun. Akibatnya, keinginan untuk membereskan kenyataan keliru di luar sana menjadi lebih besar. Pada saat bersamaan, menyusutlah kehendak untuk memperbaiki kerusakan yang tersembunyi dalam hati sendiri.

Individu dengan kemampuan introspeksi rendah merasa benar di hadapan orang lain yang dia salah-salahkan. Baginya, kebenaran adalah kebenaranku semata. Hatiku tidak (mudah) menerima kebenaran yang ditemukan oleh dan datang dari orang lain, apalagi orang lain itu adalah teman yang kudengki atau musuh yang kudendami. Dialog pun macet. Perbaikan kualitas kepribadian terhenti. Pendidikan karakter menghadapi jalan buntu.

Baca juga: Hindari Kuman-Kuman Media Sosial

Walaupun pada zaman now tampil secara lebih mencolok, kondisi ini sebenarnya fenomena yang umum terjadi pada segala zaman. Karena itulah, beberapa kebudayaan tua sudah melakukan diagnosis dan menyiapkan obatnya. Dalam kebudayaan Makassar misalnya, kita menemukan peribahasa ini: tedong lompo mate i rawa ri sirinna natena naciniki sama-sama mate ri sirinna taua na nacinik. Artinya, kerbau besar mati di kolong rumahnya tidak dilihat; kutu mati di rumah orang lain dilihatnya.

Diagnosis penyakit kebudayaan tersebut mengisyaratkan obatnya, yaitu introspeksi. Marilah sering-sering menjenguk ke dalam diri sendiri sebelum menatap tajam kesalahan orang lain dengan tangan terkepal dan otot menegang. Siapakah pihak yang sesungguhnya salah? Hanya diakah? Jangan-jangan aku turut berkontribusi dalam menciptakan kesalahan tersebut. Atau, justru kesalahannya berpangkal pada kesalahanku. Lantas, bila memang demikian, siapa yang perlu dibereskan: dia atau aku? Mana yang sebenarnya gelap: kenyataan di luar, ataukah kenyataan dalam hati sendiri?

Sebagai penutup, saya tergoda untuk mengutip Gibran agak panjang. Dalam The Prophet, dia menulis, “karena tidak ada sehelai daun pun yang dapat menguning tanpa sepengetahuan seluruh pohon—meskipun ia tetap diam, demikian pula, si salah tak dapat berbuat salah tanpa keinginan nafsu sekalian manusia—walaupun nafsu itu terpendam”.

“Kalian berjalan,” lanjut sang pujangga Lebanon itu, “dalam iringan bersama menuju Ruh Suci. Kalian sebagai pejalan sekaligus yang merintisnya. Jika ada di antara kalian yang jatuh tersandung, hal itu mengandung kebaikan bagi mereka yang berada di belakang—sebuah peringatan bahaya adanya batu yang menghalang. Dan dia yang tersungkur juga disebabkan oleh perbuatan [orang-orang] yang berjalan di depan. Sebab, meskipun melangkah lebih tegap dan lebih mantap, mereka telah lupa menyingkirkan batu perintang jalan.”

Download buku-buku sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here