Pacarku Memintaku Membelikan Buku ‘Pacarku Memintaku Menjadi Matahari’ Untuknya

1
'Pacarku Memintaku Menjadi Matahari'

Pacarku memintaku membelikan buku ‘Pacarku Memintaku Menjadi Matahari’ untuknya. Aku bilang, jangan. Buku yang lain saja. Masih mending kamu meminta buku Cara Paling Baik Beternak Bebek. Setidaknya kamu akan mengerti: bebek lebih bermanfaat kalau dijual atau disembelih dan dimasak untuk kamu makan atau untuk kita makan berdua. Aku kangen makan berdua.

Aku kemudian menjelaskan alasan kenapa ia tidak perlu membaca buku yang ia minta itu. Betapa isi di dalamnya sangat membosankan. Kamu hanya akan menemukan ceracauan-ceracauan tidak jelas khas anak muda yang tidak jelas hidupnya. Coba lihat di cerita paling akhir, Sani Belum Kembali. Percayalah, membaca paragraf pertama saja kamu akan mual-mual.

Apa ya? Terakhir kali aku menahan lapar, aku membunuh seorang bayi. Salah tetanggaku berisik sekali. Dia tidak pernah keluar kamar. Bla bla bla bla. (hlm. 149)

Untuk selanjutnya, kamu pasti tidak akan mengerti sampai-sampai mengerutkan kening. Dan, ya, mengerutkan kening hanya untuk memikirkan sesuatu yang sia-sia, sesuatu yang juga dibuat sembarangan, hanya akan menjadikan hidupmu sia-sia juga.

Sani Belum Kembali, cerita terpanjang di dalam buku itu, seperti sengaja dibuat dalam satu paragraf saja dan aku tidak menyukainya. Bukan, bukan, bukan maksud aku tidak suka cerita panjang yang hanya berisi satu paragraf. Aku hanya tidak menyukai maksud penulis. Ah, maksud penulis? Itu terlalu jauh. Bahkan maksud penulis menuliskan itu aku kira tidak ada. Fix, itu hanya eksperimen yang gagal sejak dalam penceritaan. Tidak hanya gagal, tapi benar-benar gagal.

Cerita yang panjang, aku kira, yang paling berhasil di Indonesia (di Indonesia saja, sebab, cerita Reza Nufa masih jauh levelnya untuk sampai ke level Internasional) adalah, Robohnya Surau Kami karangan AA Navis dan Langit Makin Mendung karangan Kipanjikusmin.

Baca juga: Sifat Baik Daun

Lalu, beralihlah ke cerita yang lain. Omong Kosong Sadra, Kemala Mati dalam Hujan, Janji Pergi dari Kota, Dingin Rinjani Malam Itu, Membeku Berdua, V, Marina Menari di Ujung Tahun, Jangan Dulu, Sofie, dan lain-lain yang hampir kesemuanya bertemakan perasaan. Aku kira, di Indonesia cerita-cerita tentang perasaan sudah terlalu banyak jumlahnya. Kenapa harus tentang perasaan? Apakah tidak ada tema lain?

Kepada buku itu, aku bahkan sudah tidak tertarik sejak dalam endors. Itu ditulis Eko Triono (yang aku pikir pasti Eko Triono terpaksa menuliskannya). Lebih-kurangnya seperti ini:

“Ia mengobrak-abrik kemapanan tata-tertib peristiwa; mengencingi relasi kausalitas; merayakan akibat-akibat tanpa awal mula. Seperti memasuki sebuah kota pasca wabah demensia, saya tersesat di daerah orang-orang bawel. Namun demikian, ada kesan lain yang tak kalah penting. Di balik gairah ekspresif, makian, personifikasi, ungkapan-ungkapan unik, ada ritme berulang. Yang kesemuanya bertemu dalam titik dua. Yakni, kecewa.”

Membaca kalimat terakhir, ‘yakni, kecewa’, aku memalingkan muka. Duh, ini pasti buku tentang orang-orang patah hati, orang-orang sedih, orang-orang kecewa, orang-orang yang pesimis akan jalan hidupnya, orang-orang yang bosan dengan dunia, depresi, dan sejenisnya. Tetapi, menilai buku hanya dari endors atau bahkan cuma dari sampulnya adalah perbuatan paling tercela dari pembaca buku. Aku tidak ingin seperti itu. Maka aku membaca isi di dalamnya. Dan, ya, memang seperti itulah yang terjadi dan aku kecewa telah membacanya. Kalau bisa, aku ingin meminta waktuku kembali, waktu yang kuhabiskan hanya untuk membaca buku itu.

Aku pikir Eko Triono sedang mengada-ada. Reza bahkan tidak mengobrak-abrik tata-tertib peristiwa (yang terdengar sebagai pemberontakan terhadap cerita-cerita yang ada sebelumnya, atau singkatnya terdengar wah). Reza justru terjebak dalam ke-mbuletan ceritanya sendiri. Ia juga tidak akan berpikir ke arah mengobrak-abrik tata-tertib peristiwa itu. Cerita-ceritanya yang menyerupai ceracauan, barangkali hanyalah pelarian. Ini bukan strategi literer (meminjam istilah Agus Noor). Ini hanya ketidakmampuan Reza mengolah cerita dengan gaya yang lain.

Di samping itu, Reza juga bersusah payah agar ceritanya terlihat nakal, dengan menghadirkan kata-kata nakal (asu, anjing, bodoh, masturbasi, vagina, dubur, dll.), dialog-dialog nakal (Tuhan, masukkan kami ke surga, kalau tidak, atas nama agama, kami bakar kau!, Setiap petualang akhirnya akan berdiri dalam sebuah pernikahan, menjadi tua, dan sialnya, menjadi jinak., dll.). Faktanya, nakalnya Reza nanggung. Seperti anak kecil yang melakukan sesuatu yang dilarang orangtuanya hanya agar mendapat sebuah perhatian. Seandainya, nakalnya Reza dalam cerita-ceritanya itu total (1), nakal betulan, aku rasa buku itu akan terlihat lebih berhasil. Sedikit lebih berhasil. Sedikit. Ingat itu.

Mungkin kamu akan bertanya, di mana kamu baca buku itu? Begini, aku diberi secara langsung oleh penulisnya. Ia mengira aku akan mereviewnya atau paling tidak mempromosikannya. Tetapi, sejak diberi buku itu, aku berpikir sebaliknya. Aku akan menghujatnya. Ini penting aku sampaikan karena aku takut kamu bilang aku sedang mengada-ada juga, aku sedang sok tahu mengenai buku itu.

Maka dari itu, kenapa aku mengatakan pada pacarku kenapa buku Cara Paling Baik Beternak Bebek lebih baik ia miliki ketimbang buku Pacarku Memintaku Menjadi Matahari. Atau, kalau ia juga tidak suka buku Cara Paling Baik Beternak Bebek, ada baiknya ia tidur saja, atau berlibur ke pantai menikmati semilir angin dan suara debur ombak. Itu akan lebih membuat hidupnya berharga. Dan, bahkan hidupnya bisa lebih berguna (2).

Download novel ‘Student Hidjo’ karya Mas Marco

Catatan:

(1) Coba baca cerita Langit Main Mendung-nya Kipanjikusmin, atau Adam Hawa dan Kabar Buruk dari Langit-nya Muhiddin M. Dahlan.

(2) Beberapa orang mengatakan bahwa mendengarkan ombak dan menikmati semilir akan membuat hidup mereka lebih tenang ketimbang membaca buku jelek.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here