Surah al-Insyirah (94) sebagai Cermin Pesimisme Universal

0
hariprajitno.wordpress.com

Pekerjaan – Selepas beberapa kali membaca surah al-Insyirah (94), terutama ayat 7, saya merasakan nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, aura yang kudapati lebih mengarah pada pesimisme. Sebelum tadi pagi, aku suka menjadikan surah al-Insyirah sebagai pijakan untuk selalu menjadi individu yang bermandikan semangat. Optimisme. Apalagi ketika meresepi ayat 2, 5, dan 6 yang secara tegas bilang, “Kamu tidak usah bingung. Di balik setiap bilur peluhmu, pasti ada kemudahan? Kebahagiaan!”

Namun tepat pada siang ini, semua menjadi tidak sama. Rupanya, ada satu hal yang lebih mendasar dari pesan surah yang selama ini kuabaikan. Apa itu? Cerminan hakikat hidup. Dari ayat 7, orang bisa mengamati betapa sesungguhnya hakikat hidup kita adalah penderitaan. Derita yang ujungnya adalah pesimis, bukan sebaliknya. Aku yang kemarin memahami surah sebagai pantulan hidup yang penuh optimisme sepertinya melewatkan satu hal. Adalah tidak melihatnya dari jendela yang lebih lebar.

Baca juga: Manusia itu Setara secara Ontologis

Jika kita mundur ke belakang barang sepuluh atau dua puluh langkah, maka kita akan segera menyadari bahwa ayat 7 surah al-Insyirah (94) menyorotkan satu aktifitas linier, tiada henti, yang tentu melelahkan. Dari ayat ini, kita bisa merasakan satu kelelahan universal yang tidak bisa tidak akan dialami semua manusia. Dengan ungkapan lain, aku bisa menyebut, berjangkarkan ayat, bahwa hidup itu adalah rentatan dari aktifitas-aktifitas, pekerjaan-pekerjaan. Seolah kita memang tidak diizinkan untuk istirahat—dalam tanda kutip—barang sejenak saja.

Lebih intim lagi, berbicara pekerjaan, maka berbincang pula soal keinginan. Kenapa bisa demikian? Karena pekerjaan tidak akan mungkin bisa menjadi nyata tanpa adanya kehendak atau will. Iya, di sini ada satu faktor yang senantiasa menyetir setiap pekerjaan kita, senantiasa berada di posisi lebih fundamental, yang tidak lain adalah kehendak. Hasrat. Keinginan. Walhasil, kehidupan bukanlah apa pun melainkan kumpulan lurus dari keinginan-keinginan.

“Ketika kita selesai dari satu keinginan, maka segeralah menuju keinginanmu lainnya.” Secara terjemah, mungkin aku lebih suka kalimat tersebut sebagai terjemah ayat 7 surah al-Insyirah. Secara tidak langsung, itu berarti, bahwa ayat 7 memberitahu kepada kita bahwa manusia tidak akan lepas dari keinginan-keinginannya. Ketika kenyataannya demikian, apa yang akan segera terjadi? Hanya dua kemungkinan! Kalau tidak senang ya bosan (bedakan dengan bahagia). Senang ketika ternyata di ujung—selepas melalui banyak kegagalan—kita baru bisa menyelesaikan keinginan (pekerjaan), sedangkan bosan bila rupanya kita bisa menyelesaikan setiap keinginan tanpa kegagalan.

Baik senang atau pula bosan, aku kira keduanya bukanlah hal yang membahagiakan. Untuk bosan mungkin setiap pikiran usai bisa memahamilah betapa kebosanan berpotensi membunuh seseorang sejak dalam pikiran. Lalu, bagaimana dengan senang? Ini  yang kiranya kubutuh menjelaskannya. Senang, sekali lagi, bukanlah bahagia. Senang lebih pada bahagia yang sementara.

Iya, tercapainya satu pekerjaan atau ‘usr hanya mampu memicu munculnya “kesenangan”. Tidak kebahagiaan. Kenapa? Sebab sebentar lagi yang bersangkutan akan mendapatkan pekerjaan lainnya. Menyelesaikannya, merasa senang, dan lantas mendapatkan pekerjaannya (‘usr) lagi. Begitu seterusnya. Ini mirip cerita Sisipusnya Albert Camus yang dihukum para dewa.

Unduh buku Marco Kartodikromo di sini

Pun, tepat di sini, rasanya susah untuk setuju dengan anggitanku sebelum tadi pagi atas ayat. Surah al-Insyirah bukan saja soal betapa kita penting untuk menyadari optimisme dalam pekerjaan, tapi juga menyadari atas pesimisme yang sejujurnya memang itulah salah satu wajah dari hidup. Walhasil, karena hidup itu penderitaan dan derita itu keras, maka satu yang harus kita lakukan: menggebukinya. Meminjam bahasanya Ahmad Taufik.[zav]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here