Perempuan РMenjadi perempuan adalah hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak, perempuan tidak memiliki beban yang begitu berat dalam menitih masa depan, jika dibandingkan dengan laki-laki. Andai pun perempuan memiliki beban berat, tentu beban itu bisa dititipkan kepada lelaki. Dititipkan dalam arti laki-laki memang dibentuk secara sosial sebagai penyelamat, untuk perempuan. Laki-laki itu seperti Super Hero untuk  perempuan lebih tepatnya, sehingga tidak mengherankan jika dalam keseharian, perempuan sebagai kaum lemah memberikan setumpuk harapan yang penuh beban pada laki-laki. Karena memang perempuan itu lemah. Menyelamatkannya dari ketidakmampuan, kelemahannya, adalah sebuah kenormalan, kewajaran, dan keumuman. Keumuman sebagai bentuk peduli kemanusiaan!

Laki-laki dikatakan penyelamat karena memang meraka secara fisik memiliki otot-otot yang lebih besar ketimbang perempuan. Walhasil sudah dapat dipastikan, laki-laki memiliki kekuatan lebih besar dari perempuan. Hal itu juga yang menurut Edward Thordika (dalam Megawangi, 1999) laki-laki dengan bentuk fisiknya tersebut, ia dibentuk secara sosial untuk bekerja lebih ekstra. Dari perempuan.

Perempuan dengan bentuk fisiknya, ia juga dikonstruksi secara sosial sebagai manusia yang lemah gemulai, terutama saat terdukung dengan kondisi tubuhnya. Perempuan memiliki tulang Pelviks. Tulang ini berfungsi untuk menyangga proses kehamilan. Tulang ini penting bagi perempuan. Tulang pelviks dimiliki oleh laki-laki juga, namun dengan ukuran yang berbeda. Dalam tubuh perempuan, tulang ini memiliki ukuran yang lebih besar. Perbedaan ini pun memiliki kelebihan dan kekurangan untuk keduanya. Menurut Megawangi (1999), tulang pelviks selain sebagai menyangga proses kehamilan perempuan, tulang tersebut juga menghambat perempuan untuk bergerak gesit dan cepat. Maksudnya, ketangkasan seorang perempuan terbatas. Tidak sebanding dengan laki-laki. Andai ia diadu kecepatan lari dengan laki-laki, maka sudah dipastikan ia akan kalah.

Bentuk fisik adalah sesuatu yang given, sehingga tidak akan bisa diubah. Pun dipertukarkan. Seperti halnya, menurut Megawangi (1999), perempuan memiliki fase 3M yaitu Menstruasi, Melahirkan, dan Menyusui. Fase-fase tersebut adalah kodrat. Tidak bisa dipertukarkan dengan laki-laki. Namun karena tidak bisa dipertukarkan, fase itu pun mulai dilekati dengan konstruksi sosial, bahwa perempuan adalah pemilik sifat intuisi, emosional yang lebih tinggi ketimbang laki-laki, padahal sebetulnya ya tidak. Hasilnya, perempuan pun dilabeli sebagai female modesty, sifat keibuan.

Sifat keibuan secara sosial sudah dipatenkan hanya milik perempuan. Jika ada laki-laki memiliki sifat keibuan, ia dianggap tidak normal. Sifat keibuan ini lekat dengan perilaku lemah gemulai, teliti, cerewet, penyayang, memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anak-anaknya, dan tentu penyabar. Dalam hal ini, yang pasti perempuan dianggap memiliki sifat kepedulian yang lebih tinggi ketimbang laki-laki. Karena perempuan mengandalkan afeksinya dalam menjalani keseharian. Adapun laki-laki mengadalkan rasionalnya. Laki-laki untuk dapat berpikir rasional, ia distimulus oleh lingkungan sekitarnya. Ia dapat menentukan perilakunya yang sesuai norma yang ada. Seperti laki-laki harus kuat, baik fisik atau pun mental, pintar, cerdas, berkharisma, macho, pencari nafkah, dan agresif. Terkadang dengan sifat bentukan sosial ini, laki-laki dan perempuan memiliki ego yang tinggi, untuk membutktikan, bahwa sejatinya ia seperti standar yang diharapkan oleh dunia sosial. Yaitu dengan sebuah pemahaman, andai ia perempuan, maka secara sosial ia harus kalem, lemah gemulai, tidak perlu cerdas, tidak perlu pinter, dan yang terakhir tidak perlu kerja di ranah publik. Andai ia tidak mampu mencapai standar sosial tersebut, maka ia adalah orang tidak normal. Tidak normal!

Lingkungan sekitar akan selalu melakukan sosialisasi kembali terhadap mereka yang tidak mampu mencapai standar sosial di mika. Lewat apa? Diskusi, ancaman, dan intimidasi. Karena dunia sosial memiliki standar orang dikatakan normal, sehingga jika ia memiliki kemampuan di atas rata-rata, ia pun harus mengurangi, menutup, mengurungkan atas yang ia miliki. Misalnya seorang perempuan yang seharusnya bersikap lemah gemulai, namun karena ia dapat bertingkah di luar standar lemah gemulai, maka ia pun harus meninjau ulang perilakunya. Ia sudah sesuai harapan lingkungan sekitar atau belum. Andai ia tetap tidak sesuai standar prosedural sebagai perempuan, sudah dapat dipastikan, hari-harinya akan banyak ancaman dan nyinyiran dari lingkungan sekitarnya. Begitu pun dengan laki-laki. Ia juga akan mendapatkan perlakuan yang sama jika ia tidak mampu menaati batasan-batasan normalnya sebagai seorang laki-laki.

Baca juga: kematian Budaya Tabu

Laki-laki dibentuk secara sosial sebagai orang yang bertanggungjawab atas segalanya. Segalanya? Iya,  maksudnya adalah mulai dari urusan karirnya di rumah tangga, karirnya di ranah publik, dan lingkungan sosial lainnya. Di rumah tangga, ia harus mengatur rumah tangga, Mulai menafkahi seluruh manusia yang ada di dalam rumahnya, mengatur, dan menata istrinya (istri dibentuk hemat/boros, cantik/jelek, kurus/gemuk). Di ranah publik, ia harus bekerja mendapatkan gaji untuk kelurganya yang ada di rumah, ia juga harus mengejar karirnya ke jenjang lebih tinggi dari sebelumnya. Ranah laki-laki sangat luas, hampir semua sektor adalah milik laki-laki. Di ranah itulah ia telah membuktikan, bahwa ia seorang laki-laki.

Tuntutan-tuntutan sosial yang harus dipenuhi seorang laki-laki dan perempuan tentunya berat. Namun, sepertinya lebih berat laki-laki ketimbang perempuan. Hal itu terbukti dengan kegiatan laki-laki di ranah publik yang lebih banyak ketimbang perempuan. Bahkan ada data dari Robson (2015) yang menyatakan bahwa beban kerja yang tinggi pada laki-laki memengaruhi usia harapan hidupnya. Robson menjelaskan jika perempuan memiliki usia yang lebih panjang ketimbang laki-laki. Ini terjadi karena banyak faktor. Namun faktor yang ditekankan oleh Robson karena laki-laki secara fisik memiliki beban kerja lebih tinggi. Selain data tersebut, Robson juga menjelaskan di Swedia di tahun 1800 usia harapan hidup untuk laki-laki mencapai 31 tahun, sedangkan perempuan 33 tahun. Itu data lama, untuk data terbarunya menunjukan bahwa laki-laki memiliki harapan hidup mencapai 79,5 tahun, sedangkan perempuan 83,5 tahun. Ada keterpautan 4 tahun antara kematian laki-laki dengan perempuan. Laki-laki memiliki kesempatan hidup lebih sedikit dari pada perempuan. Bahkan dalam data tersebut dapat dibaca bahwa laki-laki 4 tahun lebih cepat meninggal dari perempuan. Adapun data di negara Rusia menunjukan rata-rata laki-laki meninggal dunia 13 tahun lebih cepat dari perempuan. Kematian laki-laki lebih cepat terjadi sebab laki-laki memiliki beban kerja yang lebih tinggi. Namun di Negara Rusia Robson lebih menjelaskan bahwa laki-laki di sana banyak mengonsumsi alkohol dan rokok sebagai akibat depresi tekanan beban hidup yang lebih tinggi. Depresi, alcohol, dan rokok pun menjadi media pengantar percepatan laki-laki untuk meninggal. Karena dari yang ia konsumsi berpengaruh pada kesehatan dan harapan hidupnya.

Data tersebut sudah cukup menjelaskan jika beban hidup kaum laki-laki lebih besar ketimbang perempuan. Pasalnya, laki-laki dibentuk secara sosial sebagai penguasa dunia yang luas ini, sedangkan perempuan hanya penguasa domestik. Perempuan hanya perlu having fun di rumah, dan menata roda kehidupan rumah tangga. Laki-laki harus mengurus banyak hal. Di ranah domestik, publik atau juga sosial. Laki-laki yang seharusnya menyerahkan ranah domestik kepada perempuan pun, di sana ia tetap ikut campur. Ini terjadi lantaran laki-laki adalah kepala keluarga, sehingga ia adalah orang yang akan menentukan kemapanan perempuan. Perempuan sehat, cantik, kuat, hebat, hormat, hemat, boros, semua itu tergantung laki-laki. Seperti cerita yang pakem di masyarakat luas bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Tulang rusuk itu bengkok, maka perlu diluruskan. Perempuan hanya cukup mengikuti aturan main laki-laki, maka semua aman. Aman karena hidupnya tidak akan bengkok, seperti tulang rusuk. Tulisan ini tidak ingin menggiring pembaca untuk membayangkan bengkoknya tulang rusuk, sama halnya dengan perempuan itu liar, makanya perlu dijinakkan dengan bimbingan. Ini hanya sebuah gambaran bahwa perempuan itu perlu memasrahkan diri kepada laki-laki agar kehidupannya tetap stabil, having fun, dan tentu sesuai standar aturan sosial yang ada.

Baca juga: Pacarku Memintaku Membelikan Buku

Hidup sesuai standar sosial yang ada adalah normal. Di luar itu tidak normal. Di luar itu dianggap aneh, liyan. Tentu selayaknya manusia tidak menginginkan kehidupan sehari-harinya penuh dengan ancaman, makian, dan intimidasi dari lingkungan sekitar. Walau mungkin ada segelintir orang yang ingin membebaskan diri atas tuntutan sosial yang ada tersebut. Namun mungkin saja itu hanya sekilas pemberontakan atas kelelahannya. Atau mungkin ia memang memiliki kepentingan untuk mengubah hal itu, karena ia memiliki kelemahan, kekurangan dalam beberapa standar sosial yang ada. Atau mungkin ia merasa memiliki power, sehingga ia merasa mampu membebaskan diri dari jeratan tuntutan sosial yang telah ada tersebut. Entahlah, semua hanya dugaan-dugaan yang tak berdasar.

Dugaan-dugaan dari paragraf sebelumnya menjelaskan bila kehidupan sosial tidak bebas nilai. Semua memilik kepentingan. Segala yang ada sudah diatur dan disepakati secara sosial. Untuk apa? Murni untuk menentukan layak atau tidaknya perilaku itu dilakukan. Begitu pun dengan laki-laki dan perempuan dalam menjalani kodrat yang given dan kodrat sosial mereka. Kehidupan laki-laki dan perempuan adalah sebuah relitas sosial yang dibentuk secara kesepakatan bersama, sehingga kadang-kadang keadaan ini menjenuhkan, membosankan dan hal itu membuat kita ingin memberontak atas segala yang ada. Mengingat manusia, individu, kita adalah bagian dari masyarakat dan dunia yang luas ini, sekaligus bagian dari realitas tersebut. Tentu kita memiliki andil dalam menyatakan sesuatu. Bahkan kita juga merasakan apa yang ada dalam realitas tersebut. Di sanalah kita aktif memahami dunia sekitar. Di sana pula kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Dari pengetahuan, pengalaman, inilah kita dapat memaknai atas apa yang telah kita lihat, kita ketahui, kita alami tentang pembagian kerja (division of labor). Antara laki-laki dan perempuan. Merasa ada yang janggal, didominasi, dikuasai, namun semua itu sulit mencari obyek untuk disalahkan. Karena memang laki-laki dan perempuan dalam hal ini adalah obyek dari korban dari sistem budaya patriarkat.

Budaya patriarkat selama ini memang lebih lekat dengan laki-laki dan dirasa sangat menguntungkan pribadinya. Namun hal itu salah. Karena budaya patriarkat kini bukan hanya miliki laki-laki semata, namun budaya patriarkat juga sudah menjadi bagian dari ideologi para perempuan. Bahkan yang menjadi korban dari budaya patriarkat bukan hanya perempuan saja, namun laki-laki juga korban dari budaya patriarkat. Saat kita meninggikan ego untuk sesuai standar kenormalannya yang ada, laki-laki harus macho dan perempuan harus lemah gemulai. Maka, saat itulah kita sama-sama terjebak dalam sistem budaya patriarki.

Referensi

Megawangi, R. (1999). Membiarkan Berbeda Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan.

Robson, D. (2015). Mengapa Wanita Berusaha Lebih Panjang Dari Pada Pria. Retrieved February 23, 2018, from http://www.bbc.com/indonesia/vert_fut/2015/11/151111_vert_fut_umur_wanita

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here