Jangan Mencintai, Juga Dicintai, Pokoknya Jangan

0
cinta
stirpel.deviantart.com

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

(al-Maidah [5]: 90)

Ketika memahami ayat ini, terutama pada kata al-khamr, kebanyakan dari kita mungkin akan melihatnya sebagai larangan untuk mengonsumsi minuman yang memabukkan. Bisa toak, ciu, topi miring, anggur merah, joshua, dan sejenisnya. Namun, siapa sangka, rupanya bayangan tersebut tidak berleku sepenuhnya buat Mbah Saleh Darat. Iya, bagi yang cinta tradisi klasik Nusantara, tentu tidak asing dengan nama tersebut. Beliau adalah salah satu mufasir abad ke 19 Indonesia asli Semarang yang memiliki kontribusi besar buat keilmuan Islam tempo itu.

Baca juga: Alquran sebagai Petunjuk?

Ketika menafsirkan kata al-khamr dalam Faidl al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam al-Malik al-Dayyan, Mbah Saleh Darat tidak saja berhenti pada anggitan alkohol, minuman keras, semata atau maksud eksoterik. Namun, beliau sampai pada apa itu yang Mbah Saleh Darat sebut sebagai makna batin, esoteris. Al-khamr dipahami pula oleh beliau sebagai hawa nafsu. Jadi, lanjut beliau, al-khamr pada ayat mengandung dua makna: alkohol itu sendiri dan hawa nafsu. Surah al-Maidah (5): 90 menganjurkan kepada kita semua untuk berhati-hati terhadap minuman keras satu, dan kedua terhadap hawa nafsu. Untuk berhati-hati pada diri kita sendiri. Apa pasal? Sebab yang berpotensi menjadikan kita lupa pada Tuhan, sumber segala kenyamanan, bukan saja alkohol, tapi juga hawa nafsu.

Poros yang dimiliki Mbah Saleh Darat ketika menafsirkan 5: 90 adalah “ingat kepada Tuhan”. Alkohol dilarang sebab bisa membuat kita abai pada Tuhan. Walhasil, karena hawa nafsu menyisakan potensi senada, maka tidak ada alasan untuk membiarkannya liar dan menganggu keintiman kita dengan Tuhan. Dan satu lagi: gaya menafsirkan semacam ini sudahlah muncul dua abad silam di Semarang. Tentu untuk konteks zaman itu, apa yang dilakukan Mbah Saleh Darat merupakan sesuatu yang terlampau keren. Melebihi logika pada zamannya.

Hawa Nafsu Tahun 2018: Cinta

Membaca Mbah Saleh Darat berikut logika dasar yang dipakainya, saya jadi teringat satu kata, cinta. Jika memang hawa nafsu menjadi bahan hati-hatian karena memiliki unsur seirama dengan alkohol, yakni berpotensi melalaikan Tuhan, maka kurasa tidaklah terlalu bercanda jika “cinta” saya masukkan ke nomer yang ketiga. Jadi, yang penting untuk kepadanya kita hati-hati sekarang ada tiga, yaitu alkohol, hawa nafsu, dan cinta. Atau mungkin boleh juga begini: kategori “cinta” kita lebur jadi satu dalam kategori “hawa nafsu”. Tidak jadi soal. Yang terpenting, kuingin “cinta” dimasukkan.

Baca juga: Cinta untuk Pecinta Pabrik Semen

Mengapa demikian? Secara sederhana, mungkin aku bisa menjawab karena cinta bisa membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Lalu pertanyaannya, bagaimana ia bisa menemukan (mengingat) Tuhannya ketika pada dirinya sendiri saja ia tak mampu? Itu yang sederhana. Bagaimana dengan yang rumit? Minum kopinya dulu, biar tidak sesak pikir. Paling tidak, ada empat alasan di sini.

www.dailydot.com

Pertama, cinta itu konflik. Saat saya misalnya, mencintai seseorang, maka itu berarti saya tengah berhadapan dengan kemerdakaan orang yang kucintai. Jadi, ada dua kemerdekaan (kebebasan) yang tengah dihadap-hadapkan di sini, yaitu antara milikku dan miliknya. Aktivitas mencintai pada akhirnya hanya melahirkan konflik “kemerdekaan” antarindividu. Kedua, cinta itu paradoksal. Ketika seseorang mencintai pacarnya, tentu ia akan melakukannya dengan penuh kemerdekaan, tapi di waktu bersamaan ia tidak mau jika si pacar memiliki kemerdekaan senada. Kenapa? Karena ia tidak mau kemerdekaannya terusik.

Ketiga, cinta membunuh semua subjek. Ketika kamu mencintaiku misalnya, pasti kamu akan menjadikanku objek. Begitu juga denganku: aku melihatmu sebagai objek pula. Jadi, kalau sudah demikian, di titik mana subjek bersemayam? Tidak ada. Adapun maksud dari objek tidak lain adalah objek pemenuh hasrat cintanya. Bisa hasrat untuk diperhatikan, hasrat untuk selalu diberi kabar, hasrat untuk selalu dituruti, dirindu, dikirim pesan singkat terlebih dulu, dikasih kado, dan sebagainya. Maka, bila sudah begini, maka cinta bukanlah apa pun kecuali simbol kegagalan.

Kegagalan apa? Gagal untuk mempertahankan diri kita sendiri sebagai subjek. Manusia tercipta bukan sebagai objek. Fitrahnya adalah subjek, alhasil ketika kita tidak sanggup melakukannya, itu berarti bahwa kita gagal menjadi manusia. Gagal menjalankan fitrah. Dan inilah alasan keempat yang kumaksud. Adapun kelima berjumbuh dengan perkembangan cinta. Pada tahap selanjutnya—ketika umpamanya kita memutuskan untuk meneruskan mencintai—cinta akan berubah wujud menjadi sesuatu yang sarat dengan motif “memiliki”. Bukti paling nyata, bisa kita amati dari bagaimana setiap pecinta (lover) akan selalu bermandikan harapan atas seorang yang dicintainya. Harapan apa saja! Satu lagi: percayalah, ini berat.

Sebagai akibatnya, tiada apa pun yang bisa dilahirkan dari cinta kecuali kebebasan palsu. Kebebasan yang mengekang. Ketika seseorang usai jatuh cinta—bukan bangun cinta seperti yang dirumuskan Erich Fromm—maka niscaya ia akan terus berharap untuk dicintai. Begitu juga dengan yang dicintai. Jadi, pada hakikatnya mereka yang saling mencintai itu tengah terpenjara. Penjara yang bajingan sekali halusnya, hingga tak kasat mata.

Baca juga: Cinta di Benak Erich Fromm

Sampai di sini, menimbang beberapa alasan di muka, aku kira siapa pun—terutama bagi yang tengah mencintai seseorang—akan segera mengerti mengapa “cinta” kuposisikan layaknya hawa nafsu yang oleh Mbah Saleh Darat diartikan sebagai al-khamr. Khamr yang penting untuk kita hati-hati kepadanya biar tidak abai atas hadirnya Tuhan. Lantas, apakah kita tidak boleh mencintai? Ya tidak begitu juga kali. Bolehlah mencintai. Hanya saja, cobalah mencintai sang tercinta dengan tanpa menghilangkan ke-subjek-annya. Percis seperti cara Tuhan mencintai kita. Oke.

 

Terkadang aku berpikir, Tuhan itu bodoh ya. Ngapain Dia menciptakan cinta jika itu hanya untuk menciptakan tuhan-tuhan lainnya.

(Sapari on Instagram)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here