“Tampar (tali) melambangkan agama sesuai dengan firman Allah: Berpegang teguhlah pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai. Posisi tampar yang melingkari bumi melambangkan ukhuwwah (persatuan) kaum Muslim seluruh dunia. Untaian tampar berjumlah 99 buah melambangkan asmaul husna. Adapun bintang sembilan melambangkan Wali Songo. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin dan empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan madzahibul arba`ah.”

Begitulah penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah (1884-1962) tentang lambang Nahdlatul Ulama saat Muktamar di Surabaya, Ahad, 9 Oktober 1927 M. Tepatnya, pada tanggal 12 Rabiuts Tsani 1346 H. Beliau jugalah sang pencipta lambang Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Hasyim Muzadi, pada 10 Maret 2009, mengatakan bahwa berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) ditengarai dengan melihat nilai-nilai budaya secara selektif dan inovatif. Menurutnya, secara historis masuknya Islam di Indonesia juga dibarengi dengan jalur seleksi budaya, ketika budaya-budaya Hindu, Budha, dan sistem-sistem kepercayaan pribumi sudah muncul selama berabad-abad.

Oleh karena itu, sejarah mengungkapkan, sebelum berdirinya Nahdlatoel Oelama, NU (31 Januari 1926 M), didirikanlah Nahdlatoel Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1914 M di Surabaya oleh Abdoel Wahab Chasboellah (lahir 1888 M) dan Mas Mansoer (lahir 1896 M). Atas inisiatif Oemar Said Tjokroaminoto dan Soenjoto, waktu itu, Nahdlatoel Wathan memperoleh Badan Hukum pada 1916 M.

Kedua pembina organisasi tersebut memang masih tergolong dalam usia muda. Wahab Chasboellah yang berusia 26 tahun dan Mas Mansoer berusia 18 tahun. Ketika Surabaya sedang diguncang oleh gerakan Sjarikat Islam, aktivitas Nahdlatoel Wathan tidak hanya diam berjuang di bidang pendidikan. Mereka juga mengadakan diskusi, untuk diperlukannya wadah baru, maka dibangunkanlah Taswirul Afkar (Ekspresi Pikiran).

Kemudian, atas nasihat K.H. Hasjim Asj`ari, oleh Wahab Hasboellah didirikan pula Nahdlatoel Toedjdjar (Kebangkitan Wirausahawan) pada 1920 M. Hal ini memiliki kesamaan dengan Sjarikat Islam (1906 M) yang juga didahului dengan Sjarikat Dagang Islam (1905 M).

Jadi secara singkat, sebelum lahirnya Nahdlatoel Oelama (NU), kalangan ulama Surabaya telah membangkitkan jiwa patriotisme di kalangan generasi muda dengan mendirikan organisasi-organisasi bernama Taswirul Afkar (Ekspresi Pemikiran) pada 1333 H/1914 M, Nahdlatoel Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1335 H/ 1916 M, dan Nahdlatoel Toejjar (Kebangkitan Wirausahawan) pada 1339 H/1920 M. Hal ini, sama dengan yang diperjuangkan oleh persjarikatan Moehammadijah dengan hizboel Wathan (Pembela Tanah Air) untuk pramukanya.

Lalu Lahirlah Nahdlatoel Oelama (NU) pada 31 Januari 1926 M, Ahad Pon, 16 Rajab 1344 H, di surabaya. Dipimpin oleh Rais Akbar Choedratoes Sjech K.H. Hasjim Asj`ari (lahir 23 Dzulqaidah 1287 H, Selasa Wage dan wafat 6 Ramadhan 1366 H, Jumat Pon, atau 14 Februari 1871 M – 25 Juli 1947 M). Nama Nahdlatoel Oelama (NU) merupakan kelanjutan dari nama gerakan dan nama sekolah yang pernah didirikan Nahdlatoel Wathan (Kebangkitan Tanah Air), 1335 H/ 1916 M) di Surabaya.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatoel Oelama (NU) dan para tokohnya, tentu saja memiliki peran yang sangat vital dalam proses panjang sejarah Republik Indonesia yang diwarnai dengan pergulatan ideologi, budaya, hingga kepentingan paham dalam beragama. NU tidak hanya terpengaruh dengan apa yang disebut Pan Islamisme (al-ittihad al-islamiyah) yang menggelobal kala itu, tapi sebaliknya Nahdlatoel Oelama (NU) menggalang semangat keindonesiaan tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman.

Para pendiri Nahdlatoel Oelama (NU), termasuk K.H. Hasjim Asj`ari, berkeyakinan bahwa Indonesia, yang saat itu baru akan didirikan, memiliki keragaman identitas budaya dan kultural mulai dari Jawa, Sunda, Betawi, Melayu, Batak dan lain sebagainya, yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan keragaman ini jelas tidak bisa begitu saja berasimilasi dengan budaya Arab yang turut terbawa-serta dalam Pan-Islam. Jelaslah bahwa peran penting Nahdlatoel Oelama (NU) dalam konteks ini adalah membumikan Islam menjadi agama pribumi dengan identitas keragaman Indonesia, dan pada saat bersamaan semangat kebangsaan yang ditumbuhkan melalui pembumian Islam, mampu membangun kerukunan sekaligus sikap tegas anti penjajahan.

Semoga dengan perjuangan besar K.H. Hasjim Asj`ari, bisa kita teladani bersama, “Barang Siapa mau mengurus NU, aku anggap sebagai santriku, dan siapa yang menjadi santriku aku doakan khusnul khotimah beserta anak cucunya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here