Kakek – Kota Yogyakarta sore ini tak seperti hari biasanya. Sosok mentari yang sebagai penerang dalam setiap sudut keindahan kota budaya nampaknya sedang murung. Ia terlihat enggan untuk muncul menampakkan silau wajahnya yang terang-benderang. Entah mengapa dengan hari ini, sehingga dalam benakku yang ada hanyalah prasangka buruk terhadapnya.

Aku memberikan sedikit tatapanku ke langit. Dan diatas sana yang nampak hanyalah gumpalan awan pekat. Dunia yang penuh keindahan akan panorama alami, kini dibuat membabibuta atas kepekatan yang terlalu naif untuk diusir. Aku memaksakan diriku sendiri diam. Mencoba menatap langit lebih dalam. Dengan berharap mentari nanti akan muncul. Tapi semakin dalam tatapanku ke atas, keelokan hari yang seperti kemarin seakan hanya melintas dalam mimpi. Sekarang hanya menyisakan hitam pekat menghiasi cakrawala alam.

Sekali lagi aku ingin menyapa lewat doa dan harapan. Agar mentari mengerti apa yang aku nanti. Aku hanya menginginkan hari tetap seperti kemarin. Tapi sayang, itu semua memang benar-benar hanya sebuah harapan yang tak kunjung terkabul.

Nampaknya memang benar. Hari ini akan bergulat dengan hujan lebat. Pikiranku berfirasat sedemikian rupa. Akan ada angin besar dan air dari langit menghantam semua semak-semak yang haus sebab kemarau panjang.

Aku mencoba mengalihkan tatapan tajam mataku ke lain arah. Dari sudut gelap sepanjang jalan malioboro, nampak sosok kakek tua renta sedang menahan beban kehidupan. Dengan segala kebisingan yang mengusik kota seniman, kakek tua tetap mempertahankan senyuman tipis dalam bibirnya. Beban itu sungguh terasa, yang diayun bukan sekedar mengayun becak saja. Tapi manusia-manusia tak tahu diri menuntutnya untuk kuat menikmati takdir.

Ia terlihat cukup tegar. Raut wajah yang mulai mengkeriput, tatapan mata yang menciut, seakan-akan telah membuktikan segalanya. Ia berjuang dengan sepenuh tenaga atas dasar berjihad menafkahi raganya. Ia nampak memanjakan dirinya sendiri dengan menoleh ke sana-sini dengan tatapan kuat. Tapi yang jelas ia bukan remaja lagi. Usia senja telah menyapa lewat uban di kepalanya yang sudah lebat.

Mungkin hanya aku saja yang memanggilnya dengan sebutan kakek Malioboro. Karena aku tahu hidupnya yang selalu berada di jalan Malioboro. Ia sering bersandar di bawah pohon ringin ketika tidak ada orang yang minta diantar oleh becaknya.

Kemarin aku lihat, ia duduk di pohon itu dengan matanya melihat ka atas langit. Entah apa yang dipikirkan, mungkin barangkali meratapi nasib yang tak semujur orang di luar sana. Aku bukan tak sengaja tahu, tapi aku memang benar-benar tahu dengan setiap langkahnya. Aku selalu mencoba mengamati lewat telanjang mataku. Kalaupun ia tidak ada dibawah pohon itu, selalu saja mulutku bertanya dengan salah satu orang yang ada disekitar pohon yang aku maksud tadi.

Mungkin aku terlalu mengagumi si kakek tua pengayun becak. Selayak diriku tak asing melihat wajahnya. Aku pernah bertemu dan mengenal ia, tapi kapan dan bagaimana alur ceritanya aku pun tak tahu. Seraya menjadi penenang diriku ketika ke dua mata ini sudah melihat kakek tua itu. Terlebih saat aku menyapanya dan ia memberikan senyum ringan kepadaku.

Rasa ingin tahu dan mengenal lebih dalam selalu menghantui diriku. Ketika melihat becak milik siapapun, diriku bergumam dalam hati, “apa jangan-jangan kakek Malioboro ada di situ ya?” ah sudahlah, ini hanya rasaku terlalu ingin mengetahui si kakek.

***

Desiran angin sudah mulai kencang. Aku tetap duduk di antara kursi tua yang konon tempat favorit seorang kolonial Belanda. Aku berada di Museum jalan Malioboro. Hanya keheningan malam yang setia menemaniku. Selalu saja yang nampak hanya kesunyian. Tapi aku melihat seorang laki-laki. Dengan berpakaian hitam polos dia berjalan ke arah barat. Mungkin kalau nggak salah dia petugas museum ini.

Dari sini aku melihat si kakek tua sudah kembali ke bawah pohon ringin. Ia terlihat lemas dan lesu. Mungkin saja ia kecapekan. Atau barangkali ada sesuatu yang aku tak tahu telah membuatnya seperti orang terlalu berat berpikir.

Ingin sekali diri ini mendekati dan bertanya kepadanya, tapi lagi-lagi aku tak kuasa mendekatinya. Aku hanyalah seorang remaja yang belum mengerti sebuah kehidupan. Dan tak patut untuk mengetahui yang dirasakan kakek Malioboro.

Entahlah, aku tak mau berpikir terlalu berat. Karena aku tahu itu semua bukan masalahku. Dan aku pastinya tak punya hak untuk membicarakan panjang lebar tentang rasa penasaranku terhadap kakek tua itu. Biarlah aku saja yang memanggil beliau dengan sebutan kakek Malioboro.

Tentunya buku yang selalu menemaniku di mana pun berada, akan terisi penuh celoteh rasa ini yang merindukan si kakek Malioboro. Akan kujadikan catatan kecil bahwa aku benar-benar menemukan jiwa kakekku yang sudah meninggal 7 tahun yang lalu di Malioboro.

***

Hari demi hari terlewati, aku sudah tak menemuinya lagi. Apa jangan-jangan ia sudah dimakan usia? Ah, jangan berburuk sangka dulu, pikirku mulai morat-marit tak aturan. Sebab, belum lega juga kalau aku sendiri belum tahu keadaan kakek tua itu.

Tapi, apa salahnya aku mencoba bertanya ke pak Idris penjual rokok eceran di jalan Malioboro. Mungkin ia tahu di mana kakek Malioboro sekarang tinggal. “Bapak tahu nggak kakek tua yang biasa bersender di pohon Ringin biasanya?” tanyaku sambil menunjuk pohon yang biasa dibuat teduhan kakek tua. “Tak tahu nak, mungkin ia sudah cuti”, jawab ringan pak Idris.

Semakin penasaran saja diri ini, dan aku berjanji, sebelum menemukan kakek tua itu, aku tidak akan pulang. Entah apa ambisiku, yang jelas aku terlalu mengaguminya. Ia mengingatkan sosok almarhum kakekku dulu yang masa hidupnya selalu menyajikan dongeng kepadaku tentang Kolonial Belanda.

Hari semakin malam, dan aku memastikan diri untuk tidur di trotoar Malioboro bersama pedagang-pedagang kaki lima saja. Toh tempat ini juga tak ada yang melarang siapa pun tinggal. Aku mempersiapkan kerdus dan sarung kusutku sebagai alas tidur.

Mata terpejam tak lama, tapi matahari mulai bangun dari lelapnya semalam.Apa jangan-jangan tidurku hanya beberapa menit saja. Dan sekarang sudah pagi yang melewati subuh.Mataku masih terpejam tanpa sengaja tangan sudah mulai meraba benda-benda di sekitar. Ada selipat kertas kasar yang masih tercium aroma tinta. Aku mulai membuka mata perlahan-lahan dan mencoba melihat benda itu.Bagian kover nampak foto orang tua terlentang di bawah becak. Siapa gerangan? Batinku.

Aku baca perlahan-lahan Koran itu, Nampak tulisan Minggu pagi, 14 Mei 2012 pukul 23.59 WIB ditemukan kakek tua yang berinisial Romo Kiai Tanding, usia 79 tahun, dikenal juga kakek tua penyair jalanan, Yogyakarta, meninggal dunia di jalan Malioboro, bawah pohon Ringin. Seketika itu pula tiba-tiba air mataku menetes dan membajiri tulisan yang belum selesai aku baca. Aku melihat ke atas disaksikan seluruh alam dan hatiku bergumam, “Tuhan, berikanlah aku petunjukku tentang arti cerita ini.”

 

*Fery Taufiq, lahir di Pati- Jateng. Saat ini tinggal di kota Budaya. Aktivitas sehari-hari diisi dengan membaca, menulis, dan menggambar.Bisa dihubungi lewat ig @ferythemo, 085713137226

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here