Oleh Haydar Ali Mahmudi*

Dulu waktu SMA saya pernah membaca buku karya intelektual UIN (dulu IAIN) tentang Madzhab Jogja, menggagas ushul fiqih kontemporer. Kebetulah di sekolahku ada mata pelajaran Ushul fiqih, Miftahul Wushul.

Saya menganggap buku Madzhab Jogja ini judulnya kelihatan sombong, karena membuat suatu kaidah fiqhiyyah itu tidak mudah. Misal begini, dalam kitab Asybah wan Nadzoir karya Imam Suyuthi itu ada kaidah hukum yang berbunyi “Al-adatu muhkamatun,” adat itu bisa dijadikan landasan hukum. Aku pikir, lah kok bisa, kalo adatnya orang Eropa gimana? Tapi ada penjelasan selanjutnya, landasan hukum tentang adat dalam kitab Asybah tersebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad Bin Hanbal:

ﻣَﺎ ﺭَﺀَﺍﻩُ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣَﺴَﻦٌ ﻭَﻣَﺎ ﺭَﺀَﺍﻩُ ﺍﻟﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﺳَﻴْﺌًﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻋِﻨْﺪَﺍﺍﻟﻠﻪِ ﺳَﻲْﺀ ٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud).

Teks kaedah ini bisa digunakan untuk menjustifikasi amalan-amalan umat muslim yang tidak ada dalalah nash secara jelas. Misalnya maulid, tahlil, khaul dan lainnya. Fiqih fundamentalis puritan yang mengkaji teks hukum secara dzahiri akan menganggap amalan yang tidak dilakukan Nabi sebagai bid’ah. Beda dengan ulama madzhab yang mengkaji ushul fiqih ini.

Membuat satu kaedah fiqih itu perlu pembacaan yang melibatkan nash, urf, kalau sekarang malah lebih kompleks lagi harus melibatkan nash, sejarah, sosiologi, hermeneutika, kajian budaya, dan seterusnya, yang tentunya butuh ribuan buku hanya untuk satu kaedah. Misalnya lagi, Deklarasi HAM yang dijelaskan Nabi dalam Khutbah Wada’ menurutku bisa jadi kaedah ushul fiqh yang mengkaji soal hukum internasional.

Kembali ke madzhab Jogja, judul buku itu angkuh yang menantang paradigma ushul fiqih lama tapi menurutku juga perlu untuk membuat sebuah sandaran baru legislasi Islam baik skala lokal Jogja maupun nasional, lebih-lebih internasional. Hal ini yang harus disadari oleh seluruh civitas akademis UIN untuk merealisasikan ide tersebut. Memang membuat sebuah paradigma ushul fiqih baru itu susah, tapi tidak berarti mustahil bisa direalisasikan.

Menurutku begini, UIN jogja harus menjadi seperti al-Azhar asy-Syarif dimana seluruh fatwa harus dikaji dan diuji sebelum disebarkan di masyarakat, dalam artiaa UIN harus jadi sumber produk hukum Islam di indonesia, bukan malah orang luar memaksakan pemahamannya tentang “cadar” ke UIN. Kan nggak lucu sebuah universitas yang tiap tahun menghasilkan ribuan karya dalam hukum Islam baik disertasi, tesis atau skripsi, jurnal dan makalah malah harus dipaksa menerima pemahaman orang lain. Tiap tahun ada skripsi yang judulnya macam-macam, ada yang mengkaji soal istinbath hukumnya Syatibi, ada yang mengkaji soal mashlahah mursalah-nya Ghazali ada yang mengkaji soal urf, dan lainnya. Tidak ada di Indonesia ini yang menghasilkan ribuan karya pemikiran Islam selain UIN.

Proyek Madzhab Jogja harus menjadi suatu program yang tidak main-main agar orang luar tidak merasa sombong bahwa dia lebih pinter dari masyarakat UIN soal Islam.

 

*Penulis adalah alumni Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Kini tinggal di Pati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here