Antara “opo’o” dan “po”

0
www.thecreativemethod.com

Orang Jawa – Setiap kali menggunakan kata “yaopo?”, “opo’o?”,  “iyo’a?”, “mene”, “rek”, “koen”, “pehh” di luar wilayah Jawa Timur, mesti ditanya warga sekitar (bukan orang Jawa Timur) “orang Jawa Timur ya?”. Membanggakan. Ternyata Jawa Timur terkenal. Andai tidak bisa disebut terkenal, setidaknya bisalah disebut sebagai kenangan yang tak dilupakan. Artinya seorang warga sekitar tidak akan mampu melakukan identifikasi diri saya, “orang Jawa Timur ya?”, andai ia tidak memiliki kenangan di situ.

Ini cukup jelas bahwa mengenang itu penting. Namun, aktivitas mengenang akan cukup sulit muncul manakala kita tidak memberikan nama (identitas) dalam kenangan itu. Pernah tahu kuliner malamnya Tuban, Sego Dupak? Andai pernah tahu, tentu bisa membicarakan enak dan tidaknya sego itu. Menentukan enak atau tidak memang relatif, tergantung selera. Kalau meminjam kata Bourdieu selera itu hanya sebagai penanda status sosial. Bagimana tidak, orang mampu mengidentifikasi makanan itu enak dan tidak enak, itu tergantung latar belakangnya. Pendidikan, lingkunganan sekitar,  dan lain-lain. Semua itu mengalami proses membiasa (habit), sehingga ia bisa cocok atau tidak dengan selera itu.

Baca juga Perempuan yang Kehilangan Jalan

Mengidentifikasi Sego Dupak dengan enak atau tidak, itu sudah masuk dalam proses pemberian nama. Dengan proses ini, kelak ingatan tentang Sego Dupak bisa dipanggil ulang (recalling) untuk dikenang. Sehingga saat ada orang mengatakan Sego Dupak, ingatannya akan mengarah enak dan tidak, atau ingat dengan wilayahnya (Tuban) atau kenangan lain yang masih tentang Sego Dupak. Inilah yang katakan mengidentifikasi untuk memberi identitas pada semua hal itu penting. Andai identitas masih dirasa tidak penting. Menyebut diri kita dengan nama, dan memberi nama benda mati, makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan, binatang, tidak akan pernah dilakukan.

Indentitas itu penting, dengan identitas kita bisa memiliki kekhasan tertentu dari kelompok tertentu. Andai ia orang Jawa Timur tentunya ia akan memiliki kekhasan ala Jawa Timur. Misalnya dengan menggunakan aksen Jawa Timur-an. Dengan memberi imbuhan ‘a’ diakhir kata, menggunakan kata panggilan“rek”, “koen” dll,  menggunakan tanda waktu dengan“mene” dll,  dan menggunakan ekspresi kekesalan “pehh” dalam merespon setiap perbincangan. Itu semua terjadi mengalir begitu saja, tidak ada unsur kesengajaan, atau ada unsur propaganda politik identitas. Tidak pernah terkonsep secara kaku setiap kali berbicara harus mengeluarkan aksen, kata khas ala Jawa Timur-an. Semua terjadi tanpa sadar, dan ternyata aksen khas Jawa Timuran ini melekat pada setiap pribadi (orang Jawa Timur), termasuk saya.

Aksen khas ala Jawa Timuran dan berbagai kata khas lainnya, mungkin kadang mengusik orang lain (bukan orang Jawa Timur). Merasa aneh, jengah, saat mendengar setiap aksen yang keluar dari mulut. Sampai-sampai ia terangsang untuk merespons “orang Jawa Timur ya?”. Orang yang menanyakan ini telah mengalami aktivitas recalling (pemanggilan ingatan). Dalam bahasa auto-etnografer, kondisi recalling adalah kondisi seseorang berusaha mengingat kenangan. Kenangan yang dimaksud adalah, “yaopo?”, “opo’o?”,  “iyo’a?”, “mene”, “rek”, “koen”, “pehh”.  Kenangan tentang kata khasnya Jawa Timur itu yang akhirnya ia mampu merespon “orang Jawa Timur ya?”, Pernyataan respons tidak akan pernah dimunculkan, manakala orang tersebut tidak memiliki kenangan, tentang kata itu, dan Jawa Timur.

Baca juga Nongkrong dan Akhir Budaya Tabu

Memutuskan untuk merespons “orang Jawa Timur ya?” adalah bukti kenangan  tentang Jawa Timur itu sempat ada. Entah kenangan itu tentang kepahitan, kemasaman, kemanisan, yang jelas sempat ada kenangan. Respons orang lain di luar diri saya atas aksen dalam tutur kata tersebut adalah bukti bahwa aksen dan tutur kata lebih memberikan ke-valid-an identitas seseorang, ketimbang id card. Ini seperti menerawang, membaca orang-orang sekitar untuk diidentifikasi, ia bagian dari saya atau tidak. Insider atau outsider. Pada akhirnya dalam kondisi seperti ini ada sebuah proses “mencari identitas”. Saya mencari identitas saya, dan begitu pun orang lain.

Di titik tertentu, akhirnya saya diketahui sebagai orang Jawa Timur oleh orang di luar diri saya. Saya pun dalam hal ini ikut melakukan mengidentifikasi atas diri saya sendiri. Saya adalah bagian dari kelompok lain (Jawa Timur), dan bukan bagian dari warga sekitar. Saat itu pun saya menjawab “iya, saya orang Jawa Timur”. Saya orang Jawa Timur, maka saya bukanlah bagian dari mereka (outsider). Kemunculan perasaan bukan bagian, merasa berbeda, itu semakin menjadi-jadi, saat saya mulai sadar, bahwa ternyata aksen dan jenis kosakata yang saya gunakan dalam seharian itu berbeda dengan mereka. Mereka yang saya maksud adalah orang Jogja, dan kondisi saat itu adalah di Jogja. Saya pun membandingkan kosa kata keseharian saya, dengan  orang Jogja. Membandingkan sama halnya mencari perbedaan, dan ternyata Jawa Timur dengan Jogja memang dua hal yeng berbeda.

Jogja dengan Jawa Timur memang masih dalam satu pulau Jawa, namun karena keduanya memiliki tipologi wilayah yang berbeda, sosio-kultural, sosio-historis yang berbeda, sehingga Jogja dan Jawa Timur memiliki perbedaan. Perbedan keduanya banyak, namun yang dibandingkan kali ini adalah kosakata dan aksen. Berbeda tapi sesuai dengan kekhasan masing-masing..

Jika di Jawa Timur sering menemui kata, “yaopo?”, “opo’o?”,  “iyo’a?”, “mene”, “rek”, “koen”, “pehh”. Kalau di Jogja akan sering menemui kata, “po”. Saya tidak terlalu banyak tahu kosakata atau imbuhan di Jogja, Yang paling sering saya temui, saya dengar, dan ditanyakan ke saya adalah “po”. “Tadi kamu kesini naik Transjogja po?” itu kalimat yang sering saya dapatkan saat di Jogja. Harap maklum, saya adalah salah satu pendatang dari sekian banyaknya pendatang yang tidak menyumbang kemacetan Jogja. Saya tidak memiliki kendaraan pribadi. Dan tidak memiliki keinginan untuk memiliki kendaraan pribadi. Saya secara sadar memilih naik kendaraan umum, Transjogja ketimbang kendaraan pribadi. Terhitung naik kendaraan umum itu lebih hemat, rame, asyik, dan resiko ditanggung secara kolektif.

Di kendaraan umum itulah saya mulai banyak mengenal kosakata khas ala Jogja. Orang Jogja biasanya mengatakan lapar dengan “ngeleh”. Bahkan orang Jogja yang tinggal di gunung (pedesaan) dengan orang dataran rendah (kota) memiliki padanan kata yang berbeda. Orang yang tinggal di gunung lebih sering menggunakan kata “gemang” (penjelasan seorang teman yang bukan pendatang) ketimbang orang di dataran rendah (kota). Gemang sering digunakan untuk menunjuk kata ganti orang kedua yang ogah-ogahan. Ada lagi kata yang menurut saya sangat populer di Jogja. Populer di mata pendatang dan bukan pendatang, tua dan muda, desa dan kota, mereka semua fasih dan tahu kata “bribik”. Ini adalah kata yang disematkan untuk kegiatan usaha menggebet seseorang. Itulah sedikit kosakata khas ala Jogja yang saya ketahui selama di Jogja.

Tanpa saya sadari kosakata khas ala Jogja tersebut telah mengendap menjadi konsep baru dalam alam bawah sadar saya. Saat di luar wilayah Jogja, lantas mendengar kata “po”  saya mulai melakukan analisis, hipotesa, dan tebak-menebak, “ini mesti orang Jogja/Jawa Tengah, andai pun tidak, mesti pernah tinggal di Jogja”. Analisis-analisis itu tidak memiliki kejelasan akan validitasnya, namun ingatan “po” dan kata khas ala Jogja lainnya selalu mengarahkan saya pada Jogja. Itu seperti halnya tadi, saat saya mengatakan “yaopo?”, “opo’o?”,  “iyo’a?”, “mene”, “rek”, “koen”, “pehh”,  lantas akan mengarah pada Jawa Timur.

Menjadi pendatang adalah sebuah pilihan. Baik ia ingin menjadi bagian dari tempat baru untuk beberapa waktu, atau untuk waktu yang lama bahkan mungkin selamanya. Yang jelas, sekuat apapun seorang pendatang (outsider) menjadi insider tetaplah pendatang. Ia tidak akan pernah menjadi bagian dari wilayah baru (insider) itu, terutama dalam hal berbudaya. Secara administratif bisa, namun secara budaya tidak akan mungkin. Andai saya memilih menetap di Jogja, lantas saya memiliki id card Jogja, namun aksen khas tanah kelahiran, kebiasaan-kebiasaan yang ada di tanah kelahiran akan tetap terbawa, dan itulah yang menunjukan jati diri sabagai outsider.

Merasa menjadi bagian atau bukan bagian dari kelompok tertentu adalah sebuah proses panjang. Melakukan identifikasi tentang diri pribadi, lingkungan sekitar, dan akhirnya menentukan diri  sebagai bagian dari kelompok tertentu . Atau  bahkan menentukan diri bukan sebagai bagian dari kelompok tertentu. Menjadi bagian, merasa sama, adalah bentuk perasaan menjadikan bagian kelempok dari kelompok tertentu. Adapun, bukan bagian, merasa berbeda, adalah perasaan tidak merasa ada kecocokan, hingga berupaya untuk mempertahakan perbedaan yang dimiliki. Identitas bukan tentang saya, atau kamu. Tapi indentitas adalah tentang kami, kita atau mereka (kelompok), sehingga setuju, jika Stuart Hall kurang lebih mengatakan identitas seseorang tidak bisa lepas dari kesadaran secara kolektif. Selalu ada hubungan signifikasi dengan yang lain.

Seandainya Jawa Timur dilabeli dengan orang yang rame, kasar, maka siapa pun yang memiliki aksen khas ala Jawa Timuran atau mengakui diri sebagai orang Jawa Timur, ia pun akan dilekati dengan label orang yang rame, kasar. Begitu pun dengan identitas sebagai orang Jogja. Orang Jogja yang dilekati dengan label kalem, maka ia yang dikatakan sebagai orang Jogja, dimanapun tempatnya, saat ia mengakui diri sebagai orang Jogja, tentu ia pun akan dilabeli orang kalem. Yang perlu diingat, Stuart Hall juga mengatakan, bahwa identitas adalah bentukan, ciptaan, konstruksi sosial, sehingga identitas tidak bisa digunakan sebagai representasi diri seseorang pada kelompok tertentu. Karena identitas bukanlah taken for granted.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here