Ibumu, Ibumu, dan Ibumu bukan Kiaimu

0
https://womenshealthtoday.blog

Ibu – Pagi itu sang Fajar menyambutku. Ibuku,” Le, ditukokne sego pecel piye? Ambek dicamne kopi. Sebelum kuberangkat kuliah ke Jogja.

“Iyo mak,” jawabku.

Selesai makan sego pecel, kumenikmati secangkir kopi buatan ibu. Rokok tentu tidak lupa. Hidup terasa nikmat sekali. Sering kumerenung kala lihat kebaikan emakku. Hatiku bergumam,”Bagaimana  isa kumembalas kebaikanmu, mak?” Rutinitas seperti itu sering dilakukan olehnya, meski dalam keadaan yang sangat lelah pun. Terkadang sampai kumeneteskan air mata melihat perjuangannya.

Pagi itu, seperti hari-hari kemarin, bapak sudah berada di sawah, ditemani kakak iparku. Padi-padi di sana seolah sudah menanti kedatangannya.

“Mak, aku budal ya. Dongakne selamat, lancar, entok ilmu seng barokah lan rejekine akeh. Salam gawe bapak, mas, karo mbak.” Izinku pada emak ketika mau berangkat ke Jogja. “Assalamu’alaikum …”

Di perjalanan, tiba-tiba kuteringat temanku. Bagus namanya.  Kita sudah dekat sejak kelas 2 SMA di pesantren. Kumelihat jam tanganku. Masih jam setengah delapan pagi. Sepertinya boleh menyempatkan diri sejenak untuk mampir ke rumah Bagus. Lagi pula rumahnya kan punya warung kopi. Jadi bisa ngopi gratis di sana, pikirku. Beberapa menit perjalanan, kusampai rumahnya.

“Assalamu’alaikum,” ucapku agak keras. Beberapa saat kemudian, bapaknya keluar. Kulekas mencari tangan kanannya dan kucium. “Bagus, enten pak?”

“Oalah, isek turu zik. Pegel bocahe. Wenge nembe acara nikah di kakaknya.”

“Duh, oh engggg… ”

“Zik, digawekke kopi ya. Kono lungguh-lungguh sek.”

“Mboten usah pak, manton sarapan kaleh ngopi teng griyo,” jawabku.

Tapi beliaunya tetep membuatkanku kopi dan dihidangkan padaku. “Diombe zii. Wes, santai sek.” Beliau mempersilahkanku.

Karena di Bagus tidur, akhirnya ayahnya yang menemaniku. Kuingin singgah 15 menitan, tidak lebih. Tapi sepertinya bakal susah. Sudah terlanjur dibuatin kopi. Kita ngobrol ngalor-ngidol. Kita saling bertukar pikiran dan alur obrolannya bisa dua arah.

Di sela obrolan, tiba-tiba Pak Doel bilang, ”Zi, kok uuaakeh kiai lek pas ngisi mauidhoh mesti nyebut dawohe kiaiku.  Kok sak ngertiku ora tau nyebut dawoh bapakku, ibukku, toh liyane ngono. Nyapo yaaa?” Kuhanya terdiam. Tidak tahu harus bilang apa. ”Kiai kuwi yo menungso, yo iso salah, yo iso nduwe sifat sombong koyok awake dewe iki. Gak usah nyebutne dawohe kiai ne, wong-wong mesti ngerti lek dicelok kiai iku mesti tahu mondok.”

Aku masih bingung: aku harus bilang apa. Yang ada dalam anganku hanya kerisauan. Mungkin sama dengan yang dirasakan Pak Doel. Cuma ini lebih rumit untuk disusun dalam kalimat, apalagi diucapkan. Apalagi dengan Pak Doel yang posisinya lebih tua. Canggung semua rasanya.

“Nggeh, Pak Doel. Padalah, baik itu kiai, pak RT, anggota DPR, dan lainnya, yang selalu ada buat mereka, yang selalu memperjuangkan mereka, serta mendoakan dalam setiap malamnya bukanlah kiai-kiai mereka. Nggeh toh pak? Tapi orang tuanya. Bapak Ibuknya. Apa salahnya juga coba menyebut kedua orang tuanya saat ada momen tertentu.” Tuturku pelan. Dalam hati.

Terakhir kuingat khutbah Jumat,” Ummuka, ummuka, ummuka, dan abuka. Bukan ustadzuka, ustadzuka, ustaadzuka baru Orang Tua-ka.”

*Tulisan ini kupersembahkan untukmu emak dan bapak.

 

Yogyakarta, 11 April 2018

 

Moh Hasan Fauzi,

Mahasiswa Pascasarjana

UIN Sunan Kalijaga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here