Hari Kartini, Konde, dan KB Suntik  

0
elshinta.com

KB – Hari Kartini dengan Keluarga Berencan (KB) itu dua hal yang identik dengan perempuan.  Kalau hari Kartini itu euforianya lebih lekat dengan pawai berkebaya, fashion show, maka KB lebih pada pengguna alat kontrasepsinya. Keduanya sama-sama dibintangi oleh perempuan.

Setiap perayaan hari Kartini orang yang antusias dalam perayaan ini adalah perempuan. Hari Kartini bisa jadi disebut sebagai hari para perempuan melakukan aktualisasi. Mereka di hari ini memiliki semangat yang luar biasa, terutama saat mempersiapkan kegiatannya. Mereka identik dengan dandan, kebaya, konde, salon, pawai dan fashion show. Perempuan di hari ini memang radak rewel, sekaligus pemborosan. Hanya demi aktualisasi, hanya demi merawat ingatan tentang Kartini, perempuan rela menjalani segala hal dengan penuh kerewelan.

Hari Kartini hanya terjadi sekali dalam satu tahun. Makanya, sehari hidup radak rewel kadang tidak dipermasalahkan oleh perempuan. Kebayanglah, perempuan pakai kebaya, konde, nyalon: semuanya hal yang rumit. Perlu waktu lama dan rewelnya luar biasa. Ini penyataan sangat subyektif dari penulis. Penulis adalah bagian dari kelompok yang diceritakan. Jadi, ada kedekatan emosional. Demi merawat ingatan tentang Kartini kala itu, untuk refleksi saat ini, perempuan rela menjalani kerewalan. Memang sih, banyak cara untuk merayakan hari Kartini. Namun, yang mainstream di masyarakat adalah dandan, berkebaya, pawai, dan fashion show.

Dengan berdandan, berkebaya, pawai dan fashion show kita mampu mengingat tentang Kartini masa sebelum emansipasi perempuan.  Mengingat sesosok perempuan yang berjuang untuk bisa mendapatkan kemerdekaan beraktualiasasi atas dirinya. Baik ranah public atau pun domestic. Kartini, begitulah orang masa kini menyebut namanya, merupakan perempuan yang telah memperjuangkan emansipasi perempuan.

Momen hari Kartini kali ini, penulis selain mengingat Kartini sebagai prjuang emansipasi, penulis juga memiliki ingatan yang selalu membuat penasaran. Yaitu tentang alat kontrasepsi suntik (KB suntik). Perasaan penasaran ini muncul setelah beberapa waktu lalu penulis turut serta hadir dalam diskusi yang diadakan oleh PKBI DIY dan pihak Canada di Jogja. Diskusi saat itu memang lebih banyak membahas tentang alat kontrasepsi. Makanya penulis ikut penasaran dengan KB suntik.

Saat itu ada salah seorang narasumber perempuan. Ia bercerita tentang alat kontrasepsi suntik. Ia bercerita tentang hal itu karena ia berpengalaman dan berpengetahuan dalam hal itu. Kurang lebih saat itu ceritanya adalah ibu itu sudah lama menggunakan KB suntik. Namun karena kartu keanggotaannya sudah habis, ia memutuskan rehat dari KB suntik. Ia rehat karena ia memutuskan untuk menetralkan tubuhnya dari pengaruh obat-obatan KB suntik.

Cara mudah untuk  mengenali kapan tubuh perempuan pengguna KB suntik itu telah netral atau belum dari obat-obatan hormonal cukup dengan proses alami dari masa menstruasi, katanya si Ibu kala itu. Penulis sebagai orang belum pernah merasakan hal-hal seperti itu, kian tertarik  cerita si Ibu itu. Sebab ceritanya memberikan pengetahuan baru tentang KB suntik.

Menstruasi dijadikan sebagai cara untuk mengetahui tubuh telah terlepas dari obat-obatan hormonal. Karena baginya saat itu, saat para pengguna alat kontrasepsi belum mendapati dirinya menstruasi, maka ia tidak disarankan untuk mengikuti KB suntik. Jika ada aturan yang sedemikian rupa, tentu obat-obatan hormonal tersebut memiliki dampak buruk pada kesehatan tubuh dan organ reproduksi perempuan yang menggunakan KB suntik. Walhasil ada aturan seperti itu.

Dalam hal ini penulis tidak menganggap perempuan sebagai korban dari program keluarga berencana yang digalakkan pemerintah. Hanya saja, perempuan dalam hal ini menjadi kelompok yang rentan pada penyakit. Cerita dari diskusi tersebut, membuat penulis tersadar bahwa, di Tuban masih banyak perempuan yang menggunakan KB suntik, namun tidak mengetahui tentang aturan rehat, menetralkan tubuh dari obat-obatan hormonal, dan batasan usia yang dapat menjalankan KB suntik. Beberapa saat lalu setelah diskusi, penulis berusaha melakukan uji nyali mencari tahu secara random dan purposive KB suntik tersebut.

Dalam KB suntik ada 2 jenis. Jenis pertama KB suntik yang dilakukan sebulan sekali suntik dan jenis kedua KB suntik yang dilakukan setiap 3 bulan sekali suntik. KB suntik 1 bulan sekali hanya boleh diberikan kepada perempuan di bawah usia 45 tahun. Adapun untuk KB suntik 3 bulan sekali hanya boleh diberikan kepada perempuan di bawah usia 35 tahun. Namun, kenyataan di lapangan para ibu-ibu yang telah menginjak usia di atas 45 tahun, bahkan di atas usia 50 tahun, mereka masih ber-KB. Walau dalam procedural di usia tersebut tidak disarankan untuk KB suntik.

Usia 50 tahun untuk seorang perempuan secara science sudah dapat dikatakan menopause, sehingga kemungkinan hamil itu kecil. Penulis dalam hal ini tidak tahu hal buruk yang akan terjadi pada kesehatan para ibu-ibu yang masih menggunakan KB di usia menopause. Pasalnya, memang penulis bukan ahli kesehatan dan bukan tenaga medis. Penulis hanya mampu menduga-duga saja. Karena penulis tidak memiliki kapasitas pengetahuan tentang ilmu medis.

Penulis hanya bisa menduga, mungkin saja, memang ada dampak buruknya pada kesehatan para aseptor (para ibu-ibu). Karena yang disuntikan kepada aseptor bukanlah cairan air putih, namun itu cairan hormonal. Tentunya akan berpengaruh  pada tubuh aseptor. Entah di bagian tubuh yang mana yang resisten dan rentan pada hal buruk. Yang jelas itu berdampak.

Penulis heran saja pada tukang KB-nya. Mengapa mereka masih memberikan izin para ibu-ibu yang telah berusia menopause untuk tetap KB suntik? Padahaldalam ketentuan, di usia 50 tahun ke atas tidak disarankan untuk KB suntik. KB suntik adalah alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Dan memang benar adanya dalam berkeluarga harus merencenakan kapan hamil, dan berapa banyak anak biologis yang harus dimiliki. Namun disisi lain dari rencana-rencana itu, seharusnya mereka juga mempertimbangkan kesehatan dari pihak perempuan. Takut pada Kehamilan Tidak Terduga (KTD) adalah bentuk proteksi agar keluarga tetap harmonis. Namun juga patut dipertimbangkan dampak buruk kesehatan yang akan diterima dari alat kontrasepsi yang digunakan tersebut.

Orang yang menggunakan KB suntik adalah perempuan, sehingga orang yang rentan pada kesehatan buruk adalah perempuan. Jika hari Kartini saat ini telah memberikan kemerdekan perempuan dalam ranah publik, seharusnya perempuan dengan kemerdekannya mampu keluar dari kesadaran palsu. Merasa tidak apa-apa dan baik-baik saja menggunakan KB suntik walau usia telah menginjak menopause. Mereka melalui dan dijalani semua itu seolah tidak akan ada resiko kesehatan yang sewaktu-waktu mengancam jiwanya. Semua dianggap wajar dan biasa saja. Toh selama ini tidak terjadi apa-apa. Begitulah yang hendak mereka nyatakan, saat ditanya kenapa tidak berhentik dari KB suntik walau usia telah menopause?

Terakhir, ini hanya dugaan dan bentuk rasa penasaran dari penulis tentang KB suntik, sehingga diharapkan setiap teks yang tersaji tidak dijadikan sebagai kebenaran. Namun cukup digunakan menjadi pemantik rasa kepedulian pada lingkungan sekitar. Minimal penasaran. Penasaran adalah rasa yang paling wajar dimiliki oleh setiap manusia. Seperti halnya penulis penasaran pada hal ini. Penulis penasaran karena penulis adalah perempuan. Tentu melihat hal-hal seperti itu menjadi hal-hal yang patut untuk dipenasarankan. Karena mungkin, kelak penulis juga akan memasuki usia-usia seperti itu. Mengetahui dampak buruk dari semua hal itu diawal adalah hal terbaik untuk kehidupan para perempuan yang lebih baik dan lebih sehat lagi. Hahaha… Selamat Hari Kartini.

Baca juga tanggapan atas tulisan di atas di sini. Mereka Hanya Menunggangi Kartini, Termasuk Kamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here