Mereka Hanya Menunggangi Kartini, termasuk Kamu

1
http://harian.analisadaily.com

Mereka – Membaca tulisan Kak Dwi Lestari, aku menjumpai satu hal menarik. Satu saja. Adalah bagaimana dia menceritakan para perempuan hari ini yang rela rimpung demi merayakan Hari Kartini. Mereka, lanjut Lestari, tidak jemu untuk pergi ke salon, menyewa kebaya, memakai konde, dan sejenisnya. Sedikit perasaan wegah, mungkin ada, tapi itu buru-buru menguap kala ingat jika perayaan ini hanya terjadi sekali dalam satu tahun. Walhasil, menjadi nyatalah fenomena di muka.

Tapi, yang saya sayangkan dari Kak Lestari dalam tulisannya ada dua. Pertama, ia seolah tidak tertarik untuk masuk ke wilayah yang lebih mendasar, yaitu alasan kenapa mereka sampai mau rimpung. Kedua, Kak Lestari juga tidak tertarik untuk mengaitkannya dengan praktik-praktik perayaan Hari kartini secara daring, padahal jika kita bandingkan, antara perayaan pertama—yang bergaya karnaval—dengan perayaan lewat daring, yang terakhir lebih menjamur. Entah, aku tidak tahu, mungkin Kak Lestari kurang suka berjalan-jalan di cerita WA dan IG teman-teman.

Di bagian penelisikan motif, andai Kak Lestari mau masuk, mungkin dia bisa pula sampai pada level justifikasi. Maksudnya, dia bisa sah-sah saja memberi penilaian pada teman-teman perempuan kita jika apa yang tengah mereka lakukan—mengatasnamakan perayaan Hari Kartini—justru bertentangan sama sekali dengan semangat Kartini di akhir abad 19. Apa pasal? Sebab mereka mau-mau saja memakai kebaya dan konde, mengitari desa, sembari berjalan pelan-pelan layaknya puteri-puteri Jawa.

Apa hubungannya, bukankah Kartini juga seorang puteri jawa yang berkebaya, yang berkonde, dan berjalan layaknya siput? Tidak. Yang ada, justru Kartini menentang semua tetek bengek di atas. Dalam salah satu suratnya dia menyebut begini, “Saya juga membenci formalitas. Untuk apa saya mematuhi peraturan-peraturan adat itu? Saya gembira bahwa pada suatu ketika dapat melepaskan adat sopan-santun jawa yang rumit itu.” Pas di sini sekonyong terlintas dalam pikiran: ada apa dengan Dwi Lestari sehingga melewatkan bagian ini.

Adapun soal perayaan melalui media sosial, mungkin inilah yang menggodaku untuk ikut campur. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih buat Kak Lestari karena telah menyisakan celah ini. Aku yakin, pada tanggal 21 April kemarin, ada di antara kita yang setibanya risau gara-gara WA dan IG-nya dipenuhi dengan postingan “Selamat Hari Kartini”. Ada yang sebatas mengambil meme dan kemudian dipasang di ceritanya, ada yang menuliskan sendiri secara manual, dan beberapa cara lain. Pokoknya, gawainya sesak.

Di waktu bersamaan, seorang teman iseng bertanya, kenapa ya mereka begitu? Apakah dengan memasang foto Kartini di status media sosial itu artinya kewajiban mereka telah gugur? Kalau semisal begitu, berarti mengucapkan “selamat hari kartini” wajib dong? Ada banyak kemungkinan. Tapi aku pikir, ada satu yang paling dekat. Apa itu? Identitas. Boleh jadi mereka melakukan hal tersebut supaya orang-orang di sekitarnya mengerti kalau dirinya adalah perempuan yang nasionalis. Perempuan yang mencintai negerinya. Yang merayakan hari-hari nasional Indonesia. Intinya, biar terlihat sebagai pribadi yang nasionalis lah. Kan keren toh. Dengan menunggangi Kartini, mereka jadi keren.

Lantas, apakah hal tersebut efektif dan sejauh mana mereka memahami Kartini itu sendiri? Ah soal ini, sepertinya Kak Lestari berkenan menjawabnya. Atau mungkin Mbah Takrib. Atau saudaranya itu—ah aku lupa namanya. Sudahlah.[Idayu]

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here