Ini Perkara Nyawa, Jangan sibuk Mengaitkan!

0
merdeka.com

Oleh: Edi Eka Setiawan*

Setiap kali ada aksi teror selalu ada yang nyinyir bahwa aksi itu hanya rekayasa, drama, pengalihan isu. Hanya konspirasi dengan khayalan yang cenderung ngawur atau bahkan berdasarkan logika cocokologi. Logika macam apa itu? Ini soal nyawa! ini soal pembunuhan yang sangat keji, tidak manusiawi! Kok masih sempat-sempatnya berpikir bahwa ini adalah rekayasa yang sengaja diatur oleh pihak tertentu. Gila boleh-boleh saja, tapi pintarlah sedikit. Sedikit saja gak usah banyak-banyak!

Mana ada rekayasa dan drama yang sampai merenggut nyawa? Kalau di film-film aksi mereka meninggalnya hanya pura-pura, ekting yang dilakukan seperti nyata karena semakin baik ekting-nya, maka semakin bagus pula hasilnya. Lha ini nyawa beneran lho. Oke, bagi yang menganggap aksi-aksi itu hanya drama. Besok kita main drama. Saya sebagai pelaku teror dengan peralatan senapan, benda tajam, dan tak lupa bom. Coba yang berperan sebagai korban istri dan ibumu. Oiya, jangan lupa anakmu juga biar terkesan dramanya sadis. Dan saya akan memberondong ibu, istri, dan anakmu deng peluru pas tepat di kepalanya sampai tembus. Darahnya mengalir dengan bau amis menusuk, kepala ibumu hancur, istrimu saya tusuk dengan benda tajam sampai keluar organ-organnya, dan anakmu saya lempar bom biar meledak tubuhnya. Relakah? Katanya drama? Coba bayangkan kalau yang menjadi korban pengeboman korban penusukan itu anggota keluargamu, masihkah mau nyinyir dan menganggap itu drama? Ayolah kawan pintarlah sedikit.

Kejadian demi kejadian telah memakan banyak korban jiwa dan semuanya kauanggap rekayasa? Oke, kalau begitu saya juga ingin berimajinasi, mengaitkan kejadian-kejadian teroris baru baru ini dengan selingkung cocokologi. Kejadian yang terjadi berentetan mulai dibubarkannya secara resmi partai HTI pada tanggal 7 Mei 2018. Kemudian pada 10 Mei 2018 ada kerusuhan di Rutan Mako Brimob Depok. Tanggal 11 Mei 2018 terjadi penusukan anggota Brimob oleh mahasiswa yang berafiliasi dengan teroris. Kemudian ada aksi pembunuhan polisi oleh dua wanita asal temanggung pada 12 Mei 2018 dan tanggal 13 mei 2018, bom meledak di tiga titik di Surabaya. Bom bunuh diri menyasar di tiga gereja yang para jemaatnya sedang melakukan ibadah. Semua terjadi setelah organisasi itu resmi menjadi organisasi terlarang di indonesia. Ini jelas ada sangkut pautnya dengan HTI. Tapi sekali lagi ini adalah teori konspirasi dengan gaya cocokologi lho. Kalau memang tidak ada sangkutannya ya sudah! Toh saya cuma berkhayal. Heuheu.

Saya menganggap bahwa setiap pelaku teror adalah orang yang sakit jiwa. Mereka adalah saudara kita yang sinting dan sedang melakukan tafsir “Syahid” semaunya sendiri. Membusukkan ayat melalui tindakan anarkis. agama mana yang mengajarkan tentang pembunuhan? Islam tentu tidak. Tidak pernah ada label “Syahid” untuk pelaku pembunuhan, apalagi bom bunuh diri. Islam pun mengancam para pelaku bunuh diri akan kekal dalam neraka selama-lamanya. Lha ini kok malah bunuh diri agar bisa masuk surga. Surga siapa yang ingin kau masuki? Sedangkan saudaramu terbunuh dan darah bercururan akibat ulahmu. Ulahmu!

Tidak cukup hanya mengecam. Tidak cukup hanya mengutuk atas tindakan teror. Radikalisme tak akan hilang dengan hanya kecaman. Ingat itu! Kesakitan jiwa para pelaku tidak akan sembuh hanya dengan sumpah serapahmu. Mereka akan terus menebar ancaman tanpa kita sadari. Mereka ada di mana-mana. Mereka merebut orang-orang untuk dikorbankan dengan disakitkan jiwanya. Mereka merakit senjata dengan diam-diam. Tujuannya satu, menebar kerusakan, menebar ketakutan. Karena teroris sudah banyak menyusup di dunia maya (saya rasa termasuk orang yang nyinyir di atas).

Kita harus bersama-sama melawan teroris atau setidaknya bisa mengurangi perkembangannya. Seperti yang ditulis mas Makinudin Samin, penulis buku Ahangkara, bahwa untuk mengurangi atau bahkan mencegah aksi teror-teror adalah dengan merelakan sedikit kesenanganmu. Periksa siapa guru ngaji anak-anakmu. Siapa mentor anak-anakmu. Siapa kawannya. Buku apa yang dibaca. Cermati lingkungan, luangkan waktu untuk bertetangga. Dan pastikan orang-orang di sekitarmu tidak memakan asumsi gila para perancang kematian para teroris. Karena yang diburu adalah otak-otak kosong dengan doktrin mereka.

Ini adalah hal sepele, dan sangat mudah, mengingat anak-anak kecil di indonesia telah di besarkan dengan kekerasan. Mengucap takbir tapi membunuh. Mengucap takbir, tapi menghujat. Mengucap takbir, tapi menghina. Mengucap takbir tapi mengkafirkan. Asu!

Dan hari ini surabaya sedang berduka. Indonesia berduka, tapi radikalisme harus dilawan. Pancen Jancok teroris itu.

 

*Edi Eka Setiawan, pengagas

    KMTI (Keluarga Mahasiswa Tuban Indonesia)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here