Jangan Begitu, itu justru Menunjukkan Ketakutanmu!

0
kumparan.com

oleh: Edi Eka Setiawan

semenjak maraknya aksi teror di berbagai tempat di indonesia, saya sangat jenuh ketika di grup-grup WA dan di Fesbuk banyak bertebaran informasi terkait aksi teror. Mulai dari tulisan yang menunjukkan rasa simpati terhadap korban, nyinyiran, analisis tajam setajam silet, sampai dengan meme-meme yang menggemaskan.

Untuk yang terakhir telah mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, ia dianggap tidak memiliki rasa simpati terhadap korban. Banyak orang yang berduka kok malah asyik menyebarkan meme-meme lucu. Tapi, di sinilah memang uniknya orang Indonesia.

Masyarakat Indonesia memang sangat kreatif dalam menciptakan humor-humor dalam kondisi sesulit apa pun. Namun, tanpa disadari inilah bentuk aksi untuk melawan terorisme. Tujuan terorisme adalah menebar ketakutan. Ketika dengan aksi teror itu kita dirundung kesedihan atas korban, tanpa mengurangi rasa hormat dan belasungkawa terhadap korban, meme dan humor adalah penangkal rasa takut. Karena penangkal ketakutan adalah humor.

Tagar semacam #kamitidaktakut, #lawanteroris, #akuorawediteror, dan beberapa lainnya, saya rasa justru merupakan sebuah ketakutan yang sengaja ditutupi. Ia adalah sebuah ketakutan yang disembunyikan. Kita tahu bersama bahwa dengan tagar teroris tidak akan pudar. Apalagi menghentikan aksi teror. Bisa jadi semakin kita lawan aksi serupa akan terus menjadi.

Orang indonesia sejatinya tidak gampang untuk diteror. Mereka sudah terbiasa diteror. Kita bisa saksikan ketika ada teroris di Thamrin, ada pedagang sate yang dengan pedenya mengipas-ngipas sate tanpa ada rasa takut sedikit pun. Inilah masyarakat indonesia. Semua momen bisa jadi peluang. Termasuk adanya teror. Mungkin setelah berlarian baku tembak ada beberapa pihak yang lapar dan dahaga karena terkuras tenaganya. Nah, inilah kesempatan bagi para pedagang. Termasuk kang Jamal, pedagang sate tersebut.

Teror yang sesungguhnya bagi masyarakat indonesia bukanlah aksi bom bunuh diri atau aksi-aksi lainnya. Melainkan “besok kita makan apa?” adalah bentuk teror paling menakutkan. Bagi jomblo, teror yang paling berbahaya adalah ketika datangnya hari sabtu. Setiap malam hatinya selalu diteror. Apalagi ketika melihat truk gandeng. Pasti modyar perasaannya.

Belum lagi teror dari debtcollector yang selalu mengintai setiap sudut rumah karena cicilan motor sudah nunggak tiga bulan. Ini adalah teror yang paling sadis. Dan juga yang baru baru ini, teror yang paling mengerikan bagi mak-mak, yakni pelakor (perebut lelaki orang). Karena berpotensi akan mengubah status dari istri muda nenjadi istri tua.

Tak terkecuali saya, bagi saya teror yang sesungguhnya adalah ketika masuk bulan puasa dan sebentar lagi lebaran tetapi toples konghuan saya masih berisi rengginang (sejenis makanan yang sering jadi nyinyiran di Tuban). Tanpa mengurangi rasa simpati dan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan atas aksi teroris, mari kita lawan teror dengan humor. Heuheu.

#lawanterordenganhumor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here