Merawat Ingatan tanpa Kedalaman, begitulah Kumenyebut

0
http://www.mariuxapps.com

Tulisan ini adalah bentuk respons penulis pada tulisan IDAYU tempo lalu tentang Hari Kartini. Respons kritis IDAYU membuat penulis sadar ternyata merawat ingatan tentang 21 April sebagai Hari Kartini adalah ingatan tanpa kedalaman. Maksudnya, segala pengetahuan yang kita miliki dan ingat saat ini tentang Hari Kartini tampaknya hanya sebagai ingatan peristiwa yang tidak sepenuhnya kita pahami. Artinya ada informasi pengetahuan tentang sejarah Kartini yang tidak mampu diperoleh secara penuh. Dalam bahasanya Anthony Giddens (2014) ada diskontinuitas pengetahuan, yaitu soal adanya pengetahuan, pemahaman, tentang Kartini yang berbeda dari masa sebelumnya. Andai dulu perayaan Hari Kartini adalah tentang sesuatu yang material, yaitu berdandan menggunakan pakaian adat Jawa, pawai, fashion show, maka kini mulai ada perayaan Hari Kartini yang hanya dipusatkan pada informasi. Artinya perayaan Hari Kartini bukan lagi tentang pawai dan berbagai hal material dan konvensional itu saja, namun juga tentang informasi dengan bentuk aktualisasi kita di media sosial.

Tanggal 21 April lalu diperingati sebagai Hari Kartini. Hari ketika seluruh masyarakat Indonesia diajak untuk mengingat dan merawat ingatan tentang perjuangan Kartini. Penulis pun turut serta dalam perayaan Hari Kartini dengan euphoria menulis Hari Kartini, Konde, dan KB Suntik”. Lantas mendapatkan responqs dari IDAYU. Ada hal menarik dari responmu, Da, “[…] Hari Kartini justru bertentangan sama sekali dengan semangat Kartini di akhir abad 19 […]”. Mungkinkah dari penyataanmu itu, kamu hendak mengatakan, begini Da: perayaan Hari Kartini tidak sesuai dengan semangat Kartini kala itu? Apalagi terdukung dengan penjelasanmu yang begini“[…] bukankah Kartini juga seorang puteri Jawa yang berkebaya, yang berkonde, dan berjalan layaknya siput? Tidak. Yang ada, justru Kartini menentang semua tetek bengek di atas. Dalam salah satu suratnya dia menyebut begini, “ Saya juga membenci formalitas. Untuk apa saya mematuhi peraturan-peraturan adat itu? Gembira bahwa pada suatu ketika dapat melepaskan adat sopan-santun Jawa yang rumit itu.”[…]”.

Da, kamu hendak menyatakan “perayaan Hari Kartini tidak sesuai dengan semangat Kartini kala itu” atau tidak, penulis tetap memiliki dua asumsi untuk merespons tulisanmu. Pertama, perayaan Hari Kartini yang tidak sesuai dengan semangatnya Kartini kala itu, tentu itu sudah menunjukan adanya diskontinuitas pengetahuan seperti yang telah penulis jelaskan di paragraf awal tadi. Jika dulu Kartini memberontak dengan adanya tradisi priyayi Jawa yang formal, yakni dengan berpakaian adat Jawa, berkebaya, berjarik, berkonde, maka kini mengenakan pakaian seperti itu malah digunakan sebagai simbol merawat kebudayaan tradisional Jawa, sekaligus cara merawat ingatan tentang perjuangan Kartini yang pernah memberontak dengan tradisi berpakaian formal priyayi Jawa.

Respons kedua adalah perayaan Hari Kartini tidak sesuai semangat Kartini kala itu saat merayakan Hari Kartini menggunakan pakaian adat Jawa. Jika dulu pakaian Jawa  adalah sesuatu yang sakral. Berpakaian formal adat Jawa sebagai bentuk indentitas bahwa ia adalah orang Jawa. Pakaian dipergunakan sebagai simbol tentang dirinya adalah orang Jawa. Tampaknya di masa kini, berpakaian adat Jawa bukan lagi tentang sesuatu yang sakral lagi, namun hanya sebatas sesuatu yang profan. Artinya, menggunakan pakaian adat Jawa di perayaan Hari Kartini tidak dapat kita gebyah uyah bahwa orang tersebut adalah orang Jawa. Pasalnya, pakaian adat Jawa bukan lagi menjadi indentitas untuk pemakainnya, namun pakaian adat Jawa hanyalah sebagai simbol made in Java.

Selanjutnya penulis akan merespons pernyataan IDAYU, “[…] kak Lestari juga tidak tertarik untuk mengaitkannya dengan praktik-praktik perayaan Hari Kartini secara daring padahal jika kita bandingkan, antara perayaan pertama yang bergaya karnaval dengan perayaan lewat daring, yang terakhir lebih menjamur. Entah, aku tidak tahu, mungkin Kak Lestari kurang suka berjalan-jalan di cerita WA dan IG teman-teman.” Da, dari pernyataan itu, penulis hanya mampu merespons bahwa penulis menyukai dan lihat aplikasi story whatsapp  (WA) selayaknya orang-orang menggunakan aplikasi tersebut. Menggunakannya untuk chatting, mengaktualisasikan diri dengan membuat story WA, melihat story WA yang muncul di time line. Untuk aplikasi Instagram penulis tidak memilikinya, jadi penulis hanya mampu menikmati segala kebermanfaatkan dari WA.

Sayangnya walaupun penulis memiliki aplikasi WA dan menggunakannya. Namun penulis tetap saja tidak memiliki kapasitas pengetahuan untuk menjadikan fenomena di media sosial sebagai hal menarik, untuk dijadikan ide tulisan di Hari Kartini saat itu. Menganalisis sesuatu itu kan perlu kapasitas pengetahuan, pengalaman, toh Da, karena penulis tidak memiliki kapasitas di sana, jadi penulis pun tidak mampu menjadikan hal tersebut sebagai ide tulisan. Meskipun demikian, namun penulis akan berusaha merespons pernyataanmu yang ini, Da, […] apakah hal tersebut efektif dan sejauh mana mereka memahami Kartini itu sendiri?[…]”.

Bagi penulis secara pribadi hal itu efektif-efektif saja. Merayakan Hari Kartini secara konvensional: pawai, fashion show, menggunakan atribut pakaian adat Jawa atau pun merayakan dengan mengaktualisasikan diri di media sosial adalah sesuatu yang efektif. Keduanya sama-sama efektif berdasarkan pemahamannya masing-masing tentang Kartini. Mengingat, setiap orang memiliki kapasitas pengetahuan, pengalaman yang berbeda. Sekalipun seseorang tinggal sekota, selingkungan pendidikan, sekos, bahkan sekamar pun, hal tersebut bagi penulis tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi seseorang “sejauh mana seseorang memahami Kartini”.

Bagi penulis, setiap orang yang merayakan Hari Kartini, apapun orientasi gendernya, usianya, status sosialnya, apa pun klasifkasinya, mereka adalah orang yang memiliki pemahaman tentang Kartini. Pemahaman tentang Kartini yang dangkal atau dalam itu hanya tentang kemampuan setiap pribadi. Melihat pemahaman seseorang tentang Kartini tidak dapat dilihat dari perilakunya dalam merayakan. Karena ada orang yang merayakan Hari Kartini bukan atas dasar pemahaman. Ada yang merayakan Hari Kartini sebagai cara merawat ingatan tentang Kartini agar tidak terlupakan, ada pula yang merayakan Hari Kartini sebagai momen tuntutan pekerjaan, tuntutan kebersamaan sebagai manusia yang ber-etika, saat hidup bermasyarakat. Banyak hal tentang perayaan Hari Kartini. Beginilah yang bisa penulis respons atas respons dalam tulisanmu Da.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here