Manuver Dagang Juragan Ritel

0
Ritel
Mochtar Riady - Pendiri Lipopo Group

Ritel – Sejak tahun 2000-an, kita menyaksikan revolusi teknologi komunikasi dan informasi yang berlari begitu kencang. Sudah diprediksi—tetapi masih juga mengagetkan dan menggegerkan—bahwa revolusi ini mengubah peta perdagangan global.

Berbagai perusahaan besar yang tampak kokoh sekonyong-konyong ambruk. Sebagai contoh, Nokia, yang telah membangun sistem dagang subsisten, bangkrut tanpa melakukan kesalahan apa pun dari segi manajemen. Setidaknya, itulah pengakuan sang CEO. Diliputi pikiran yang sarat tanda tanya, dia lantas menjual Nokia kepada Microsoft. Perusahaan transportasi, hotel, garmen, dan keuangan konvensional terancam bangkrut karena kalah bersaing dengan start up yang berdagang dengan platform online.

Badai revolusi digital juga mengancam pasar perusahaan ritel. Pasar yang kini didominasi populasi generasi milenial lebih memilih model layanan pembelian yang ditawarkan toserba online semacam Amazon, Alibaba, dan Bukalapak. Perlahan-lahan, orang meninggalkan Matahari, Hypermart, dan supermarket lain. Mal beralih fungsi dari toserba menjadi destinasi wisata dan hiburan. Sistem dagang subsisten supermarket raksasa sedang sekarat.

Harus diambil tindakan penangan gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa supermarket. Tampaknya, untuk maksud inilah juragan ritel Matahari + Hypermart, yang juga CEO Lippo Group, Mochtar Riady, melakukan manuver dagang yang cerdik. Dia paham tanda-tanda zaman. Akibat revolusi komunikasi, trend ekonomi dunia sedang bergeser dari owning economy menuju sharing economy. Platform perdagangan konvensional memasuki senjakala. Di lain sisi, platform perdagangan online, yang lebih bernuansa sosialis dan demokratis, sedang mengalami fajarkala.

Bagaimana manuver yang dijalankan juragan ritel itu untuk menyelematkan bisnis ritelnya? Bergandengan tangan dengan Kementerian Perdagangan, dia turun gunung untuk “menolong” para pedagang kelontong di desa-desa seluruh Indonesia. Sebelum mengeksekusi rencana besar itu, dia membangun pilot projet. Mochtar sekarang sedang mendigitalkan toko-toko kelontong di sebuah desa kecil di Jawa.

Sesepuh para bankir tersebut tidak hanya meng-online-kan toko kelontong, tidak pula sekadar memodernkan toko kelontong sebagaimana yang dilakukan juragan Indomaret. Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, dia mau memformat ulang sisi supply dan demand toko kelontong tradisional. Mochtar membangun sistem dagang subsisten untuk toko kelontong digital, persis seperti dia membangun sistem dagang subsisten untuk supermarketnya. Maka, dia tidak hanya bicara tentang pemasaran, tetapi juga produksi dan industri lokal yang menopang kesintasan toko kelontong digital. Dan bisa ditebak, mitra dagang dan mentor manjemen toko-toko kelontong digital ini siapa lagi kalau bukan Hypermart.

Mengapa toko kelontong di pedasaan? Toko kelontong merupakan bagian dari usaha mikro yang mampu bertahan dalam krisis ekonomi 1998 silam. Toko kelontong di pedesaan yang bertumpu pada komoditas ekspor agraris bahkan mengalami kemajuan bisnis. Sebab, saat itu harga kebanyakan komoditas ekspor agraris melambung.

Ada satu alasan lagi kenapa pilihan jatuh pada toko kelontong: segmen pasar usaha kecil ini adalah golongan masyarakat low end. Dibanding kelas menengah yang berdaya beli tinggi, daya beli kelompok low end memang tampak kurang menggiurkan bagi pengusaha kakap. Namun, daya beli dan demand mereka relatif lebih stabil. Sementara itu, daya beli dan demand kelas menengah mudah terpengaruh krisis ekponomi.

Berdasarkan pengalaman rangkaian krisis ekonomi global sebelumnya, para pakar memprediksi bahwa krisis ekonomi akan terjadi lebih sering dengan jarak waktu yang lebih rapat. Masa recovery dan kemapanan juga akan lebih pendek. Karena itulah, toko kelontong kemudian dianggap sebagai dewa penyelamat oleh para pengusaha kakap semisal Mochtar Riady.

Belum merasa cukup dengan mendigitalkan toko kelontong, dia bergerak lebih jauh dengan mengikuti langgam social entrepreneurship generasi milenal. Selain mendigitalkan toko kelontong di desa pilot project-nya, Mochtar pun merancang layanan kesehatan murah untuk desa itu. Dia menyebut platform bisnis jasa kesehatan gaya baru ini dengan tele-medika. Dengan bantuan media komunikasi mutakhir, orang desa memperoleh layanan dari dokter spesialis tanpa perlu berobat ke rumah sakit kota yang seringkali mahal. Tentu saja, juragan rumah sakit Siloam ini punya cadangan dokter spesialis berlimpah di berbagai provinsi.

Manuver dagang cerdik yang dilakukannya untuk menyelamatkan Matahari + Hypermart, memberinya bonus keuntungan, yaitu mengembangkan bisnis kesehatan. Dia mengajak pemerintah untuk menjadi mitra Siloam dalam memberikan layanan dokter spesialis buat rakyat kecil di seluruh Indonesia. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil menyelam, minum air. Dia mau menyulap bencana menjadi berkah.

Bayangkan, kalau pilot project-nya berhasil lalu disebar-luaskan ke seluruh Indonesia, dia akan berhasil pula meniupkan napas baru ke dalam tubuh Matahar + Hypermart dan meraksasakan Siloam. Sebagaimana dulu dia berhasil menyelamatkan jejaring bisnisnya dari krisis ekonomi 1998, dengan rencana besarnya kali ini, barangkali dia akan berhasil pula menyelamatkan Lippo Group dari badai revolusi teknologi komunikasi dan informasi yang menggoncang dan mengubah peta perdagangan global. Kecerdikan Mochtar membuktikan bahwa dia memang legenda bisnis. Saya harus angkat topi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here