“Kitab Upanishad itu,” tulis Dara Shikoh, “berisi hakikat tauhid dan ia merupakan rahasia yang dibiarkan tetap menjadi rahasia.” Pernyataan yang menggoncang pandangan mainstream ini merupakan buah dari pengalaman passing over penulisnya (Dara Shikoh) yang beragama Islam.

Saat agama digunakan sebagai senjata untuk melukai dan membunuh seperti sekarang, Dara Shikoh mesti sering-sering dikenang. Dikenang riwayat hidupnya yang suci dan herois, tetapi juga tragis. Dikenang kerja kerasnya dalam membangun hubungan harmonis antar umat beragama, khususnya umat Hindu dan Islam.

Dara Shikoh adalah pangeran dari Dinasti Mughal India yang hidup sekitar empat abad silam. Dia murid dua waliyullah besar Mughal pada zamannya, yaitu Hazrat Mian Mir dan Sarmad Kashani. Dan dia putra tertua Shah Jehan, sultan romantis yang mendirikian mausoleum megah nan indah untuk mendiang istrinya tercinta, Mumtaz Mahal.

Sang sultan sebenarnya ingin menyerahkan tahta kepada Shikoh. Tapi, Pangeran Muhiuddin menentang rencana tersebut. Adik Shikoh ini merasa menjadi satu-satunya pangeran yang berhak mewarisi singgasana Mughal. Maka, terjadilah suksesi berdarah. Perang saudara berkecamuk. Cerita berakhir menyedihkan: Dara Shikoh, juga Shah Jehan, tewas di tangan Pangeran Muhiuddin yang kelak menyandang gelar Aurangzeb. Shikoh meninggal pada usia 44, pada 30 Agustus 1659.

Tentulah perang saudara yang tragis itu diselimuti atmosfer konflik antaragama. Kapan pun dan di mana pun, bagi para pemain politik, agama selalu menarik sekaligus mengancam. Diamati sepintas lalu, Shikoh tampaknya hanya ingin merekatkan hubungan umat Hindu dan umat Islam India yang diliputi ketegangan berkepenjangan.

Namun, bila perspektif pengamatan diperluas, terlihatlah bahwa misi Shikoh ternyata melampaui kategori agama. Sebagaimana diperjuangkan Mahatma Gandhi ratusan tahun kemudian, Shikoh tampaknya hendak membangun persatuan dan kesatuan sosial di India Raya. Mempertemukan Hindu dan Islam merupakan langkah awal untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Persatuan dan kesatuan India Raya “sebagai hasil perjuangan Shikoh” kiranya tak dikehendaki Aurangzeb. Sebab, jika Shikoh berhasil menjalankan misinya, sosok Aurangzeb tertelan bayang-bayang keagungan sang kakak. Karena itulah, jauh sebelum misi tersebut terwujud, Aurangzeb menjegal langkah Shikoh yang—langsung atau tak langsung—direstui Shah Jehan. Sebuah misi, sebuah mimpi, sebuah ide, ditumpas dengan membunuh penggagasnya.

Tapi, apakah penumpasan mimpi itu efektif? Shikoh boleh mati tetapi mimpinya tidaklah mati. Anda bisa membunuh manusia tetapi Anda tidak akan pernah bisa membunuh ide. Karya-karya sufi Qadiriyyah ini dilestarikan, terus dibaca, terus dikomentari, terus pula disalin ulang. Naskah Majma-ul-Bahrain hingga kini masih tersimpan di Portrait Gallery of Victoria Memorial, Kalkuta. Bahkan, master piece sang pangeran itu dicetak dan diterbitkan pada kurun modern dalam bahasa Hindi dengan judul Samudra Sangam.

Selain Majma-ul-Bahrain, Shikoh menulis sederet karya lain baik karya asli maupun terjemahan. Dibimbing guru dan sahabat Hindu-nya, dia menerjemahkan kitab Yoga Vasishta, Ramayana, Mahabarata, Bhagavad Gita, dan Upanishad ke dalam bahasa Persia, salah satu bahasa resmi kekaisaran Mughal. Terjemahan Upanishad-nya diberi judul Sirr-e-Akbar, secara harfiah ber-arti ‘rahasia paling besar’. Menurutnya, apa yang al-Quran sebut sebagai al-kitab al-maknun tiada lain adalah Upanishad.

Meski pendapatnya itu kontroversial dan sungguh menantang, karya Shikoh menarik simpati dan mendapat apresiasi. Syed Hussein Nasr, dalam Islam dan Pertemuan Agama-Agama, mencatat bahwa Abu al-Qasim Findiriski, ulama besar Persia abad ke-17, menulis sejumlah kitab syarah untuk menafsirkan terjemahan Shikoh atas Upanishad, Ramayana, Mahabarata, dan Yoga Vashista. Ini artinya, Shikoh berhasil mengenalkan hakikat agama Hindu kepada umat Islam secara luas sampai-sampai ulama sekaliber Findiriski pun, yang bermukim dan mengajar di Iran, tertarik untuk mengomentari karya terjemahannya.

Pada abad modern, nun jauh di bumi Indonesia, kerja rintisan Shikoh dilanjutkan oleh seorang pangeran muslim dari Kesultanan Melayu Langkat, Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetra. H.B. Jassin menjuluki pengarang diwan Nyanyi Sunyi ini sebagai “raja penyair pujangga baru”. Amir Hamzah termasuk eksponen Pujangga Baru, gerakan sastra 1930-an yang dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana.

Selama ini Amir Hamzah lebih dikenal sebagai penyusun Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, dan Setanggi Timur yang pada usia 35 meninggal tragis sebagai korban pergolakan politik. Jarang diketahui bahwa pangeran muslim ini pernah menerjemahkan Bhagavad Gita ke dalam Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang indah.

Berbeda dari Dara Shikoh yang menerjemahkan Bhagavad Gita langsung dari sumber aslinya yang berbahasa Sansekerta, sumber terjemahan Amir Hamzah adalah Bhagavad Gita berbahasa Belanda hasil terjemahan J.W. Boussevain. Dalam Amir Hamzah: Raja Penyair Pujangga Baru (1986), Jassin melampirkan terjemahan Amir Hamzah atas teks suci umat Hindu tersebut. Saya kutip beberapa bait supaya Anda dapat mengalami dan menikmati keindahan bahasa sang sufi-pujangga.

“Mereka yang memikirkan barang hawa nafsunya maka terbitlah keinginan padanya akan barang itu. Dan ingin itu melahirkan kehendak. Kehendak itu menjadikan marah.

Sebab marah datanglah sesat. Dan sesat membawa ke ingatan yang kacau. Dan pikiran yang kacau ini memusnahkan budi. Dan budi yang punah ini membawanya tumpas.

Tetapi mereka yang tunduk pada sendiri (Atma), yang hidup di tengah-tengah barang yang menimbulkan hawa nafsu itu tetapi bebas daripada ingin, lepas daripada kongkongan nafsu dan benci, takluk kepada Atma, ialah akan beroleh aman.

Dalam keamanannya itu punahlah segala duka. Sebab, kalau hati itu telah sentosa, maka budi itu pun akan setimbanglah.

Siapa yang tiada menuju ke Persatuan, tiada berbudi. Dan tiada pula tafakkur padanya yang tiada menuju ke Persatuan itu. Dan mereka yang tiada bertafakkur, tiadalah merasa sentosa. Bagaimanakah pula datang bahagia pada mereka yang tiada mengetahui sentosa?”

Terjemahan tersebut menandakan ikhtiar Amir Hamzah untuk mengenali Bhagavad Gita dan mengenalkannya kepada publik modern Indonesia. Sebagai muslim, dia menjalani lelaku passing over: menyelami samudera agama lain lalu mengambil mutiaranya untuk memperkaya dan memperdalam penghayatan agama yang diyakininya. Amir Hamzah membuka diri terhadap agama lain dan mengajak orang lain untuk membuka diri pula.
Dia memandang agama lain tidak dengan mata seorang hakim yang penuh panah kecurigaan, tidak pula dengan mata seorang pengacara yang sarat sorot pembelaan.

Bagi Amir Hamzah, seperti halnya bagi sufi lain, ada sesuatu yang lebih dalam dari doktrin teologi, yaitu kasih sayang, kemanusiaan, dan persaudaraan. Agama datang untuk manusia. Agama, apalagi sekadar sekte dan organisasi keagamaan, hadir tidak untuk memecah belah kohesi sosial. Sebaliknya, agama bertugas memulihkan kohesi sosial yang ambyar.

Jejak langkah Amir Hamzah itulah yang diteladani Ria Fitriani. Sebagai muslim yang lama berkecimpung dalam gerakan mahasiswa Muhammadiyah, dengan berani Ria menguji imannya justru untuk lebih mendewasakan iman tersebut. Sebagaimana Dara Shikoh dan Amir Hamzah, Ria pun menjalani lelaku passing over. Berfokus pada tokoh Krisna, dia menyelami samudera agama Hindu untuk mengambil mutiara kearifan yang dikandungnya. Dengan mutiara kearifan ini, Ria menyaksikan lanskap agama Islam dengan pandangan yang lebih segar dan lebih sejuk, tentu juga lebih terbuka dan rendah hati.

Ria lalu menuturkan hasil perjumpaan intelektualnya dengan tokoh Krisna dalam sebuah esai reflektif. Esai ini dapat Anda baca dalam Manusia Langit, buku filsafat yang baru saja diterbitkan MJS Press. Selain artikel Ria yang membicarakan Krisna, Manusia Langit juga menghidangkan esai Zulhamdani tentang Isa, esai Lingga Fajar tentang Zarathustra, dan sebuah esai tentang Semar. Empat tokoh itu adalah representasi dari empat kepercayaan yang berbeda. Krisna merepresentasikan agama Hindu. Isa/Yesus merepresentasikan agama Kristen. Zarathustra merepresentasikan agama Zoroaster/Majusi. Dan Semar mengisyaratkan keyakinan para penganut Kejawen.

Tim penulis Manusia Langit menjalani passing over dengan bimbingan ahli. Sebelum ditulis, topik Manusia Langit sudah diulas dalam kuliah Pak Fahruddin Faiz, pengasuh dan pengisi pengajian filsafat yang secara rutin diselenggarakan Masjid Jendral Sudirman Colombo, Yogyakarta. Tim penulis kemudian mendalami rekaman pengajian tersebut.

Di samping memburu referensi yang relevan, mereka juga melakukan usaha-usaha lain untuk mendalami bahan tulisan. Ada yang membolak-balik lembaran kitab suci agama lain. Ada yang lebih mengakrabi dan mesahabati pemeluk kepercayaan lain. Ada yang mengunjungi rumah ibadah agama lain. Ada yang mengikuti acara keagamaan umat agama lain tanpa meninggalkan dan menyurutkan iman pribadi. Ada yang menziarahi makam tokoh penganut keyakinan lain. Selama proses kreatif ini, lelaku passing over berlangsung secara alami, jujur, terbuka, dan dewasa. Buahnya adalah esai-esai reflektif yang terhimpun dalam buku Manusia Langit.

Pihak penerbit dengan terbuka menyatakan bahwa Manusia Langit dipersembahkan untuk Ria Fitriani. Dia begitu menginginkan terbitnya buku ini. Memang Manusia Langit akhirnya terbit tetapi Ria tak sempat melihat kelahirannya. Dia meninggal sebelum Manusia Langit terbit. Umurnya masih 20-an.

Seperti Dara Shikoh dan Amir Hamzah, Ria juga meninggal pada usia muda. Ria juga muslim. Ria juga berupaya mengenali dan menyelami Hindu. Dan Ria juga mengenalkan Hindu kepada khalayak luas. Melalui karyanya masing-masing, secara tak langsung mereka sama mengingatkan: umat lintas agama mesti senantiasa hidup berdampingan dalam harmoni. Bhineka tunggal ika.

NB: Informasi lebih lanjut tentang buku Manusia Langit, silakan hubungi Mas Mas’ud (087833801659) atau Mas Wahid (085643020481).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here