tubanjogja.org – Anna Zakiyah Darajad

Surat yang Dikirim Dari Selatan

/1/
Pagi ini, ada satu kertas dalam amplop putih
yang sengaja kutitipkan pada Kantor Pos di pinggiran jalan kota
Gemuruh kendaraan mengiringi perjalanan sunyi
untuk dapat menyampaikannya tanpa perlu bertatap muka

/2/
Kutulis surat ini
Kala datangnya gemercik gerimis
Seperti bunyi rintihan isak tangis
yang gaib, entah dari mana asalnya
Wahai dik Ani, aku sungguh merindukanmu

/3/
Kutulis surat ini
Kala matahari cemberut dan angin mendesah
Seolah mengeluh saat keadaan cerah tak lagi nampak
Kemudian langit menangis di antara dendangan tambur yang menggelitik

/4/
Dik Ani,
Inilah surat yang kukirim dari selatan
Ketika seribu malaikat turun untuk mendoakan
Di kala kukatakan
Akan kupinang kau menjadi istriku
Dan hujan mengaminkan tetapi Tuhan tidak menakdirkan

Yogyakarta, 2018.

Baca juga: Surat Cinta untuk yang Telah Tiada

Jawaban Surat dari Utara

/1/
Siang hari, terdengar suara ketukan pintu yang berulang
Menandakan ada yang ingin berkunjung atau sekedar menyampaikan kabar
Ternyata benar,
Sosok berseragam oranye datang menyapa

/2/
Kudapati satu amplop putih
Yang bersih dan tak lusuh
Tercium bau harum darinya
Seperti bebauan cinta yang mempesona

/3/
Mas Wirosetro yang baik.
Surat yang kau kirimkan sudah kuterima
Kukira amplop putih yang kau kirimkan adalah kabar baik
Seperti senja yang warnanya kemerah-merahan dengan sempurna
Lengkap dengan debur ombak dan bau laut yang khas
Tetapi ternyata, kau menuliskannya di bawah langit yang menangis
dan matahari yang cemberut
Apakah itu pertanda buruk mas?
Aku pun tahu mas,
Ketika kau menuliskan paragraf per paragraf
Dengan gemuruh hati yang mendesah
Sementara aku yang di kejauhan menggeliat gelisah

/4/
Mas Wirosetro yang baik.
Inilah jawaban dari suratmu yang lalu
Aku tak menyukai langit cemberut yang kau suguhkan
Sekalipun kita tahu takdir tak akan berpihak
Dan hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan

Ketika dua makhluk menjadi siluet
Tanpa kehadiran gerimis yang kau sebutkan
Dan keduanya menyatu dalam kegelapan
Keindahan yang terpancar adalah kepastian untuk diselesaikan
Dunia ini fana, Mas.
Namun manusia masih saja memburu bahagia
walau Tuhan tak lagi berkata “Iya”

/5/
Takdir yang kejam bukanlah berarti hitam, sunyi dan kelam
yang membentang sepanjang kau berdiri
di antara gemercik gerimis yang kau katakana
Waktu mengubah segalanya tanpa sisa
Dan uluran tangan Tuhan menentukan rupa-rupanya
dengan cara yang kini ada di muka
Seperti itulah dunia kita mesti berakhir

Yogyakarta, 2018.

Anna Zakiyah Darajad
Anna Zakiyah Darajad

Anna Zakiyah Derajat, lahir di Bogor 02 Februari 1997, Jawa Barat. Mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan bergiat di Teater Eska, PMII RCC, Arabic Debate of Al-Motayat, IMATA, GPAN Yogyakarta, Relawan Hamada Foundation. Menulis puisi, cerpen, dan essay. Domisili Sapen Yogyakarta. Beberapa kali telah menjuarai  lomba menulis puisi diantaranya juara 2 Festival Pujangga Nasional, juara 3 Festival Literasi UHAMKA, Juara 1 Festival Literasi Gradasi, Juara 1 Festival Literasi Nasional Aksara Aurora, Juara 1 lomba cipta puisi Nasional Aksara Aurora, Juara 2 Festival Literasi Jawa Barat, Juara 2 Lomba Esai se-Jawa Tengah, Kontributor penulis ASEAN, kontributor penulis nasional di Penerbit Aksara Aurora, Kontributor penulis Nasional di FAM-Indonesia, Kontributor di Geotimes, kontributor Penulis Puisi Bersama UIN SUKA Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Buku Antologi Pertama berjudul Anzilny. pernah diterbitkan di Jangkar Nusantara, dan beberapa puisinya dimuat di media online maupun cetak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here