Hafiz – Membaca tulisan Muhammad Fathur Rozaq di kolom Islami.co, Bom Waktu Tayangan Hafiz Televisi, rasanya mirip naik kora-kora di Sekaten Yogyakarta. Seru nan menggairahkan. Belum lagi saat membaca komentar yang bermunculan. Persis seperti melihat orang-orang di samping-depanku yang berteriak ketakutan saat kora-kora mulai naik tinggi. Pokoknya asik.

Diamati dari salah satu hadis yang Kak Rozaq kutip—seputar betapa di antara banyak penghafal Alquran, ada beberapa yang hafalannya tidak sampai melebihi kerongkongan—sebetulnya yang ingin Kak Rozak sampaikan sederhana. Adalah bagaimana ketika kita bicara Alquran, maka itu tidak saja soal membaca, memahami, dan kemudian membiasakan dalam laku. Tapi, ia juga menyangkut apa itu yang oleh Anne Gade (2010) disebut sebagai the reality of Qur’an. Berakhlak Alquran.

Bagaimana itu? Tidak menjadikan Alquran sebagai tunggangan untuk populer! Begitulah yang diilustrasikan Kak Rozaq. Jika diseret ke ruang lebih lebar, orang bisa menilai bahwa praktik seperti “menepati janji”, “berwudlu sebelum menyentuh gawai yang terpasang aplikasi Alqurannya”, “tidak menyakiti perasaan tetangga”, “memasang kaligrafi di kos supaya ingat tatkala berduaan dengan si dia”, dan sebagainya jugalah merupakan bagian integral dari berakhlak qurani.

Baca juga: Lebih baik Menepati Janji Buka Bersama ketimbang Tarawih

Walhasil, sampailah Kak Rozak pada kesimpulan jika yang terjadi di lingkaran hafiz televisi sama sekali tidak menyentuh sisi barusan. Yang ada justru sebaliknya. Yang ditonjolkan justru bagian dramanya yang dangkal. Dan di waktu bersamaan, kedangkalan tersebutlah yang berpotensi besar menjelma bibit unggul lahirnya Ibn Muljam-Ibn Muljam baru di pelataran Nusantara. (Sampai di sini, maafkan saya jika terkesan hanya mengulang)

Menuju wacana pembacaan Alquran

Namun, ada satu yang dilewatkan Kak Rozak. Entah. Mungkin efek kopinya yang terlalu manis. Yaitu posisi lomba hafiz itu sendiri. Terlalu terburu-buru, kukira, ketika melihat hafiz televisi sebagai suatu entitas yang bermandikan drama dan kedangkalan semata. Apa pasal? Ada tiga alasan. Pertama, sebab hafiz televisi termasuk bagian dari festival keagamaan yang berperan paling nyata untuk memberi penghargaan bagi mereka yang sudah sudi meluangkan banyak waktunya demi Alquran.

Baca: Ikhlas tak lagi Soal Pasrah pada Allah

Kata “mereka” yang kumaksud di sini tentu tidak saja anak yang mengikuti lomba, tapi juga kedua orang tuanya. Kita bayangkan saja, untuk konteks hari ini—ketika banyak mak-mak lebih suka bermanja ria dengan Facebooknya—seberapa banyak orang tua di Indonesia yang mau telaten mengajari sang anak mencintai Alquran? Hayo. Saya yakin tidak banyak, apalagi kalau mau main banding-bandingan.

Kedua, hafiz televisi adalah simpul dari penguatan praksis Islam dan inklusivitas Muslim. Pertama tentang bagaimana mengenalkan praktik Islam dalam skala yang lebih luas, terutama daerah tertentu yang terpencil dan jarang tersentuh informasi keislaman. Adapun yang terakhir berjumbuh dengan kenyataan jika peserta hafiz televisi rupa-rupanya berasal dari kalangan beragam. Anak dari siapa pun boleh ikut. Anak normal boleh, anak yang kurang normal (difabel) pun boleh. Tepat di garis ini, saya teringat Alana, salah satu hafiz Indonesia 2017 asli Banjarnegara yang sejak lahir divonis gangguan syaraf. Pernah nyaris meninggal ketika baru lahir, hingga akhirnya berhasil ikut meramaikan festival menghafal Alquran Indonesia.

Baca: Pacarku Memintaku Membelikan Buku ‘Pacarku memintaku menjadi matahari’ Untuknya

Ketiga, karena hafiz televisi, jika diamati lebih intim, mengandung unsur transmisi. Transmisi dari mereka yang “bisa dan mau” menuju mereka yang “ingin belajar”. Ketika para hafiz tampil di panggung, kita tidak pernah tahu, apa yang senyatanya terjadi antara mereka dengan para penonton. Sangat mungkin, ketika hal di muka berlangsung yang ada adalah relasi guru-murid, terutama bagi penonton dari daerah pelosok yang untuk menemukan hal demikian susahnya minta maaf. Bernapas sejenak di sini, potret beginilah kiranya yang oleh Rasmussen (2010) diistilahkan sebagai collective experience of the Quran—jadi tidak sebatas pengalaman pribadi.

Kalau aspek transformasi? Tidak gampang untuk membuktikan. Namun, jika boleh meminjam kesimpulan Ricklefs, seperti dikutip Rasmussen, hal semacam hafiz televisi bukanlah apa pun kecuali bentuk lanjut dari Islamisasi di Indonesia sejak 8 abad silam.

Baca: Ini Perkara Nyawa! Jangan Sibuk Mengaitkan

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa fenomena hafiz televisi, pada sisi lain, justru merupakan wasilah yang mendasar untuk memupuk realitas qurani di Indonesia. Yaitu media tempat beragam orang bisa belajar serta berpartisipasi dalam keberagamaan Nusantara. Sebagaimana mereka mampu membumikan segala yang berhubungan dengan Alquran—mulai dari istikamah membacanya dan melagukannya—di waktu bersamaan, lewat berpartisipasi dalam hafiz televisi, mereka juga sudah membidani lahirnya adik bayi yang boleh kita beri nama “wacana pembacaan Alquran di Indonesia”.

Bagaimana dengan tesis Kak Rozaq? Tetaplah ia menjadi kora-kora. Masih seksi dan menggoda. Apalagi barusan kita habis membahas soal wacana. Jelas, ia sungguh sesuai untuk menjadi baby sitter adik bayi kita tadi. Selamat ber-lailatul qadar, kak. Huehuehue.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here