Kematian Mesin Penggiling

Tidur adalah caraku ketika bosan dengan dunia ini.
Lalu kembali bersedih ketika terbangun, karena harus mendengar suara-suara mesin penggiling.

Adakah yang lebih mulia selain menunggu kematian?
Sepertinya menunggu jodoh tidaklah lebih mulia.

Aku ingin sekali mengenal kematian lebih dalam.
Andai saja bisa, aku ingin bersamanya setiap hari.
Lalu kubisikan kepada teman-temanku yang suka membunyikan mesin penggiling itu
“Aku adalah kematianmu”
Seperti itu kiranya.

2018, Yogyakarta.

Bukan Perang

Satu, dua, tiga, dorrr!
Temanku tertawa
Ikat kakinya, lempar dia ke sungai!
Temanku tertawa
Telanjangi saja!
Temanku tertawa
Hati-hati, jangan sampai lepas lagi, tembak saja kakinya
Temanku tertawa lebih keras

Sungai itu sudah kotor
Temanku murung
Sudah tidak ada suara pistol-pistolan lagi karena bambu sudah ditebang habis
Temanku bersedih
Temanku membawa pulang ember kosong
Aku menangis
Lagi-lagi kematian datang, tanpa bebunyian meriam.
“Temanku,” panggilku.

2018,Yogyakarta

Aku Dan Bekicot

Aku ingin membicarakan kematian ini dengan bekicot
Binatang mungil yang lemah dan lambat

Di suatu tempat yang becek dan bau
Aku akan menghormati dia lebih dari menghormati bangsaku
Karena aku tahu aku juga manusia yang lemah dan lambat
Tinggal di tempat yang bahkan lebih menjijikan
Lalu kita mendapat kesimpulan;
Kita adalah makhluk yang lemah dan lambat, mana mungkin kita bisa lari dari kematian.

2018, Yogyakarta

Pengarang  Dan Binatang Jalang

Adakah binatang jalang yang mau menemaniku dalam kesunyian
Menyanyikan lagu-lagu sedih dengan nada gembira
Si miskin menari-nari, si kaya berlari-lari
Si pengikut kebingunangan
Si pengarang terus mengarang
Oh, binatang jalang itu sudah bosan menemaniku
Bosan menyanyikan lagu-lagu gembira bernada sedih
Si miskin berhenti menari, si kaya sudah pergi
Si pengikut menemukan kematiannya
Si pengarang menghilang

2018, Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here