Sajak AA Yasir; Melarung Kenangan

0

1

Puan..
Adalah engkau, mata dan hatiku seketika teduh.
Telah terhampar ribuan bait untukmu,
menjelma ilalang dipadang safana senyummu.
Tetaplah berjalan dan terus berjuang,
sesungguhnya tuhan telah menetapkan
dan takkan menyalahi janji pada hamba-Nya

Jika resah dan lelah menyapamu,
duduklah dan istirahatlah dengan damai.
Jangan sampai hal seremeh senja berselimut mendung
membuatmu hancur dan lebur.
Karena senja tetaplah senja beserta siluetnya,
tersimpan dalam memoriam indah diujung ingatanmu.

Taukah kau puan..
Seandainya, Tuhan membukakan jalan untukku.
Akan kutampar segala keributan, kulibas duri-duri tajam dan segala jenis batu yang menghalau kaki penuh darah ini menuju rumahmu.

Supaya engkau mengisahkan yang kaurasakan,
agar aku memahami yang terjadi saat ini.
Meskipun sekedar menghilangkan resah batinmu,
dan ketenangan menyelimuti jiwamu.

Aku memang bukan sebuah kepastian,
tapi akan kupastikan mawarku tetap mekar,
dengan aroman cinta yang membius semesta raya.

2

Pada relung malam,
sepasang kekasih memadu cerita dalam perjalanan.
Dentuman jam pun tak menyudutkan asah mereka untuk terus berjuang.

Sebuah jalinan asmara yang penuh kebijaksanaan,
bagaimana tidak. Telah ribuan cercaan dan tangisan telah habis mereka tuntaskan.

Sang rembulanpun terharu menapaki setiap jengkal ratapan mereka berdua, akhirnya Tuhan menghadiahkan cahaya keromantisan dibawah payung keharmonisan malam bertabur senyum berbintang.

Mereka bermunajat untuk sepasang kekasih itu, berharap kemesraan itu akan tetap abadi sampai tuhan memanggil untuk kembali.

Tuhan..
Jagalah sepasang merpati itu, aku tau engkau mendengarkan doaku dan kawan-kawan malamku.
Karena yang berawal dari hati akan tetap berarti hingga ajal menghampiri.

3

Aku telah menjelaskan kiasan-kiasan yang terbentuk dari kerasnya ombak permohonan,
dan masalahnya pendosa sepertiku selalu berharap,
memilikimu untuk satiap waktu adalah kepastian yang nyata.

Hanya saja lihatlah diriku sekarang,
terkapar diujung sore dimana engkau tancapkan tombak rindu yang terdalam.
Senyum yang menjadi siluet duniaku,
rasa yang merona jingga disetiap sudut semestaku.

Melupakan dan membinasakan ingatanku terhadapmu adalah kebiadaban yang sangat kejam bagiku,
egois memanglah serpihan perjuangan sebuah cinta,
namun membuatmu terus berdarah-darah adalah sama hukumnya melupakanmu.

Izinkanlah aku selalu bermunajat kepadamu kasih,
biarlah sakit hati ini berlalang buana melintasi setiap samudera hingga suatu pagi tiba disebuah dergama.

Dipertemukan oleh cahaya harapan pagi,
menerangi celah-celah kegelapan sanubari,
hingga akhirnya pagi itu menjadikanku kembali pada jati diriku yang murni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here