Resepsi Dangkal Al-Qur’an Melahirkan Radikalisme – Peristiwa teror berupa ledakan bom, penembakan dengan senjata api maupun penyerangan berbekal pisau dan pedang seakan menjadi fenomena “rutin”  di tanah air maupun di belahan dunia lain pada abad milenial ini. Menurut analisis beberapa pakar,  penyebab aksi teror keompok radikal tersebut  cukup beragam mulai dari persoalan kesenjangan ekonomi, minimnya akses pendidikan juga faktor ideologi. Apapun itu, menurut hemat penulis faktor ideologilah yang mendominasi mengapa sesorang tergerak melakukan aksi  teror.  Berbicara tentang ideologi tentu tidak lepas dari kemampuan resepsi  sesorang atas agamanya (Qur’an). Jenis Resepsi atas Qur’an kemudian memunculkan bentuk performasi yang bermacam-macam mulai dari yang mengedepankan ajar agama dengan kelembutan, kasih sayang dan empati hingga sebaliknya memunculkan aksi-aksi yang cenderung keras bahkan brutal terhadap kehidupan dan kemanusiaan pada umumnya.

Resepsi atas Qur’an secara garis besar dapat diaktegorikan dalam tiga tipe: pertama, resepsi teks yang kemudian memunculkan performasi dalam penerjemahan, penafsiran serta penakwilan atas ayat-ayat Qur’an. Kedua, resepsi sosial-budaya yang melahirkan performasi semaan Qur’an, tahilan, istighosah, nyadran, tradisi sekaten di Jogja dan Solo, termasuk praktek penyembuhan melalui rukyah  dan lain sebagainya. Ketiga, resepsi seni yang melahirkan karya seni seperti kaligrafi, puisi dan juga tilawatil Qur’an dan sebagainya.  Memang ada sebagian kalangan dalam Islam sendiri  yang menganggap bahwa resepsi sosial-budaya khususnya, berpotensi untuk ‘menyimpang’ dari ajaran Islam atau dalam bahasa populernya adalah bid’ah. Namun untuk menjatuhkan stigma bid’ah tentunya tidaklah serta merta atau sembarangan. Diperlukan kajian mendalam atas suatu fenomena atau performasi sosial-budaya yang ada. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya adalah bentuk alkulturasi budaya (tradisi) yang ada dengan ajaran agama Islam.  Hal ini untuk megnhindari hal yang bersifat kontraproduktif semisal kekerasan, keacauan di masyarakat tanpa kemudian mengabaikan begitu saja potensi munculnya penyimpangan atas akidah Islam.

Resepsi teks yang menghasilkan performasi penerjemahan, penafsiran dan penakwilan atas ayat-ayat Qur’an merupakan uapaya manusia memahami firman Tuhan , dan itu merupakan suatu keniscayaan. Tanpa teks suci sanagtah sulit manusia ‘menemukan’ Tuhan-nya dalam rangka menuju dan menempuh ‘jalan yang benar’. Oleh karenanya perlu piranti tertentu yang bermanfaat dalam memahami firman Tuhan tersebut secara tepat. Piranti tersebut berupa akal-budi. Akal  atau yang mempunyai ranah kognitif pun mempunyai berbagai dimensi. Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa proses berfikir itu sejatinya juga melibatkan budi (ranah afektif). Banyak ayat-ayat Quran yang menyuruh manusia untuk berfikir. Kata berfikir yang dalam bahasa Indonesia bermakna tunggal, beda dengan bahasa Arab,  cukup banyak varian makna berfikir pada ayat-ayat dalam Qur’an. Menurut Quraish Shihab, berfikir dalam Qur’an setidaknya meliputi beberapa istilah seperti:

  1. Aqala yang bermakna daya untuk memahami sesuatu, sebagai dorongan moral untuk menambil hikmah.
  2. Nazara yang diartikan proses berpikir dengan melihat melalui kepala sendiri atas objek yang dipikirkan.
  3. Fakkara yang diartikan proses berpikir secara berulang-ulang dalam rangka menggali sesuatu secara hakiki.
  4. Dhakkara yakni proses berfikir yang diawali dengan mengingat, memperhatikan dan mempelajari sesuatu.
  5. Dabbara yaitu proses berfikir secara sistematis, kritis.
  6. Fahima yaitu proses berfikir yang mendalam dengan mamasukkan unsur intuitif.
  7. Faqiha yakni mempelajari sesuatu tidak cukup dengan akal tapi juga dengan budi.
  8. ’Alima yang merupakan proses berfikir melalui tahapan pengajaran guna mendapatkan makna sejati. Kedelapan kosakata Arab yang berbeda tersebut kemudian diterjemahkan dalam satu makna tunggal (berfikir).

Dampak pendangkalan makna ‘berfikir’ tersebut terindikasi  menuju  ranah kognitif saja.  Tentu saja ini menjadi dangkal. Hasinya dapat ditebak yakni resepsi agama (Qur’an) yang melahirkan performasi (tindakan) yang cenderung kaku, dogmatis bahkan radikal. Oleh Karena itu -berbasis pada perintah berfikir yang seharudnya multi makna di atas- maka resepsi Qur’an tidak hanya melulu pada ranah teks secara dangkal atau harfiah, namun perlu menyertakan ranah resepsi sosial-budaya dan seni. Hal ini untuk ‘menghaluskan’ kecenderungan performasi yang kaku, dogmatis bahkan radikal itu tadi. Sebenarnya para pemuka agaman pendahulu seperti Walisongo telah melakukan respsi  Qur’an secara terintegrasi (teks, sosial-budaya dan seni) sedemikian sehingga melahirkan performasi yang santun, manusiawi dan damai.

Diketahui bersama bahwa  bagaimana Walisongo bersyi’ar Islam secara luwes yakni dengan tidak serta merta menghilangkan tradisi (budaya) lokal yang sudah ada, namun justru mengakomodir tradisi tersebut sekaligus melakukan desakralisasi terhadap hal-hal yang berpotensi membahayakan akidah. Mereka menyebarkan agama Islam dengan ‘berfikir’ dalam pengertian multi makna yakni menggunakan hati,  melalui respsi sosial-budaya dan seni alhasil penyebaran Islam di Nusantara dapat berkembang secara berbudaya dan tanpa kekerasan. Kalau ditarik jauh ke balakang pada masa Rasulullah pun telah ada orang-oarang yang cenderung bersikap radikal. Dikisahkan seseorang bernama Dzil Kuwaisir yang dengan sembrononya melakukan protes dan bahkan  menuduh  Rasulullah tidak bersikap adil gara-gara yang bersangkutan tidak menerima pampasan perang. Hal serupa terjadi juga pada masa kekalifahan Ai bin Abi Thalib yang mana ada sekelompok orang yakni kaum Khawarij yang ahli menghafal Qur’an serta rajin melaksanakan puasa sunah tapi sampai hati membunuh Ali. Terbukti hingga saat ini selalu muncul saja sekelompok orang  radikal yang beraku bengis dan kejam sebagaimana Dzil Kuwaisir dan kaum Khawarij tadi.

Digambarkan oleh Rasullullah –kaum radikalis itu-  sebagai orang-orang yang membaca Qur’an hanya sampai kerongkongan. Dipahami bahwa ‘sampai kerongkongan’ berarti tidak sampai ke dada (ke hati) yang artinya resepsi mereka atas Qur’an (ajaran Islam) sebatas ranah koqnitif (resepsi teks yang dangkal) tanpa melibatkan ranah afektif (hati, resepsi sosial-budaya dan seni) atau ‘berfikir’ yang multi makna akan berujung pada  performasi yang kaku, dogmatis dan radikal.  Wallahualambishawab.

Resepsi Dangkal Al-Qur'an Melahirkan Radikalisme

Penulis “Resepsi Dangkal Al-Qur’an Melahirkan Radikalisme” bernama Ajar Permono bermukim di Jogja dan banyak berkecimpung di oragnisasi sosial-kemasyarakatan. Latar belakang pendidikan beragam yakni Teknik Kimia, Manajemen dan Studi Islam. Penulis sangat berminat di bidang sosial keagamaan. Saat ini penulis sedang kuliah di S2 UIN konsentrasi Hermeneutika al-Quran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here