Hadis Korupsi – Kami masih di masjid, mendengarkan bimbingan rutin bakda magrib yang diberikan pengasuh asrama. Dari jauh, terdengar suara sepeda motor Vespa. “Pak Teddy datang, Pak Teddy datang,” bisik-bisik sejumlah santri.

“Pak Teddy” adalah panggilan nakal kami untuk salah seorang kiai senior yang mengajar kami. Nama sebenarnya: Murtadhi Aziz. Kendaraan andalannya adalah Vespa yang itu-itu juga. Kami sudah hapal dengan suara knalpotnya yang khas.
Pak Teddy termasuk ulama yang disepuhkan di Jambi walaupun tidak amat terkenal. Dia ahli fikih dan usulfikih. Pak Teddy belajar di Nurul Iman saat pesantren legendaris di Jambi itu sedang mengalami masa keemasan. Barangkali Nurul Iman selegendaris Tebuireng di Jawa Timur, Krapyak di Yogyakarta, atau Buntet di tatar Sunda.

Di asrama kami, pada jadwal belajar siang hari, Pak Teddy mengampu tiga mata pelajaran: fikih, usulfikih, dan ilmu tafsir al-Quran. Semuanya mata pelajaran berat, serius, dan bergengsi. Pada jadwal belajar malam hari, dia menguraikan kandungan kitab tafsir Jalalain.

Malam itu, bakda magrib itu, Pak Teddy akan mengajar Jalalain di kelas kami. Dan seperti biasa, dia datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Dia selalu masuk kelas sebelum para santri masuk. Selalu menunggu santri dan tidak mau ditunggu santrinya. Itulah keistikamahan beliau. Itulah kekeramatan beliau. Itulah keteladanan beliau yang hingga kini masih membekas di hati saya.

Dari Pak Teddy, yang masih membekas di hati saya bukan hanya keistikamahan dan keteladanan beliau sebagai guru. Saya pun masih mengenang pesan yang berkali-kali beliau ucapkan. Pak Teddy, dalam berbagai mata pelajaran, sering mengutip sebuah hadis pendek: al-rasyi wa al-murtasyi fi al-nar. Artinya, yang menyuap dan yang disuap sama-sama masuk neraka.

Dulu, saat masih belajar di asrama, saya hanya memahami “arti” hadis tersebut. Lama—lama sekali—setelah lulus dari asrama, saya baru menangkap “makna”-nya. Ada konteks sosial kenapa Pak Teddy sering mengutip hadis korupsi tersebut. Beliau tidak pernah “membuka” konteks ini kepada kami. Saya melihat sikap merahasiakan itu sebagai tanda kearifan dan bukti kealimannya.

Mengapa Pak Teddy sering mengutip hadis korupsi tersebut? Amat memprihatinkan, menyedihkan, tetapi juga menjengkelkan: di Jambi, korupsi telah menjadi norma sosial. Korupsi memang dipikirkan sebagai dosa dan kejahatan tetapi dipraktikkan sebagai kelaziman, bahkan kadangkala sebagai keharusan. Pada taraf gagasan dan wacana, korupsi haram. Tapi dalam realitas sehari-hari, ternyata ada tiga opsi hukum korupsi: mubah, sunah, dan wajib.

Karena telah jadi norma sosial, orang sulit untuk hidup dan bekerja secara bersih, sulit pula untuk mengelak dari perangkap korupsi. Karena itu, di Jambi, mencari rezeki yang halal benar-benar merupakan jihad. Mencari rezeki halal adalah perlawanan sunyi terhadap kebudayaan arus utama.

Dalam jihad itu, banyak mujahid yang gugur sebagai syahid. Tapi, jumlah mujahid yang melakukan disersi karena mengalami demoralisasi lebih banyak lagi. Pelaku disersi meliputi beragam profesi. Guru dan ulama juga terlibat dalam skandal tersebut. Segelintir ulama munafik—meminjam ungkapan al-Ghazali—mengetuk pintu penguasa untuk memperoleh dunia. Mereka memperjualbelikan simbolisme dan formalisme agama demi kepentingan pribadi.

Akibatnya, penguasa menyetir ulama. Politik praktis yang culas dan curang memimpin agama. Agama menjadi kuda troya kekuasaan. Penguasa berjalan melenggang hampir tanpa kritik. Korban yang dirugikan, yang dizalimi, jelas rakyat kecil. Di Jambi—pasti karena sempitnya wawasan dan pergaulan saya—saya belum menemukan ulama yang gigih, setia, dan tulus membela orang kecil. Agama dan kemanusiaan, ibadah ritual dan pelayanan sosial, seolah-olah tak saling berkaitan sedikit pun.

Hal ini terjadi bukan semata-mata karena penyakit moral yang menimpa segelintir ulama. Sebab, banyak—kalau bukan kebanyakan—ulama Jambi berperan sebagai pengawal moral yang demikian tangguh dan berintegritas. Bila direnungkan dengan jernih, di provinsi yang religius itu, keterputusan relasi agama dan kemanusiaan berakar pada teologi skolastik yang pernah dipelajari dan terus-menerus diajarkan para ulama. Dalam teologi ini, iman tidak bercakap-cakap secara arif dengan tantangan sosial. Tuhan serasa bersemayam jauh sekali dari sejarah manusia. Di dalam masjid dan di luar masjid sudah merupakan dua dunia yang berbeda.

Keimanan, juga keislaman, tidak serta-merta mewujud dalam bentuk amal saleh kemanusiaan yang membebaskan. Rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah, hari akhir, para rasul, para malaikat, kitab-kitab suci, serta qadha dan qadar, tidak segera terejawantah dalam kehidupan sosial sebagai ideologi penggerak dan pengarah. Iman memang berdakwah dan berfatwa tetapi belum secara paripurna menggerakan, mengorientasikan, dan membebaskan. Rukun islam yang lima, yaitu syahadat, salat, puasa Ramadan, zakat, dan haji, dimengerti secara ritualistik dan fikihiah belaka, belum ditelusuri dan dihayati makna sosial, politik, ekonomi, dan budayanya.

Karena berambisi menjelaskan Tuhan secara rasional dan mengajarkan hukum agama secara teknis dan mekanis, teologi skolastik justru menjauhkan rasa ketuhanan dari kehidupan sosial sehari-hari. Teologi skolastik memang berhasil membela Tuhan dengan pedang logika. Namun, jihad apologetik itu telah pula “berhasil” menceraikan ketuhanan dan kemanusiaan.

Dampaknya, sebagaimana tampak dalam kehidupan sosial umat Islam di Jambi, muncul barisan muslim yang sarat paradoks: saleh secara ritual tetapi bejat secara kemanusiaan, ahli agama tetapi juga ahli membodohi rakyat dan mencuri anggaran daerah, pintar berdalil saat berdakwah tetapi sekaligus pintar berdalih bila ketahuan korupsi. Ada pejabat yang rajin salat berjamaah di masjid dan telah naik haji. Tapi ajaibnya, dia juga menjalankan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) secara istikamah tanpa merasa malu dan bersalah.

Baca juga: Al-Quran Sebagai Basis Literasi Agama

Barangkali, itulah konteks sosial keagamaan mengapa Pak Teddy sering mengutip hadis korupsi. Beliau tidak ingin kami, kalau kelak ditugasi menjadi pembimbing agama bagi umat, “meneladani” jejak ulama munafik yang sikap kesehariannya menghalalkan korupsi, yang memperalat teologi skolastik sebagai legitimasi dan argumentasi perilaku koruptif. Dengan caranya sendiri, Pak Teddy berjuang memutus rantai-neraka generasi korup. Beliau sedang mendidik generasi baru yang bersih dan berintegritas.

Apakah ucapan dan tindakan beliau sejalan? Saya merasa tak berwenang dan berkapasitas menghakimi orang lain, apalagi orang lain itu adalah Pak Teddy. Saya hanya yakin, ucapan dan tindakan Pak Teddy bukan pencitraan. Teman-teman saya, sebagai santrinya, menghormati beliau dengan tulus dan amat takzim, meskipun beliau sendiri tidak mau dihormati secara berlebihan. Hanya sekali Pak Teddy bersedia kami cium tangannya saat bersalaman. Itu terjadi sebelum kami lulus dari asrama.

Kebanyakan teman masih dengan jelas mengingat pesan beliau. Saya pun masih mengingat makna pesan-pesan Pak Teddy. Entah kenapa, di antara mayoritas guru yang ucapannya hambar dan tak membekas di hati, selalu ada guru seperti Pak Teddy yang nasihatnya tertancap kokoh dalam lubuk hati. Semoga Pak Murtadhi Aziz selalu dalam naungan cinta-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here