Terbakar dalam Cacian

0
Terbakar dalam Cacian

Oleh: A.A. Yasir

1

Jika yang telah gugur masih kauperselisihkan,
Bakarlah diriku dalam cacianmu,
Bungkuslah abuku dalam sampah kebencianmu,
Luapkanlah seluruh amarah dan nafsu membunuhmu.

Sampai aku mati…
Mati dalam segala kedengkian,
membusuk, menghidupi belatung-belatung harapan.

Ketahuilah…
Semua akan lupa pada tabiatnya masing-masing, dan pada waktunya semua akan ingat pada hakikatnya masing-masing.

Dan sebelum jiwa ini musnah,
Izinkan mataku terpejam sebentar saja
Aku sudah capek menanggung rindu sendirian,
yang selalu di salahkan dan engkau diamkan

Biarkan aku terlelap dalam munajatku
Dan engkau berdamailah, berdamailah, berdamailah…

2

Masih banyak kata
beberapa rangkaian kalimat
dan sebongkah cinta berkarat
tapi, aku tau itu sia-sia
Bagimu, hanya membuat risih jika kujelaskan

Aku kira dirimu telah memiliki sebuah istana, di sana
Dengan aturannya, musim yang berguguran beserta tetekbengeknya
Dan pastinya engkau; takkan memikirkan sebatang mayat menjijikkan yang tersangkut diujung tebing kehancuran sore itu

Naas, tiba-tiba engkau datang melabrak dengan segala sabda-sabda yang belum engkau ajukan kebenarannya padaku
Engaku tarik jiwaku lalu kaubuang dengan acuh,
tanpa satu kata perpisahan keluar dari bibirmu itu

Ah Sudahlah,
Jiwaku memang berlebihan
Sepertinya mayat sepertiku ini hanya butuh tidur,
tidur panjang di bulan syawal

3

Telah kulewati setiap rintik hujan di kota ini,
belum semuanya, tapi pasti aku menyaksikannya
Menikmati malam dengan serpihan dingin yang berguguran, memangkul segala rasa bersalah dan segala pengampunan

Kuingin mengajakmu duduk, bersimpuh luruh tandas meresapi basah tanah tertimbun embun
Menikmati aromanya, membuatku pilu kala aromamu hanya sebatas tertempel pada sajadah di kamarku

Kemilau lampu jalanan berbinar bintang dan rembulan
Celoteh jalanan memadu kisah kehidupan,
menggoreskan luka duka dan canda tawa

Tepat apa yang telah kita jalani,
segala sembilu selalu tuntas kita hadapi
Sekalipun ada yang tersayat meneteskan luka,
namun bukan pertanda akhir dari segalanya

Semua hanyalah sapaan, sebelum yang pasti menjadi saksi kita mampu menjalani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here