Beo itu Bernama Intelektual

0
Beo itu Bernama Intelektual
Suber gambar dari: Carlos Quevedo

Dalam mitologi Yunani Kuno, tergambar pertentangan yang tidak sederhana antara dewa (langit) dan manusia (bumi). Yang diperebutkan adalah kuasa atas alam semesta. Karena beda level, tentu manusia tidak pernah menjumpai kemenangan.

Akibatnya, mereka tidak bisa berkuasa atas alam, bahkan atas dirinya sendiri. Nuansa yang lahir murni ketundukan. Segalanya usai diatur. Ada dewa laut, sungai, rezeki, dewa jodoh, kematian, dan sebagainya.

Dalam kondisi sendu seperti itu, sebagian manusia mulai merenungkan dua hal: kecerdasan dan kesadaran. “Mungkin dengannya, kita bisa menang dan berkuasa atas diti kita sendiri, su!” Begitu gerutu mereka.

Cerita mitos di muka, kita sadari atau tidak, merupakan titik pijak (point of departure) dari humanisme Barat. Mulai Politzer sampai Marx memilih untuk memercayainya begitu saja sebagai kenyataan dan kemudian menyamakan para dewa dengan Yesus, Ahuramazda, Allah, dan semacamnya.

Kemudian, pada perkembangannya, humanisme digunakan untuk membangun pergerakan sejenis Liberalisme, Marxisme, dan Eksistensialisme. Ketiganya mengakui bahwa merekalah yang paling humanis.

Pun, lebih jenakanya, kita di sini (Indonesia) justru memilih jadi beo atas mereka dan begitu saja menganggap agama leluhur (dalam pengertian tertentu) sebagai benalu. Begitu saja menggunakan kerangka mereka untuk menghakimi masyarakat, begitu saja—ini yang lebih menggemaskan—menyerap bahasa mereka biar keren (padahal fenomenanya tidak pernah ada di Indonesia), dan begitusaja-begitusaja yg lain. Huh, dasar.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here