Presisi

0
Presisi
Sumber: http://ummatuna.blogspot.com

Kesenian zaman dulu identik dengan presisi, dan presisi dianggap gambaran semesta. Presisi menunjukkan bahwa sesuatu itu harmoni dalam gerak semesta. Sehingga, zaman dulu nuansa kosmologis dalam tiap jenis kesenian sangat kental. Di jagat pesantren, suatu institusi pendidikan yang sangat tua di Nusantara, presisi itu nampak dalam sekujur keseniannya. Sebut saja pada nadhom, atau seni kaligrafi.

Namun, presisi juga bermakna kekakuan, yang menjerumuskan orang dalam bentuk ketimbang makna. Orang modern (khalaf) nampak alergi dengan itu, sehingga kesenian modern punya kecenderungan menabrak presisi, dan menggeser nuansa kosmologis ke antroposentris. Sebut saja puisi “Aku” Chairil, yang memberontak, baik dalam makna atau bentuknya. Kaligrafi kontemporer juga demikian. Tiap kaligraf punya kebebasan untuk membentuk jenis hurufnya sendiri, lepas dari “jeratan presisi” jenis khat seperti Diwanii, Tsuluts, Riq’i, apalagi Naskhi.

Pendeknya, orang dulu (Salaf) mencari makna dalam keharmonisan semesta, sebagaimana pengejaran mereka atas presisi, orang modern mencari makna dalam “kedirian” manusia, sebagaimana pemberontakan mereka atas presisi untuk menunjukkan ke”aku”annya sebagai manusia. Dua-duanya punya jebakan, sehingga kita dituntut waspada meniti jembatan sempit antara jurang kekakuan dan keakuan.

Sak bejo-bejone wong kang lali, iseh bejo wong kang eling lan waspada, begitu wasiat Ronggowarsito.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here